Atmosfer Ultras Ibu Kota yang Kembali di Stadion Olimpico | Pandit Football Indonesia

Atmosfer Ultras Ibu Kota yang Kembali di Stadion Olimpico

Cerita

by Randy Aprialdi 35664

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Atmosfer Ultras Ibu Kota yang Kembali di Stadion Olimpico

Aksi solidaritas dilakukan Ultras AS Roma dengan Ultras SS Lazio yang notabene merupakan musuh bebuyutan. Permusuhan kedua suporter kesebelasan tersebut bisa dibilang hubungan paling panas pada derby di Liga Italia bahkan Eropa. Namun kedua ultras itu secara tidak langsung melakukan aksi solidaritas dengan sama-sama melakukan boikot sejak Serie-A 2015/2016. Aksi boikot itu terkait dengan adanya pembangunan pagar pembatas di masing-masing curva (tribun belakang gawang) Stadion Olimpico.

Pembangunan pagar pembatas tersebut dimaksudkan pihak keamanan Kota Roma agar lebih mudah mengurai pergerakan ultras di masing-masing tribunnya. Polisi Roma menyadari bahwa Ultras Roma dan Lazio merupakan kelompok suporter garis keras yang ganas. Kedua kelompok tersebut sangat diperhitungkan di Italia bahkan Eropa. Pentolan Ultras Roma bernama Daniele De Santis pun harus mendekam di penjara seumur hidup karena membunuh suporter Napoli bernama Ciro Esposito.

Sementara gerombolan De Santis yang lainnya masih melakukan aksi boikotnya ke Stadion Olimpico, bahkan untuk pertandingan sekelas Derby della Capitale (derby Ibukota) sekalipun. Namun aksi boikot tidak dilakukan ketika Roma menjalani laga tandang. Sempat muncul kabar bahwa boikot Ultras Roma akan berhenti ketika menghadapi Chievo Verona pada partai kandang terakhir Serie-A 2015/2016, namun nyatanya aksi boikot pertandingan kandang masih dilangsungkan para Ultras Roma.

"Penghalang itu masih ada di sana, itu seperti polisi dan arogansi dari kebusukan dan sistem yang korup. Selama ini kami memutuskan untuk tidak datang ke Curva, tetap berada di luar dari sistem yang tidak mewakili kami. Dengan berat hati, sekali lagi, kami memilih jalan yang paling sulit, salah satu yang memaksa kami untuk menjauh dari Curva di mana hati kami tersimpan di sana," tulis pernyataan dari rilis yang dibuat Ultras Roma bernama Fedayn, seperti dikutip dari Football-Italia.

Kemudian musim baru pun dimulai. Pada Serie-A 2016/2017, Ultras Lazio mulai berubah pikiran. Mereka mulai menghentikan aksi boikot ketika melawan Juventus pada 27 Agustus 2016. Mereka merasa memiliki kewajiban untuk mendukung Lazio sebagai kesebelasan yang paling dicintainya. Ultras Lazio merasa tertantang dengan adanya pagar tersebut dan bertekad untuk mengatasinya. Dan yang jelas pagar penghambat itu tidak bisa menghentikan dukungan Ultras Lazio kepada kesebelasannya.

"Seringkali Curva Nord mengambil keputusan yang salah paham di awal, tapi itu baik-baik saja. Kami kembali, berharap bahwa kami diizinkan untuk melakukannya. kami berharap ini akan menjadi musim penuh kepuasan bagi kami, untuk tim dan lingkungan sekitar kami. Kami berharap semua berjalan sebagaimana mestinya dan melihat banyak kemenangan untuk Lazio," ujar Riccardo Rastelli, perwakilan dari Ultras Lazio.

Di sisi lain, Ultras Roma masih tetap bertahan akan keputusannya dengan aksi boikot. Padahal beberapa rayuan sudah dilakukan berbagai pihak Roma itu sendiri. Francesco Totti yang merupakan kapten Roma dan sudah dianggap legenda pun sempat membujuk para ultras agar kembali mendukung langsung di Stadion Olimpico. Totti merasa dukungan para Ultras Roma akan membantu kesebelasannya mencapai target musim ini. Anggapan yang sama pun dirasakan Alessandro Florenzi sebagai kapten ketiga Roma.

