Walter Samuel, Manis yang Bukan untuk Chelsea

Cerita

by Redaksi 43

Redaksi 43

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Walter Samuel, Manis yang Bukan untuk Chelsea

April 2003, AS Roma mengonfirmasi ketertarikan Chelsea terhadap Walter Samuel, salah satu pemain andalan mereka. Sang pemain belakang dalam beberapa kesempatan pernah menyatakan ketertarikannya bermain di Premier League, namun hingga kini itu tak pernah terjadi. Tak akan pernah, malah, karena Samuel yang sekarang bermain untuk FC Basel akan pensiun di akhir musim ini.

Terlepas dari ketertarikan Chelsea, Samuel tetap di Roma walau pada akhirnya (baca: setahun setelahnya) ia pergi. Dari ibu kota Italia, Samuel pindah ke ibu kota Spanyol untuk membela Real Madrid per musim 2004/2005. Di awal musim yang sama, José Mourinho terbang dari negara Semenanjung Iberia lainnya, Portugal, ke Inggris. Sejarah pun batal mencatat kebersamaan Mourinho dan Samuel di Chelsea. Sesuatu yang, andai terjadi, akan manis untuk Chelsea. Yang terjadi di Internazionale pada musim 2009/2010 memperkuat asumsi liar ini.

Kebersamaan Samuel dengan Madrid yang tidak berjalan manis menyimpan hikmah tersendiri. Semusim saja di Spanyol, Samuel kembali ke Italia. Bukan ke Roma, melainkan ke Milan. Samuel yang sudah empat musim bermain di Serie A tidak membutuhhkan usaha ekstra untuk beradaptasi dan langsung menjadi pemain inti di bawah arahan Roberto Mancini hingga yang bersangkutan meninggalkan Inter untuk Manchester City. Hanya cedera dan larangan bertanding yang membuat Samuel tidak bermain.

Sebagai pengganti Mancini, Inter mendatangkan Mourinho. Datangnya Mourinho ke Inter melengkapi skenario yang pada 2004 batal terjadi: Mourinho menangani tim tempat Samuel sudah berada sebelum dirinya bergabung. Walau demikian, skenario lain bukan tak mungkin terjadi. Selalu ada kemungkinan terdepak bagi pemain mana pun jika manajer/pelatih kepala baru datang. Terlebih lagi, Samuel sudah tidak muda. Ia sudah berkepala tiga.

Samuel hanya bermain dalam 17 pertandingan Serie A di musim pertama Mourinho. Menambahkan jumlah pertandingan Champions League dan Coppa Italia di musim yang sama hanya membuat catatan tersebut terlihat lebih buruk karena Samuel hanya bermain dalam masing-masing satu pertandingan di kejuaraan tersebut. Ketika Mourinho memutuskan untuk mendatangkan Lúcio dari Bayern München pada 2009/2010, dapat dimengerti jika Samuel merasa khawatir terhadap masa depannya. Yang sudah buruk bisa semakin buruk. Nyatanya sebaliknya. Musim kedua Mourinho menjadi musim terbaik sepanjang karier Samuel.

Dalam taktik Mourinho di Inter musim 2009/2010, bahkan fullback pun lebih dekat dengan sifat disiplin ketimbang ekspresif. Jika para pemain yang normalnya membagi konsentrasi antara menyerang dan bertahan saja harus lebih defensif ketimbang ofensif, maka bek tengah harus lebih defensif dari defensif. Juga harus memiliki perhitungan matang. Dan itulah Samuel pada dasarnya.

Saya secara pribadi mengagumi penjelasan singkat David Pleat mengenai taktik Inter-nya Mourinho dalam kemenangan melawan Bayern di final Champions League 2009/2010: “Ketika bertahan, para pemain Mourinho berpengalaman, dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi dalam pasangan bek tengah yang bermain di kedalaman, Walter Samuel yang keras tackle-nya, Lúcio yang tinggi dan percaya diri, dan Júlio César sang penjaga gawang yang terlindungi. Maicon dan Christian Chivu di peran fullback tidak dianjurkan untuk menunjukkan ambisi, diprogram untuk menjaga bentuk pertahanan dan tidak mengorbankan sehelai rumput pun di luar area yang menjadi tanggung jawab para bek tengah.”

Inter keluar sebagai juara setelah menang berkat dua gol Diego Milito. Champions League, bagi Samuel, adalah prestasi kolektif yang paling bergengsi sepanjang kariernya. Manisnya kemenangan di Santiago Bernabéu – tempatnya tidak menemui kesuksesan bersama Madrid, sang pemilik stadion itu sendiri – terasa semakin manis karena itu berarti Samuel mengangkat tiga piala dalam satu musim yang sama. Sebagai tambahan untuk treble (Serie A, Coppa Italia, dan Champions League) ini, Samuel meraih penghargaan pemain belakang terbaik Serie A tahun 2010 dan menjadi nominee di FIFA FIFPro World XI. Musim 2009/10 adalah, bagi Samuel, musim terbaik sepanjang kariernya.

Bagi Mourinho sendiri, gelar juara Champions League bersama Inter adalah keberhasilan pertamanya di kejuaraan yang pertama dan terakhir kali ia menangi saat masih menangani FC Porto. Ia meraih keberhasilan tersebut dengan mengandalkan serangan balik yang mendasarkan dirinya pada pertahanan yang amat tangguh, yang di dalamnya terdapat Samuel. Andai Samuel sudah tersedia ketika Mourinho menangani Chelsea, mungkin ia tak perlu menunggu selama itu untuk mengangkat trofi Champions League lagi.

Mungkin.

ed: fva

Komentar