Juventus Mainkan Tempo Lambat, Serangan Barca Tersendat | Pandit Football Indonesia

Juventus Mainkan Tempo Lambat, Serangan Barca Tersendat

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi 110925

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
Banyak nulis sepakbola Indonesia dan Italia.
ardynshufi@gmail.com

Juventus Mainkan Tempo Lambat, Serangan Barca Tersendat

Camp Nou gagal memberikan magis bagi Barcelona untuk kedua kalinya. Jika Paris Saint-Germain bertekuk lutut meski sempat menang 4-0 di leg pertama, Juventus masih tampil perkasa di markas Barcelona yang berkapasitas lebih dari 90 ribu penonton tersebut. Pada leg kedua perempat final Liga Champions 2016/2017, Kamis (20/4) dini hari WIB, Juve mampu menahan imbang Barca 0-0.

Hasil imbang 0-0 tersebut berarti kekalahan bagi Barcelona. Hal ini dikarenakan pada leg pertama mereka kalah 3-0, sehingga Barca gagal melangkah ke babak semifinal. Lebih jauh, Juventus kembali berhasil menunjukkan superioritasnya atas Barcelona.

Jika melihat statistik, Barcelona sebenarnya tampil dominan. Penguasaan bola mereka mencapai 65%. Jumlah tembakan mereka 19 kali (Juve 12 kali). Serangan demi serangan pun terus dilancarkan skuat berjuluk Blaugrana tersebut. Hanya saja, dominasi Barca tak berarti apa-apa bagi Juventus yang mengendalikan permainan.

***

Barcelona menggunakan formasi dasar 4-3-3. Tanpa Javier Mascherano di lini pertahanan, Sergio Busqets kembali menghuni lini tengah, menemani Andres Iniesta dan Ivan Rakitic. Dalam praktiknya, Rakitic rajin bergerak ke sisi kanan, sementara Lionel Messi, yang notabene menempati penyerang sebelah kiri, lebih sering berada di depan kotak penalti layaknya seorang gelandang serang.

Peran Messi pada laga ini menjadi penting karena ia menjadi otak serangan Barcelona. Mayoritas peluang-peluang berbahaya lahir dari pergerakan dan umpan-umpannya. Penyerang asal Argentina ini pun mencatatkan tiga umpan kunci, terbanyak kedua setelah Neymar.

Grafis operan Messi (via: squawka.com)

Selain Messi, Neymar adalah pemain Barca berikutnya yang lebih banyak menguasai bola. Pelatih Barcelona, Luis Enrique, tampaknya menginstruksikan para pemainnya untuk menyerang lewat area bermain Neymar. Kemampuan individu Neymar kemudian menjadi kunci serangan Barca, di mana ia mencatatkan total 20 upaya dribel, dengan 13 kali berhasil.

Hanya saja Juventus punya standar ganda dalam membentuk pola pertahanan. Mereka bermain dengan garis pertahanan rendah. Dalam formasi 4-2-3-1 andalan mereka, seluruh pemain lapangan mereka akan ikut membantu pertahanan (ya, termasuk Gonzalo Higuain).

Setelah itu, para pemain Juventus mempertahankan kerapatan jarak antar pemain. Inilah yang membuat pertama, Barca tak bisa menembus pertahanan Juve dengan aksi individu di tengah, dan kedua mereka lebih banyak mengandalkan umpan silang padahal mereka tak memiliki penyerang yang handal duel udara (akhirnya Enrique memasukkan Paco Alcacer pada babak kedua).

Grafis umpan silang Barcelona (via: squawka.com)

Juventus sendiri memang memperlihatkan lini pertahanan yang kuat nan kokoh. Dari upaya 52 tekel yang dilakukan Juventus, 33 di antaranya merupakan tekel berhasil. Selain itu lini pertahanan Juventus juga mencatatkan 50 sapuan, 21 intersep dan 15 kali blok. Ditambah lagi dengan dari catatan 19 pelanggaran mereka (Barcelona 10 kali) yang merupakan tactical foul. Hanya satu [ralat:dua] kartu kuning yang didapat Juve pada laga ini, salah satunya untuk Sami Khedira yang membuatnya akan absen di laga berikutnya.

