Prediksi Klasemen Akhir Liga Primer Inggris | Pandit Football Indonesia

Prediksi Klasemen Akhir Liga Primer Inggris

Analisis

by Dex Glennıza 151260

Dex Glennıza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Prediksi Klasemen Akhir Liga Primer Inggris

Hasil kekalahan Chelsea dengan skor 2-0 dari Manchester United membuat persaingan gelar juara Liga Primer Inggris memanas kembali. Chelsea yang terus berada di puncak klasemen, akhirnya selisih poinnya bisa terpangkas sampai menjadi empat poin saja dibandingkan peringkat kedua, Tottenham Hotspur.

Liga Primer sendiri sudah memasuki pekan ke-34. Ini artinya, hanya tinggal tersisa empat pekan pertandingan lagi.

Secara khusus, Chelsea dan Spurs masih memiliki lima pertandingan Liga Primer dari empat pekan pertandingan tersebut, di mana keduanya akan memainkan dua pertandingan pada pekan ke-37 (atau dalam Fantasy Premier League, hal ini lebih dikenal dengan double gameweek).

Namun, persaingan panas ini bisa saja menjadi ilusi jika kita melihat rangkaian pertandingan yang akan dimainkan oleh kedua kesebelasan, seperti yang bisa dilihat pada tabel di bawah ini:

Dari tabel di atas, kita bisa melihat lawan-lawan Chelsea lebih ringan di atas kertas daripada lawan-lawan Spurs. The Blues hanya harus berhadapan dengan lawan berat yaitu tandang ke Everton. Sementara pertandingan tandang lainnya mereka hanya melawan West Bromwich Albion, yang sudah kalah lima kali dari tujuh pertandingan terakhir mereka.

Selain dua pertandingan itu, kesebelasan asuhan Antonio Conte ini tiga kali bermain di kandang mereka, di Stamford Bridge, melawan Southampton, Middlesbrough, Watford, dan Sunderland di pekan terakhir, yang mungkin saja menjadi pertandingan formalitas karena pada saat itu Sunderland bisa saja sudah dipastikan terdegradasi.

Sementara itu, rangkaian pertandingan Spurs dinilai lebih berat. Mereka hanya bermain dua kali lagi di kandang mereka, di White Hart Lane, itupun harus menghadapi dua kesebelasan yang kuat, Arsenal dan Manchester United.

Sisanya, mereka harus bertandang ke Crystal Palace, West Ham United, Leicester City, dan Hull City di pekan terakhir.

Faktor psikologis akan berpengaruh

Berada di puncak klasemen untuk waktu yang cukup lama, itu membutuhkan kekuatan mental yang besar. Begitu juga dengan tiba-tiba terpeleset menjelang akhir kompetisi, itu menandakan kelemahan mental. Manajer Spurs, Mauricio Pochettino, mungkin berharap banyak untuk Chelsea agar terpeleset.

Jika kita melihat dan percaya akan momentum di sepakbola, momentum tersebut sebenarnya menjadi milik Spurs sekarang. (Baca juga: Momentum di Sepakbola, Antara Mitos dan Sains)

Tottenham terus berhasil memperkecil jarak selisih poin dari 13 poin pada pertengahan Maret, menjadi empat saja pada pertengahan April ini. Mereka berhasil memenangkan tujuh pertandingan terakhir mereka di liga dan juga memenangkan 12 pertandingan terakhir mereka di kandang selama di liga.

Berkebalikan dengan itu, Chelsea justru terus kehilangan poin. Mereka sudah kalah dua kali di Bulan April, serta tidak berhasil meraih satupun clean sheet pada 10 pertandingan terakhir mereka.

Namun di saat momentum lebih memihak Spurs, tidak demikian dengan faktor psikologis lainnya. Pada tabel di atas, Chelsea bermain lima kali lebih awal dibandingkan Tottenham.

Jika Chelsea berhasil menang, maka akan tercipta gap tujuh poin sampai kemudian Spurs bermain. Hal ini akan menimbulkan beban psikologis untuk Spurs. Sebaliknya, jika Spurs bermain dan menang terlebih dahulu, maka selisih poin akan menjadi satu saja, dan ini akan sangat berpengaruh bagi Chelsea.

Sayang sekali bagi Spurs, hal ini tidak akan sering terjadi. Padahal faktor psikologis terbesar akan hadir jika sebuah kesebelasan merasa sedang dikejar.

