Newcastle United Masa Gitu?

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Newcastle United Masa Gitu?

Oleh: Rahman Fauzi*
Betapa sulit memahami bagaimana Newcastle United bisa mengarungi Liga Primer Inggris musim ini dengan sangat buruk. Mereka terseok-seok di palung klasemen. Berada di peringkat ke-19 dengan koleksi 25 poin, tertinggal lima angka dari Norwich yang berada di batas aman degradasi. Mengherankan.

Newcastle belanja pemain jor-joran di jendela transfer musim ini. Situs Transfermarkt mencatat tidak kurang uang sebesar 52,6 juta poundsterling The Magpies belanjakan untuk pemain baru pada musim panas.

Ada Georginio Wijnaldum yang membawa PSV Eindhoven juara Eredivisie 2014/2015. Lalu pemuda 20 tahun bernama Aleksandar Mitrovic yang diangkut dari Anderlecht dengan trofi juara Liga Belgia 2014/2015 plus gelar pencetak gol terbanyak di kantungnya. Newcastle memenangkan persaingan mendapatkan pemain berjuluk “The New Balotelli” yang juga diincar Tottenham Hotspur dan Liverpool. Disusul Florian Thauvin dari Marseille. Dia pemain sayap potensial yang turut memainkan peran krusial membawa Perancis juara Piala Dunia U-20 2013 bersama Paul Pogba dan Geoffrey Kondogbia.

Uang sebesar itu membuat mereka menjadi tim ketiga paling royal di bursa transfer awal musim, hanya kalah dari Manchester City dan Manchester United. Sekaligus membungkam cercaan sinis yang selama ini ditujukan ke pemilik klub, Mike Ashley karena dinilai terlalu pelit. Newcastle di bawah kuasanya, dikeluhkan sebagai tim yang doyan pinjam pemain ke sana-sini dan malah menjual pemain kunci. Dengan kebijakan transfer semacam itu, mereka seakan sukses menjejalkan uang tepat di mulut para penceracau.

Optimisme awal musim menjadi-jadi berkat kehadiran pelatih anyar Steve McClaren. McClaren datang setelah terakhir kali berkarier di Liga Primer bersama Middlesbrough satu dekade silam. Dia orang yang membawa Boro, julukan Middlesbrough menjuarai Piala Liga 2003/2004 dan menjadi finalis Piala UEFA 2005/2006. Dia juga orang Inggris yang memberi trofi Eredivise pertama untuk FC Twente pada musim 2009/2010. Wow, luar biasa. McClaren juga pelatih yang gagal membawa Inggris lolos Piala Eropa 2008 dan babak belur saat berkarier di Wolfsburg, Nottingham Forest, kembali ke Twente, dan Derby County. Wow.

McClaren sesumbar membawa peruntungan bagi Newcastle. Target mereka minimal berada di delapan besar Liga Primer. Paling terdengar manis, menjanjikan trofi datang ke St. James’ Park yang puasa gelar di level top selama 46 tahun sejak terakhir kali juara Piala Fairs 1969.

“Saya diberi hak istimewa menjadi pelatih kepala Newcastle United, ini klub besar dengan warisan hebat. Saya sudah memenangkan beberapa trofi sebagai manajer dan tim sekelas Newcastle semestinya memenangkan piala dan finis di delapan besar Liga Primer,” cerocos McClaren di awal musim, seperti dikutip dari The Guardian.

Lalu apa yang terjadi saudara-saudara? Di Piala FA The Magpies terjungkal kepagian setelah tumbang 0-1 dari Watford di babak ketiga turnamen. Di Piala Capital One, mereka dibikin malu Sheffield Wednesday 0-1 di hadapan publik sendiri, juga di babak ketiga turnamen. Sementara di Liga Primer, mereka konsisten berada di sekitaran posisi 17 sampai 20 sejak pekan keempat.

Kiprah Daaryl Janmaat cs., saat diasuh McClaren sebetulnya meninggalkan catatan-catatan menarik. Kontribusi duo pemain mahal, Wijnaldum dan Mitrovic pun beberapa kali memberi poin untuk mereka.

Mereka dapat menundukkan Liverpool di pekan ke-15 dan memaksa Juergen Klopp menerima kekalahan kedua sebagai pelatih The Reds. Mereka sempat pula mengingatkan seperti apa rasanya kalah kepada Tottenham yang ditekuk 2-1 di White Hart Lane, setelah empat belas pekan Lilywhites tidak menyapa kekalahan. Mereka juga pernah menggilas Norwich 6-2 dengan torehan empat gol Wijnaldum.

