Berjuang Bersama Beckham Melawan Kanker Hingga Nafas Penghabisan | Pandit Football Indonesia

Berjuang Bersama Beckham Melawan Kanker Hingga Nafas Penghabisan

Cerita

by Frasetya Vady Aditya 5856

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Berjuang Bersama Beckham Melawan Kanker Hingga Nafas Penghabisan

Brenda Johnstone menolak permintaan seorang pria yang ingin bicara dengan anaknya, Rebecca, lewat sambungan telepon. Brenda tak ingin seorang pun mengganggu putrinya yang tengah berjuang melawan kanker.

Kala itu, Rebecca masih berusia 19. Ketimbang rekan-rekannya yang lain, Rebecca memiliki minat yang begitu besar terhadap sepakbola. Ia sudah menendang bola sejak masih di sekolah dasar. Rebecca tentu punya idola, yang juga merupakan "idola sejuta umat": David Beckham.

Rebecca mengenal Beckham sejak masih bermain di Manchester United. Ia mengoleksi foto dan segala hal tentang Beckham hingga sang pujaannya hijrah ke Real Madrid.

Di usianya yang masih begitu muda, Rebecca hanya terbaring lemah. Tiga tahun sebelumnya, atau pada 2004, dokter mengatakan tidak ada masalah dengan tahi lalat pada tulang selangkanya (tulang antara dada dengan pundak). Namun, itulah awal mula kanker menyerang tubuh Rebecca.

Rebecca tak lagi memiliki harapan. Kesedihan mengringi rumah keluarga Johnstone karena dokter tak sanggup lagi berbuat apa-apa. Tanpa kehadiran keajaiban, sisa hidup Rebecca tidak lagi dalam hitungan bulan atau minggu, tapi hari.

Rebecca sudah tak bisa lagi beraktivitas dengan normal, sampai suatu ketika ibunya membangunkannya pada suatu malam. Brenda sebenarnya tak tega membangunkan Rebecca yang tengah tertidur pulas, karena itulah waktu bagi dirinya untuk beristirahat dari ganasnya kanker yang menyerangnya.

Semenit lalu, seorang pria dengan aksen Inggris yang kental menelepon kediamannya. Sebelum memperkenalkan dirinya, pria tersebut ingin meminta disambungkan dengan Rebecca. Tentu Brenda menolak karena itu adalah waktu bagi Rebecca beristirahat. Selain itu, Rebecca pun baru menjalani operasi kanker amandel yang semakin membuatnya tidak nyaman.

Karena ditolak, sang penelepon pun dengan sopan menyatakan bahwa ia mengerti dengan kondisi yang terjadi. Ia pun menawarkan untuk menelepon kembali hingga akhirnya sebaris kalimat itu terdengar, "Ini David Beckham." ujar pria di seberang telepon.

Sempat terjadi keheningan beberapa saat, "Huh, kamu bercanda?", tanya Brenda dalam hati. Hingga akhirnya ia sadar kalau itu benar-benar David Beckham, Sang Idola.

Saat dibangunkan, Rebecca tidak dalam kondisi terbaik. Ia mengatakan tak ingin berbicara dengan siapapun; tenggorokannya sakit dan suaranya serak.

Beberapa detik kemudian, wajah Rebecca berubah cerah setelah ibunya menawarkan opsi, "Bagaimana dengan David Beckham?".

Rebecca pun meraih telepon dan menempelkannya ke telinga. Ia tak sanggup menahan air mata yang menetes membasahi pipinya. Suara sang idola membuat semua kesuraman yang menimpa hidupnya seperti hilang untuk sesaat. Awan gelap yang menaunginya saat menjalani pengobatan hilanglah sudah.

Dengan nada yang masih kaku, Rebecca dan Beckham terdengar membicarakan sepakbola. Beckham bicara banyak. Ia menanyakan kabar Rebecca. Beckham pun secara khusus bertanya kalau ia mendengar bahwa Rebecca adalah penggemar beratnya. Di penghujung percakapan, Beckham meminta pada Rebecca untuk terus berhubungan dengannya jika ia butuh sesuatu.

Meski hanya berdurasi empat menit, tapi percakapan tersebut membawa energi positif ke seantero rumah Johnstone. Rebecca seperti memiliki kekuatan baru untuk terus hidup.

Lalu, Beckham tak henti memberikan kejutan. Beberapa waktu kemudian, sebuah paket datang dari Madrid, Spanyol. Paket tersebut berisi kostum Real Madrid dengan nama Beckham di bagian belakangnya, dan tulisan tangan yang bertuliskan "To Rebecca, with Love, David Beckham, 23".

***

Semua keluarga Rebecca menderitakan penderitaan yang sama. Kesedihan dan rasa murung itu melingkupi semua keluarga dan saudara. Bibi Rebecca, Jenny, lalu berinisiatif untuk memberi semangat. Jenny tahu bahwa keponakannya tersebut amat menyukai sepakbola, dan tentu saja David Beckham. Rebecca punya poster besar Beckham yang ditempel di dinding, serta semua buku tentang Beckham yang selalu ia baca.

Rebecca bahkan senang dengan nama panggilannya, "Becca" karena mirip nama sang idola. Teman-temannya bahkan sering mengambahkan huruf "M" di belakang nama panggilang Rebecca. Jenny kemudian mencari cara agar ia bisa meminta Beckham memberi semangat pada keponakannya tersebut. Jenny pun menemukan nomor kontak asisten Beckham yang membuatkan janji untuk menelepon. Meskipun demikian, Jenny tak menaruh harapan besar karena tahu ia sedang meminta seorang superstar.

Ayah Rebecca terkesan dengan sambutan Beckham. Ia mengekspresikan kegembiraannya dan menggambarkan bagaimana kesopanan Beckham yang membuatnya terkesan. Telepon dari Beckhampun dijadikannya sebagai media untuk menyemangati Rebecca untuk sembuh dari penyakitnya. Ia bahkan berjanji untuk mempertemukannya langsung dengan Beckham.

"Aku mengatakan kepadanya, ‘Cepatlah sembuh dan kita akan bertemu Beckham secara langsung," janjinya. Rebecca pun menyetujui janji ayahnya tersebut.

Namun, pertemuan itu tidak pernah benar-benar terwujud, bukan karena Beckham yang tak mau bertemu, tapi karena Rebecca yang tak pernah benar-benar sembuh.

Senin malam, 29 Januari 2007, Rebecca menghembuskan nafas terakhirnya. Meski komunitas masyarakat di sekitar tempat tinggal Rebecca telah memberikan bantuan untuk upaya penyembuhan kanker, tapi apa daya karena ia tak pernah diselamatkan.

Di usianya yang begitu muda, masih banyak harapan yang ingin diraih Rebecca. Namun setidaknya, Beckham telah mengabulkan sebagian harapan di penghujung hidup Rebecca.

Tak lama setelah percakapan telepon tersebut, Beckham memutuskan hijrah ke Amerika; ke negeri tempat Rebecca tinggal. Ia bergabung dengan LA Galaxy yang kemudian menjadi tonggak promosi kompetisi Sepakbola Amerika, MLS.

Disadur dengan perubahan dari tulisan Scott Radley untuk The Star

Komentar