Dengan skema pertahanan seperti ini, Barca tak bisa menciptakan peluang terbuka di dalam kotak penalti. Dari sejumlah banyak peluang yang diciptakan Barca, mayoritas selalu ada kumpulan pemain Juventus di depan gawang. Inilah yang mengganggu finisher-finisher serangan Barca sehingga dari 19 tembakan hanya satu tembakan saja yang mengarah ke gawang.

Namun yang paling utama dari skema permainan Juventus adalah bagaimana mereka mengendalikan tempo pertandingan. Ketika Barcelona hendak mengincar banyak gol, mereka memperlambat tempo dengan garis pertahanan rendah dan hanya melakukan upaya merebut bola dengan menunggu momen yang tepat, atau menunggu untuk melakukan intersep.

Tempo lambat sendiri memberikan keuntungan para pemain Juventus khususnya dari segi pertahanan. Ketika alur bola tidak cepat, maka para pemain Juventus bisa menyiapkan stamina untuk terus menghadapi gempuran serangan Barca. Jika bermain dengan tempo cepat, maka para pemain Juventus pun harus lebih banyak berlari mengikuti bola, di mana ini berpotensi mempercepat datangnya kelelahan (yang menentukan konsentrasi) pada setiap pemain. Selain itu tempo cepat juga bisa membuat garis pertahanan Juventus kacau karena harus melakukan transisi dari menyerang ke bertahan dengan cepat. Karenanya dengan tempo lambat, tak heran lini pertahanan Juventus begitu prima hampir di sepanjang pertandingan.

Strategi Juventus sendiri berbeda dengan "parkir bus" yang langsung membuang bola ketika berhasil menghentikan serangan lawan. Setelah mendapatkan bola, Juventus justru bisa mengatur kapan mereka melancarkan serangan balik cepat dan kapan harus men-delay serangan. Di sinilah peran Higuain yang juga ikut membantu pertahanan, tidak sekadar menunggu bola di kotak penalti. Dengan mencatatkan 84% akurasi operan serta menciptakan dua umpan kunci, mantan penyerang Napoli ini memang terlibat banyak dalam serangan balik Juventus.

Grafis umpan Higuain (via: squawka.com)

Lewat skema seperti ini, Juventus berhasil mencatatkan total 12 tembakan pada laga ini dengan empat on target. Sejurus dengan skema serangan balik yang melibatkan Higuain, pemain Juventus yang paling banyak mendapatkan peluang tembakan justru winger kanan mereka, Juan Cuadrado, dengan empat tembakan. Hanya saja winger asal Kolombia tersebut sedang tidak dalam performa terbaiknya karena menyia-nyiakan cukup banyak peluang (selain upaya tembakan, banyak momentum serangan balik Juventus yang hilang dari kakinya).

***

Juventus menyelesaikan tugasnya di Camp Nou dengan baik. Lini pertahanan yang kokoh menjadi kunci bagaimana mereka berhasil menyingkirkan Barcelona. Allegri sendiri tampaknya memang sudah menyiapkan skuatnya untuk bertahan dengan baik selama 90 menit mengingat menjelang akhir pertandingan ia sempat mengubah pola menjadi 3-5-2 saat memasukkan Andrea Barzagli menggantikan Paulo Dybala.

Barcelona pun sebenarnya bukan tanpa perlawanan. Di awal-awal pertandingan mereka mampu ciptakan sejumlah peluang berbahaya. Hanya saja penyelesaian akhir Messi cs. tak seefektif biasanya sehingga hanya mencatatkan satu tembakan mengarah ke gawang. Karenanya tak heran gol yang mereka idam-idamkan pada laga ini tak kunjung datang.

Komentar