Sudah begitu, Newcastle tidak gagap mengikuti tren zaman Liga Primer musim ini. Mereka kalah dari Swansea di pekan kedua yang saat itu memang sedang berada dalam tren positif awal musim Garry Monk sebelum dipecat. Mereka juga enggan ketinggalan untuk ikut-ikutan kalah dari sensasi terbaik musim ini, Leicester City. Dua kali mereka membuktikan kalau performa Leicester bukan kebetulan. Kalah 0-3 pada pertemuan pertama di kandang, lalu keok 0-1 saat Leicester gemar menang dengan skor tersebut dari pekan ke-29 sampai pekan ke-32.

Saat Chelsea berada dalam tren tidak terkalahkan setelah Guus Hiddink datang, mereka dengan berbaik hati kalah 1-5. Tanpa sungkan, mereka memeragakan permainan menyerang dan memasang garis pertahanan tinggi di Stamford Bridge. Skor ajaib 3-3 yang lazim terjadi musim ini, mereka yang punya inisiatif menciptakan tren. Hasil 3-3 versus Manchester United di pekan ke-21 menjadi bukti sahih. Sekalipun terseok-seok, Newcastle tetap kekinian karena pandai menciptakan dan mengikuti tren.

Sudah kaya raya dan kekinian, Newcastle gemar melawak pula. Newcastle memahami jika komedi terbaik adalah menertawakan kekeliruan diri sendiri, sedangkan yang terburuk adalah menertawakan kekurangan orang lain. Selain fakta-fakta yang dipaparkan di atas, ada lagi kenyataan kalau Newcastle amat lucu untuk sebuah tim bertradisi kuat sekaligus disegani di Inggris.

Seakan tidak puas hanya berada di urutan ketiga sebagai tim terboros pada jendela transfer awal musim, Newcastle mendaulat diri sebagai tim terboros nomor wahid di jendela transfer musim dingin. Mereka mengangkut Jonjo Shelvey (Swansea), Andres Townsend (Spurs), Henri Saivet (Bordeaux), dan Seydou Doumbia (AS Roma, pinjam) dengan ongkos sekitar 29 juta poundsterling.

Uang yang dikeluarkan untuk mengangkut mereka tujuannya jelas, mengangkat posisi tim dari papan bawah. Namun sialnya kehadiran mereka justru hanya membuktikan kalau mereka tidak pandai menggunakan uang. Saat tim butuh pemain yang sesegera mungkin menjadi azimat guna mengelak dari ancaman degradasi, mendatangkan Shelvey dan Townsend jelas membuat penggemar terheran-heran. Shelvey susah sekali menjumpai konsistensi dalam kariernya, sementara Townsend hanya pemain yang tidak lagi dibutuhkan Mauricio Pochettino di Spurs.

Sektor pertahanan yang bermasalah sepanjang musim tidak dibenahi. Kiper utama, Tim Krul, sejak awal dipastikan cedera sampai musim tuntas. Mereka hanya mengandalkan Rob Elliot yang di paruh musim kedua juga dipastikan cedera hingga enam bulan. Praktis mereka mesti berjuang di zona merah dengan kiper ketiga, Karl Darlow yang masih hijau mentas di Liga Primer.

Belum lagi duo bek tengah andalan yang masih saja dihuni Fabricio Coloccini dan Steven Taylor. Usia keduanya yang tidak lagi muda menjadi titik lemah yang kentara. Mereka masih saja mengandalkan pasangan bek yang sama saat tim mengalami degradasi musim 2008-09. Kemasukan 61 gol sejauh ini menjadi catatan terburuk kedua di liga setelah Aston Villa.

Saat Newcastle getol mengeluarkan uang, mereka menggunakannya dengan sangat buruk. Jika manuver transfer mereka adalah premis dan kepayahan mereka di liga adalah punchline, maka jadilah sebuah humor. Sebuah humor yang gelap.

Ah iya, McClaren sempat pula membawa anak asuhnya melakukan pemusatan latihan di komplek olahraga bintang lima La Manga di Spanyol sehabis dihajar Chelsea. Tujuannya jelas, memberi ketenangan supaya bisa tampil prima kembali. Di sana mereka juga sempat uji tanding dengan klub Norwegia, Lillestrom. Saat itu memang tidak ada jadwal liga, karena babak perdelapan final Piala FA bergulir.

