Bosman, Pengemis Bermobil BMW | Pandit Football Indonesia

Bosman, Pengemis Bermobil BMW

Cerita

by Taufik Nur Shidiq 8049

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Bosman, Pengemis Bermobil BMW

Jean-Marc Bosman tidak menang mudah. Ia mengeluarkan banyak biaya, waktu, dan tenaga. Namun lewat itu semua ia meraih kemenangan besar yang mengubah sepakbola dunia dan nasib banyak pemain. Namun hidupnya sendiri tidak menjadi lebih baik karena kemenangan ini. Perlukah ia dikasihani?

Bosman jelas memenangi kasus yang ia perjuangkan, namun tidak meraih tujuan yang berusaha ia capai. Bosman memperjuangkan kasus untuk memperbaiki nasib pemain sepakbola dunia adalah cerita kepahlawanan palsu; ia memperjuangkan kasusnya agar dapat membebaskan diri dari Standar Liège, untuk mendapat gaji yang lebih besar di kesebelasan lain.

"Saya dijadikan tawanan oleh kesebelasan," ujar Bosman berkisah, "Saya berada di akhir kontrak saya di Liège. Mereka menawari saya kontrak seharga empat kali lebih rendah dari kontrak sebelumnya, dan mereka baru mau melepas saya ke Dunkirk jika mendapat kompensasi empat kali lebih besar dari biaya yang mereka keluarkan ketika mereka merekrut saya. Dengan kata lain, mereka merasa saya menjadi empat kali lebih baik jika saya pergi dan empat kali lebih buruk jika saya bertahan dengan mereka. Saya tidak menerima prosedur ini, yang saya rasa sepenuhnya ilegal. Saya dihukum federasi sepakbola Belgia karena saya menolak menandatangani kontrak. Namun jika saya tidak menandatangani kontrak saya tetap milik Liège dan saya tidak menerima itu. Saya melewatkan kesempatan untuk mendapat penghasilan yang lebih besar di kesebelasan lain."

Apa yang Bosman dapat dari kemenangannya tidak sepadan dengan apa yang ia keluarkan. Banyak hal terambil darinya, termasuk senyuman. Hidupnya tidak serta merta menjadi lebih baik setelah mengalahkan Liège lewat jalur hukum. Setelah perjuangan melawan ketidakadilan, Bosman berjuang melawan kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol. Pertarungan panjang membuatnya depresi. Ditambah lagi: orang-orang mengingat namanya, namun tidak jasanya.

"Saya rasa ada pemain yang mendapat bayaran sangat besar – baguslah," ujar Bosman, "Ada beberapa yang mendapat 300 ribu sepekan, beberapa lainnya kurang dari itu, namun di Inggris banyak pemain yang mendapat bayaran besar. Saya, sementara itu, tidak mendapat apa-apa. Sekarang saya sudah meninggalkan semua yang terjadi. Karena di masa lalu saya mendapat banyak janji namun tidak mendapat apa-apa. Saya bangga (terhadap Aturan Bosman) karena orang-orang masih akan membicarakannya dalam beberapa tahun ke depan, mungkin bahkan setelah saya meninggal 20 atau 30 lalu atau entahlah. Mungkin mereka akan setidaknya merasa perlu berterima kasih kepada saya."

Bosman pamrih. Nggak asik, memang, tapi tidak apa-apa. Ia berhak merasa pantas mendapat terima kasih dari nyaris setiap pemain yang sekarang menjalani hidup yang mudah dan relatif bebas. Yang menyebalkan dari Bosman bukan pamrih, tapi kebiasannya mengemis. Bosman bahkan sempat melakukan kekerasan rumah tangga terhadap kekasih dan putrinya dan dituntut hukuman penjara satu tahun karenanya.

Dari kemenangannya Bosman mendapat kompensasi sebesar 720 ribu pound sterling. Menurut klaim The Guardian, Bosman juga hidup berkecukupan dengan dua rumah, yang salah satunya ia sewakan dan satu lainnya--lengkap dengan kolam renang--ia tinggali. Bosman mengendarai sebuah BMW. FIFPro, federasi internasional para pemain sepakbola profesional, menghargai perjuangan Bosman dengan sejumlah uang untuk membantu Bosman membiayai hidupnya. Bosman menerimanya. Ia pantas menerimanya. Yang tidak pantas ia lakukan adalah kembali dan terus kembali untuk meminta lebih dari FIFPro hingga FIFPro akhirnya tidak tahan lagi dengan kelakuan Bosman. Bosman pantas pamrih, namun menjadi pengemis?

Lain hal, kemenangan Bosman dan Aturan Bosman yang lahir darinya juga meninggalkan efek buruk. Para pemain memiliki kuasa yang lebih besar dari pengendalian diri mereka sendiri. Para pemain dapat meminta kenaikan gaji yang signifikan dengan ancaman Aturan Bosman; jika tidak dipenuhi, mereka tidak akan memperpanjang kontrak dan akan meninggalkan kesebelasan saat kontraknya habis – dengan itu kesebelasan tidak mendapat apa-apa. Mengenai ini Bosman menyalahkan UEFA.

"Hasil (dari Aturan Bosman) adalah sekarang 25 – atau sekitar jumlah itu – kesebelasan terkaya merekrut pemain dengan jumlah biaya transfer yang sangat besar dan kesebelasan-kesebelasan kecil tidak dapat merekrut pemain dengan jumlah yang sama," ujar Bosman, "Jadi 25 kesebelasan tersebut menjauh dari kesebelasan-kesebelasan lain, memperdalam celah antara kesebelasan besar dan kecil. Bukan itu tujuan Aturan Bosman, ini terjadi karena ulah UEFA dan apa yang kesebelasan-kesebelasan lakukan."

Benar memang Bosman telah mengubah sepakbola. Ia pahlawan bagi beberapa. Namun sekarang ia tidak lebih dari sekedar pengemis pamrih yang haus sumbangan dan pujian.

Komentar