Perjalanan Panjang Persebaya Menuju Rumah | Pandit Football Indonesia

Perjalanan Panjang Persebaya Menuju Rumah

Cerita

by Randy Aprialdi 10688

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Perjalanan Panjang Persebaya Menuju Rumah

Yakinlah bahwa pengorbanan dan perjuangan dengan kekuatan besar itu ada hasilnya. Surabaya, selalu penuh dengan perjuangan sejak era penjajahan. Peristiwa 10 November adalah salah satunya. Waktu itu terjadi peperangan pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, menjadi pertempuran terbesar dalam sejarah revolusi nasional negara ini.

Peristiwa itu menjadi salah satu simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. Pada waktu itu jugalah 10 November dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia sampai sekarang. Kemudian 10 November dijadikan nama sebuah stadion sepakbola di Surabaya yang semula bernama Stadion Tambaksari sejak 1951 silam.

Stadion Gelora 10 November pun menjadi rumah bagi Persebaya Surabaya) dan para pendukungnya yang dikenal dengan nama Bonek sejak 66 tahun silam. Setiap Persebaya bertanding, stadion berkapasitas 35.000 penonton itu selalu penuh sesak oleh Bonek dengan atribut bewarna hijaunya.

Tapi Gelora 10 November tak bersuara tiga tahun belakangan. Ini terjadi karena Persebaya yang dinaungi PT Persebaya Indonesia tidak diakui PSSI pada Kongres Luar Biasa (KLB) 2013. PSSI lebih mengakui gugatan yang diajukan PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) sebagai Persebaya yang asli. Padahal Bonek lebih tahu mana Persebaya yang asli. Bagi mereka, Persebaya yang dinaungi PT Persebaya Indonesia adalah kesebelasan asli dari Surabaya. Kesebelasan yang sedikitnya sudah mendapatkan tujuh gelar di sepakbola Indonesia. Bukan Persebaya versi PT MMIB yang asal muasalnya adalah Persikubar Kutai Barat.

Sejak penghapusan paksa di KLB 2013 itulah Bonek tahu bahwa semangat kepahlawanan rakyat Surabaya harus diperjuangkan kembali untuk merebut kemerdekaan mereka menyaksikan sepakbola yang asli dan seharusnya.

"Surabaya itu banyak simbol-simbol perjuangan di sana. Artinya, temen-temen itu ada kesadaran yang memang perlu dimunculkan bahwa saya tinggal di Surabaya. Tinggal di kota pahlawan dan kota yang seharusnya berjuang dan tidak boleh ditundukkan siapapun. Saya dan temen-temen membangun kesadaran lewat simbol-simbol itu. Bahwa Surabaya, Bonek itu harus berjuang, harus melawan, itu memudahkan pergerakan kita sampai sekarang," ujar Andie Peci, selaku juru bicara Arek Bonek 1927 ketika ditemui di GOR Padjajaran Bandung.

Waktunya Membangkitkan Heroisme

Sebelum penghapusan paksa di KLB, aksi demonstrasi Bonek dimulai dari belasan orang di Taman Bungkul Surabaya pada 2010 lalu. Aksi itu dilandasi karena gagalnya pertandingan-pertandingan Persebaya menghadapi Persik Kediri di Stadion Brawijaya karena berbagai alasan keamanan. Bahkan sampai ada rencana digelar pertandingan di luar pulau. Padahal laga itu sangat menentukan bagi tiga kesebelasan yang berada di jurang degradasi Indonesia Super League (ISL) 2009/2010, yaitu Persebaya, Persik dan Pelita Jaya Karawang.

Tapi rencana pertandingan di luar pulau malah urung terjadi karena Persik dinyatakan tidak sanggup menggelar pertandingan terlebih dahulu. Pertandingan tersebut dianggap walk out. Sepatutnya, kesebelasan yang tidak mampu menggelar pertandingan dan dianggap walk out, lawan dianggap menang dengan skor 3-0. Sementara Persebaya yang menjadi kesebelasan tamu saat itu tidak dianggap menang walk out. Alhasil, Persebaya tidak mendapatkan poin dan justru Pelita Jaya yang unggul tiga poin di klasemen berhak mendapatkan tiket play-off degradasi. Pada pertandingan play-off itulah Pelita mengalahkan Persiram Raja Ampat dan berhak bertahan di ISL selanjutnya.