Perasaan itu semakin kuat ketika menjelang Roma menghadapi Lazio dalam Derby della Capitale pada 4 Desember 2016. Para Ultras Roma pun tahu soal itu, tapi mereka tetap boikot ke stadion dan mendukung kesebelasannya dengan cara lain, yaitu dengan mendatangi sesi latihan Totti dkk jelang pertandingan Derby della Capitale. Ribuan Ultras Roma pun datang ke tempat latihan Roma di Trigora. Mereka bernyanyi, mengibarkan bendera, menyalakan red flare (suar) dan smoke bomb (bom asap).

Aksi boikot pertandingan kandang Roma itu memang sangat berpengaruh kepada pendapatan kesebelasannya. Pada pertandingan 16 besar melawan Olympique Lyonnais pun tiket pertandingan cuma terjual 13.000 saja. Padahal saat itu Roma sedang kalah agregat 4-2 dan membutuhkan dukungan para suporternya dalam jumlah banyak. Namun para Ultras Roma tetap menjalankan aksi boikot kandang karena pagar pembatas di curva masih ada.

Para Ultras Roma juga menolak adanya denda bagi perubahan tempat duduk, scanner biometrik, penjagaan tiga lapis, pemeriksaan sepatu, penyitaan syal secara ofensif, larangan penyalaan flare serta smoke bom, serta menyanyikan lagu-lagu tradisional. Menurut mereka, peringatan itu memiliki alasan yang konyol dan mengganggu dukungan mereka kepada Roma di setiap pertandingan kandangnya.

Mereka mengatakan bahwa Stadion Olimpico masih punya waktu untuk membongkar pagar penghalang tersebut. Maka dari itu Ultras Roma tetap melakukan aksi boikot walau kesebelasannya membutuhkan kemenangan yang sedang tertinggal agregat skor. Ultras Roma juga menegaskan bahwa mereka berbeda dengan suporter Roma lainnya yang sekadar narsis untuk kepentingan fotografi di tribun Stadion Olimpico.

Yang jelas Ultras Roma merasa sakit hati dan martabatnya telah direbut karena pembungkaman kebebasan untuk berekspresi. Bagi mereka, pagar pembatas dan kebijakan-kebijakan baru di Stadion Olimpico merupakan bentuk penindasan terhadap pendukung sepakbola. Apalagi ditambah dengan tiket Stadion Olimpico seharga minimal 25 euro dianggap mahal bagi Ultras Roma.

"Kami berharap untuk kembali bersatu dengan Roma dan Curva Sud di Olimpico. Mulailah dengan (setidaknya) menyingkirkan denda dan penghalang itu untuk membuat Curva Sud kembali mendukung. Kehadiran kami tidak terkait dengan pentingnya pertandingan, kami ada di mana-mana jika kami bebas untuk berekspresi," tulis pernyataan Ultras Roma.

Dari aksi boikot laga kandang Roma, kesebelasan tersebut menjadi yang paling kecil presentasenya soal kehadiran penonton di stadion. Begitu pun dengan Lazio, namun situasi presentase penonton mereka sedikit meningkat sejak aksi boikot kandang dihentikan pada awal musim ini. Dan pada akhirnya pembatas tribun di masing-masing curva dicabut setelah berbulan-bulan melakukan perundingan dengan pemerintah dan kepolisian.

Alhasil curva nord dan curva sud di Stadion Olimpico kembali bisa dinikmati masing-masing ultras kedua kesebelasan itu seperti musim-musim sebelumnya. Tentu saja pencabutan itu disambut paling girang oleh Ultras Roma yang sebelumnya masih melakukan aksi boikot laga kandang. Dan pagar pembatas itu sudah hilang sejak pertandingan Derby della Capitale beberapa hari yang lalu, Rabu (5/4).

Pertandingan itu sendiri dimenangkan Roma dengan skor 3-2. Namun bagi kedua ultras, hasil pertandingan bukanlah yang terpenting bagi mereka, namun hasil dari perjuangan mereka kepada protes tribun yang sekarang sudah tuntas. Mulai sekarang dan selanjutnya, Ultras Roma dan Lazio bisa kembali mencengangkan dunia melalui aksi-aksi koreografi yang indah di Stadion Olimpico.

Komentar