Akan tetapi, jika kita melihat daftar paling atas di tabel tersebut, kita akan menemukan kedua kesebelasan akan bertemu di pertandingan semi-final Piala FA pada Sabtu akhir pekan ini (22/04).

Siapapun yang menang pada pertandingan tersebut, selain berhak berlaga di final untuk melawan Arsenal atau Manchester City, juga akan mendapatkan keuntungan psikologis tersendiri.

“Jika kita bisa menang (di semi-final Piala FA), itu bisa menaruh sedikit keraguan di pikiran mereka (Chelsea) berkaitan dengan [perburuan gelar juara] Liga Primer,” kata Harry Kane, dikutip dari Sky Sports.

Beberapa faktor yang bisa merugikan Chelsea

Spurs memiliki keunggulan selisih gol atas Chelsea. Dari klasemen sementara setelah pekan ke-33, Spurs dan Chelsea terpaut delapan gol, yaitu Spurs memiliki selisih gol 46, sementara Chelsea 38.

Pochettino berpendapat jika selisih gol ini bisa saja berpengaruh di akhir musim nanti. “Untukku, ya [selisih gol ini akan berpengaruh]. Dan untuk mereka (Chelsea) juga. Itu sangat penting... Jangan pernah menyerah,” kata manajer asal Argentina tersebut.

Kemudian selain selisih gol, satu hal lainnya yang bisa saja merugikan Chelsea adalah faktor cedera.

Tidak diragukan lagi, Chelsea sangat kuat dan konsisten ketika mereka memainkan skema tiga bek mereka. Namun, mereka kekurangan kedalaman skuat untuk memainkannya terus-menerus.

Tidak bermain di kompetisi Eropa membuat mereka sebenarnya tidak terlalu memerlukan kedalaman skuat. Namun, mereka merasakan kerugian itu setidaknya dua kali dalam satu bulan ini.

Pertama, ketika mereka kehilangan Victor Moses, wing-back kanan reguler mereka, Chelsea kemudian dikalahkan oleh Palace. Kemudian ketika mereka kehilangan Marcos Alonso, wing-back kiri reguler mereka, mereka dikalahkan oleh United.

Conte juga harus kehilangan Thiabaut Courtois saat melawan “Setan Merah”. Faktor cedera ini bisa kapan saja menyerang Chelsea di sisa pertandingan mereka. Jika pemain-pemain yang cedera adalah pemain-pemain krusial dalam skema tiga bek seperti kedua wing-back atau N’Golo Kante, Chelsea berpotensi akan kerepotan dan sangat mungkin akan kalah.

Sementara itu, cedera tidak terlalu berpengaruh untuk Spurs. Skuat mereka memang tidak dalam, tapi setidaknya masih lebih dalam daripada Chelsea.

Salah satu yang berpengaruh terhadap faktor cedera adalah kelelahan. Masih dari tabel paling atas, kita bisa melihat Spurs memiliki rata-rata jeda antar pertandingan yang sedikit lebih menguntungkan daripada Chelsea. Rata-rata waktu istirahat Chelsea adalah 4,6 hari dan Spurs 4,8 hari.

Beruturut-turut, Chelsea memiliki jeda antar pertandingan 3 hari, 4 hari, 8 hari, 4 hari, 3 hari, dan 6 hari dari sejak pertandingan semi-final Piala FA sampai ke pekan ke-38. Sementara Spurs adalah 4 hari, 4 hari, 5 hari, 9 hari, 4 hari, dan 3 hari.

Namun dari angka-angka tersebut, kedua kesebelasan sebenarnya memiliki jeda antar pertandingan yang sempit (meskipun Spurs sedikit lebih “unggul”), sehingga faktor cedera bisa saja datang kapanpun bagi kedua kesebelasan.

Prediksi klasemen akhir Liga Primer Inggris 2016/2017

Untuk perebutan gelar juara, kami lebih melihat Chelsea berpeluang menjadi juara alih-alih Tottenham. Namun, Spurs sendiri sebenarnya bisa sedikit bergembira karena kami yakin mereka akan berada di atas Arsenal di akhir musim nanti.

Kemudian, bagaimana dengan prediksi untuk kesebelasan-kesebelasan lainnya. Silakan lanjutkan ke halaman selanjutnya untuk mengetahuinya.

Komentar