Persebaya pun harus degradasi pada akhir ISL 2009/2010. Hasil itulah yang membuat Persebaya dan Bonek kecewa, sehingga menarik diri dari ISL dan bergabung dengan Liga Primer Indonesia (LPI) 2011/2012 saat adanya dualisme federasi Indonesia. Persebaya merasa ada penzaliman secara sistemik oleh PSSI kepada mereka pada waktu itu.

Tapi keputusan Persebaya itu dianggap pengkhianatan oleh PSSI yang menaungi ISL. Kemudian lahirlah Persebaya baru di kompetisi PSSI musim selanjutnya agar ada perwakilan dari Surabaya. Tujuan lainnya yaitu untuk menggantikan kepergian Persebaya ke LPI. Sejak saat itu, Persebaya menambah angka 1927, yang merupakan tahun kelahiran mereka.

Sementara itu, lahirnya Persebaya baru berawal dari Persikubar yang diboyong ke Surabaya oleh Wisnu Wardhana, ketua DPRD Surabaya pada waktu itu. Persikubar yang menjadi Persebaya itu berada di bawah naungan PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) dan menjadi wakil resmi Surabaya di liga resmi PSSI. PT MMIB sendiri sebenarnya tidak bergerak di bidang olahraga, melainkan properti.

Sementara Persebaya asli yang berlaga di LPI berada di bawah naungan PT Persebaya Indonesia. Sebagai perlawanan terkait dengan orisinalitas Persebaya, mereka menambahkan angka 1927 pada nama klub mereka dan memperbaharui logonya.

"Mereka kan konspiratifnya luar biasa secara elit. Waktu itu kan awalnya LPI, logonya (Persebaya 1927) berubah pada waktu itu. Soal logo, pada waktu itu kita dipaksa tidak boleh menggunakan logo yang lama karena masih berkaitan dengan ISL. Di kawan-kawan, logo itu sebagai simbol perjuangan," kata Andie.

"Kita membuat perlawanan melalui logo walau tidak ada perubahan secara signifikan. Tapi logo itu menjelaskan perjuangan Bonek. Ya, itu hanya simbol perlawanan saat itu. Yang membedakan Persebaya. Kita tidak dimainkan sama sekali. Jadi Persebaya 1927 hanya perjuangan saja, untuk memudahkan dalam perjuangan itu," sambungnya.

Sejak saat itu sebagian kecil Bonek mulai mendukung Persebaya ISL, walau terkadang masih mendukung Persebaya 1927. Namun sebagian besar Bonek sendiri tidak rela jika Persebaya ISL bertanding di Surabaya. Yang paling penting bagi mereka adalah status Persebaya 1927 pada unifikasi ISL 2014. Sebab pada Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI pada Maret 2013 menyatakan Persebaya 1927 tidak berhak andil dalam unifikasi 2014. Persebaya 1927 sempat disarankan mengikuti rencana rekonsiliasi antara klub ISL dan IPL, namun pada nyatanya merasa tidak dilibatkan.

Hasilnya, perlawanan Bonek semakin luar biasa. Dari aksi kecil hanya belasan, menjadi puluhan, ratusan dan hingga ribuan turun ke jalan untuk melakukan berbagai unjuk rasa. Ribuan Bonek pun melakukan aksi demonstrasi atas dua masalah utama itu di kantor Walikota Surabaya pada 15 April 2013. Mereka mendesak Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, untuk menjadi salah satu bagian dari perjuangan status Persebaya di PSSI. Waktu itu pun Risma melakukan pernyataan akan terlibat dalam pergerakan dan ia berjanji mengirim surat ke PSSI agar Persebaya masuk ke dalam unifikasi ISL 2014.

Kekerasan Memperbesar Kekuatan Perlawanan

Salah satu titik balik Bonek semakin memberikan perlawanan terjadi pada 2013. Kala itu, Andie yang menjadi kordinator aksi demonstrasi dikeroyok dan mendapatkan lima luka bacokan dari segerombolan orang tidak dikenal. Kejadian berlangsung malam hari setelah Andie mengikuti rapat besar buruh.

Di sekretariatnya itu, tinggal tersisa Andie bersama teman-temannya yang terhitung jari, yaitu dua laki-laki, dua perempuan yang salah satunya membawa anaknya di sekretariat tersebut. Kemudian sekitar tiga orang berbadan besar masuk ke dalam ruangan di tempat Andie berada. Andie mempersilahkannya duduk, tapi tiga orang itu tidak mau. Ketika Andie berdiri untuk mempersilahkannya duduk kembali, tiga orang itu langsung mengeroyok dan membacok Andie.

Berlanjut ke halaman berikutnya...

Komentar