Newcastle tentu tidak perlu sibuk-sibuk mengalokasikan dana, tenaga, dan pikiran hanya untuk refreshing di komplek olahraga mewah seandainya mereka tidak tersingkir kepagian di Piala FA. Kemenangan 2-1 dari Lillestrom, tentu juga tidak menghasilkan tiga angka pendongkrak posisi di klasemen. Penyegaran yang diharapkan datang sangat tidak signifikan karena kemudian mereka kalah 0-1 dari Stoke dan 1-3 dari Bournemouth. Hasil yang mengakhiri karier McClaren di St. James’ Park.

Kemudian Rafael Benitez diamanahkan menjadi manajer sekaligus mempertaruhkan reputasinya. Sejak pemecatan McClaren sampai kendali tim dipegang Benitez saat ini, banyak kabar luar biasa absurd datang dari Toon Army. Sebelum digilas Bournemouth, tersiar kabar beberapa pemain tidak mau dilatih McClaren lagi dan berharap McClaren dipecat. Sesuatu yang akhirnya menjadi kenyataan.

Tidak sampai di sana, Mike Ashley baru-baru ini mengungkapkan dia menyesal membeli Newcastle. Segala yang dia lakukan tidak pernah berjalan semulus dia mengelola perusahaan perlengkapan olahraga miliknya, Sports Direct. Meski demikian dia tetap berikrar setia, sekalipun hal apes bisa terjadi di akhir musim.

“Apakah saya menyesal masuk ke bidang sepakbola? Jawabannya, ya. Saya punya banyak kesenangan di sini, tapi saya belum mampu membuat perbedaan yang saya inginkan seperti yang saya lakukan di Sports Direct. Saya ingin membantu Newcastle, saya ingin membuat lebih baik. Saya tampaknya belum memiliki efek tersebut,” ratap Ashley.

Ketika digilas Southampton 1-3 pekan lalu, Chronicle Live menyebut terjadi adu mulut antarpemain saat jeda antarbabak. Ruang ganti yang penuh emosi negatif, membuat dua jari Daaryl Janmaat patah karena ikut marah-marah. Semua terkesan semakin buruk dan terdengar konyol.

Sampai-sampai pula, pemain muda semacam Jamaal Lascalles blak-blakan bicara di media tentang apa yang terjadi di timnya. Dia menyebut tim diisi pemain tanpa karakter kuat yang mampu peduli dan merangkul satu sama lain. Tidak ada semangat berjuang dan hasrat kuat mengangkat tim.

“Kami pernah memiliki Steve McClaren yang merupakan pelatih luar biasa. Sekarang kami memiliki Rafa Benitez yang juga pelatih luar biasa, jadi ini bukan soal itu (kinerja pelatih). Ini tentang para pemain dan kami harus bertanggung jawab,” ujarnya.

Alan Shearer membuat runcing suasana dengan kolomnya di The Sun. Legenda Newcastle ini mengutuk pergerakan transfer sembrono Newcastle. Dia juga menyebut para pemain tidak punya mental bertarung. Lini pertahanan kacau balau, Moussa Sissoko dan Wijnaldum yang jadi poros permainan tidak terasa kehadirannya, sementara Mitrovic kelewat sedikit menyentuh bola. Dia ragu, jika akhirnya nanti degradasi, Newcastle bakal kesulitan kembali ke Liga Primer karena tidak punya pemain ‘berkarakter’ di tim.

Musim memang belum berakhir. Newcastle juga belum dipastikan turun divisi. Masih ada beberapa pekan ke depan sampai akhirnya bisa terlihat bagaimana nasib klub ini. Hanya saja, segala apa yang terjadi begitu menggelitik. Tidak haruslah Newcastle berada di perburuan juara, tapi tidak selayaknya juga tim seperti ini berada dalam ancaman degradasi. Lengkap dengan banyak hal di luar akal sehat.

Tragedi yang Newcastle United hadapi sangat absurd karena dibuat sendiri. Tidak kunjung habis rasanya kata-kata membahas kemediokeran langgeng milik Newcastle. Tidak apalah, toh tragedi jika diberi keterangan masa lampau bisa menjadi komedi.

Namun sialnya, sekarangpun tragedi Newcastle sudah bisa dinikmati. Dengan narasi sebagai sebuah tim besar nan kaya raya, punya pendukung fanatik yang mengisi stadion megah, memiliki daftar pelatih dan pemain legendaris, tapi justru banyak kekonyolan terjadi.

Judul komedinya, “Newcastle United Masa Gitu?”. Bagaimana?


*Penulis adalah mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad. Sedang berusaha menikmati proses belajar membaca dan menulis. Bisa dihubungi lewat akun twitter @oomrahman.
foto: Chroniclelive.co.uk

ed: fva

Komentar