Pertandingan Tandang yang Menjadi Budaya | Pandit Football Indonesia

Pertandingan Tandang yang Menjadi Budaya

Cerita

by Frasetya Vady Aditya 7065

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Pertandingan Tandang yang Menjadi Budaya

Jarak tidak pernah menjadi kendala bagi penggemar sepakbola. Pertandingan tandang seperti menjadi ritus bagi mereka sebagai ajang pembuktian soal siapa yang paling setia. Ritus tersebut dikemas secara khusus dengan nama "away day".

Bagi sejumlah negara dan benua, pertandingan tandang menjadi satu hal yang wajib diikuti. Di Inggris misalnya, di mana suporter lawan hampir selalu hadir di semua pertandingan. Pendukung Liverpool yang berada di barat laut Inggris, biasa tandang ke Portsmouth yang terletak di ujung selatan Inggris. Pertandingan tandang seperti menjadi rutinitas dan budaya bagi penggemar sepakbola di Inggris.

Ini juga diakomodasi oleh Federasi Sepakbola Inggris yang bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk "mengamankan" suporter lawan. Salah satunya dengan sistem bubble match yang diterapkan dalam pertandingan yang diprediksi menimbulkan gesekan antar dua suporter. Selain itu, kesebelasan kandang pun selalu mengalokasikan tempat khusus di tribun untuk suporter lawan.

Di Inggris terdapat penghargaan "tuan rumah terbaik" yang dipilih lewat sistem voting setiap tahunnya. Dalam voting, suporter tandang memberikan pendapatnya soal kesebelasan atau stadion mana yang paling baik dalam menjamu tamu.

Bisa dibilang, penggemar yang tinggal di dataran Eropa amat beruntung. Mereka tak perlu pusing bagaimana caranya mencapai stadion di ujung barat Eropa hingga di ujung timur Eropa. Bahkan, untuk kesebelasan Inggris yang terpisah dari dataran Eropa sekalipun.

Penggemar FC Porto yang terletak di ujung barat Eropa, memiliki banyak pilihan moda transportasi untuk mencapai Moskow yang terletak di ujung timur. Meskipun berjarak lebih dari 4 ribu kilometer, tapi mereka masih bisa mencapainya lewat jalan darat, yang ditempuh kira-kira 43 jam. Kalau dianggap terlalu lama, penggemar bisa lewat jalur udara dengan durasi waktu sekitar enam jam.

Dengan cara ini tandang ke manapun bukan lagi sebuah kemustahilan. Jangankan pertandingan tandang di liga, pertandingan tandang antar negara pun biasa mereka lakoni.

Penggemar Al-Ahly (Sumber gambar: dailymail.co.uk)




Ini tentu saja tidak lepas dari infrastruktur transportasi di Eropa, utamanya sistem transportasi publik. Untuk kereta api, sistem tersebut dijalankan oleh Eurail. Perusahaan tersebut menghubungkan sistem transportasi di tiap negara di Eropa dan mengoneksikannya sehingga menjadi terhubung satu sama lain.

Di situsnya, Eurail menawarkan harga 454 euro untuk perjalanan yang mencakup 28 negara di Eropa dengan durasi lima hingga 10 hari. Angka tersebut relatif bisa dijangkau oleh masyarakat Eropa jika melihat standar biaya hidup di Eropa.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Seperti yang kita ketahui, infrastruktur transportasi di Indonesia tidak bisa dibilang istimewa. Pilihan jalan dari satu kota ke kota lain, umumnya terbatas dan hanya mengandalkan jalan nasional. Untuk urusan transportasi, seperti kereta api memang meningkat setiap tahunnya, tapi tetap tidak menjangkau seluruh wilayah di Indonesia. Bahkan, kereta api cuma ada di Jawa dan Sumatera.

Pilihan lewat jalur darat bisa jadi malah mendatangkan bencana. Kaca dilempari batu oleh pendukung lawan, hingga pencegatan di jalan menjadi risiko yang mesti ditanggung oleh pendukung sepakbola di Indonesia.

Untuk jalur udara pun tidak begitu memadai karena hanya mencakup kota-kota besar. Amat jarang, misalnya, penerbangan Bandung-Yogyakarta atau Bandung-Makassar. Penggemar harus menuju kota yang lebih besar, yang menjadi penghubung antar kota di Indonesia (baca: Jakarta).

Akses perjalanan darat pun kerap menemui hambatan. Kontur alam yang tidak rata, membuat jalanan berkelok-kelok, yang tentu saja membuang waktu di perjalanan. Salah satu contohnya adalah perjalanan bobotoh Persib saat akan menyaksikan final di Palembang. Dengan jarak yang "hanya" 743 kilometer, ditempuh dalam waktu 24 jam. Padahal, jika kendaraan dipacu dengan rata-rata 50 kilometer per jam, jarak 700 kilometer bisa ditempuh dalam waktu 15 jam saja.

Tentu perhitungan tersebut mengecualikan waktu yang dihabiskan untuk menunggu ferri di Pelabuhan Merak, hingga memperlambat kendaraan karena jalanan sempit yang berbatasan dengan jurang.

Pembangunan jalan bebas hambatan dengan bentuk jalan yang lurus, sebenarnya bisa mengurangi waktu perjalanan. Perjalanan Bandung-Merak dengan jarak 258 kilometer, sejatinya bisa ditempuh dengan empat jam saja. Dari perhitungan tersebut, semestinya Bandung-Palembang bisa ditempuh dalam waktu 12 jam.

Di luar faktor gesekan dengan suporter lawan, agaknya masih sulit bagi penggemar sepakbola di Indonesia untuk mendukung kesebelasannya saat bermain tandang, kecuali yang masih di sekitar Pulau Jawa. Sulitnya transportasi, membuat biaya perjalanan membengkak.

Jika The Jak Mania ingin mendukung Persija Jakarta di Jayapura, mereka setidaknya memerlukan biaya 2 juta rupiah hanya untuk tiket keberangkatan menggunakan pesawat udara. Belum lagi untuk biaya transportasi dari Bandara Sentani hingga Stadion Mandala Jayapura. Setidaknya, The Jak mesti mengeluarkan biaya lima juta rupiah untuk bisa bertandang ke Jayapura.

Anehnya, biaya ini hampir sama jika pendukung Bali United akan bertandang ke Bangkok menghadapi kompetisi Asia. Biaya perjalanan Bali-Bangkok dibanderol 1,4 juta rupiah, sedangkan Bangkok-Bali dibanderol 2,1 juta rupiah.

Mungkinkah pertandingan tandang menjadi budaya di Indonesia? Hmmm.. Agaknya masih membutuhkan waktu yang lama.



Sumber gambar: standard.co.uk

Komentar