Sepotong Kisah Terakhir Suporter Leicester City di Liga Champions

Cerita

by Randy Aprialdi 26055

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Sepotong Kisah Terakhir Suporter Leicester City di Liga Champions

Usai sudah perjalanan Leicester City di Liga Champions UEFA 2016/2017. Mereka dihentikan Atletico Madrid di babak perempat-final karena kalah agregat 2-1. Pada pertemuan pertama, Leicester dikalahkan tuan rumah Atletico di Vicente Calderon dengan skor 1-0, Kamis (13/4). Kemudian Leicester dipastikan keluar dari Liga Champions karena ditahan imbang Atletico dengan skor 1-1 di Stadion King Power, Rabu (19/4).

Meski tersingkir, ada keidentikan tersendiri dari Leicester yang berhasil maju sampai babak delapan besar ini, yaitu perilaku para suporternya. Ada kejadian mencolok dilakukan sebagian dari 4000 suporter Leicester yang bertandang ke Stadion Vicente Calderon pada leg pertama. Padahal jatah tiket untuk suporter Leicester adalah sebanyak 2.800 lembar. Kemudian di momen lain, sekitar 100 suporter Leicester menyanyikan lagu berlirik "Kau Spanyol b*****k, Gibraltar adalah milik kami!".

Gibraltar adalah sebuah wilayah di seberang laut Britania yang terletak di ujung selatan di pintu masuk Laut Mediterania. Letaknya berbatasan dengan Andalusia.

Gibraltar memang memiliki cerita tersendiri dengan Inggris yang pernah menyerbu wilayah itu dengan Belanda ketika Perang Suksesi Spanyol pada 1704. Kemudian kota, kastil, pelabuhan dan pertahanan Gibraltar diserahkan kepada Britania. Namun, kedaulatan Gibraltar adalah masalah utama dalam hubungan Inggris dengan Spanyol yang menyatakan klaimnya atas teritori wilayah tersebut.

Padahal penduduk Gibraltar menolak rencana kedaulatan Spanyol di dalam referendum 1967 dan 2002. Gibraltar masih berhak mengurus daerahnya sendiri sesuai dengan konstitusi 2006. Walau beberapa hal seperti pertahanan dan hubungan luar negeri masih menjadi tanggung jawab pemerintah Britania Raya.

Lalu mengapa para suporter Leicester harus menyanyikannya di Kota Madrid? Hal itu karena selama Perang Dunia II, Batu Gibraltar (Rock of Gibraltar) yang sangat terkenal itu, diperkuat menjadi benteng oleh Jenderal Francisco Franco, diktator Spanyol, untuk menggagalkan rencana Jerman untuk menguasainya.

Franco jugalah yang yang memperbaharui klaim kedaulatan Spanyol atas Gibraltar dan membatasi pergerakan di sana. Sementara Atletico merupakan kesebelasan sepakbola yang memiliki kedekatan dengan Franco.

Maka dari itu, nyanyian suporter Leicester tentang Gibraltar terlontar begitu saja ketika berseteru dengan kepolisian Madrid di Mayor Plaza sekitaran Stadion Vicente Calderon. Para suporter Leicester menyanyikan lagu itu juga bukan tanpa alasan. Sebab, mereka tiba-tiba mendapatkan serangan begitu saja dari kepolisian Madrid pada satu hari sebelum pertandingan.

Bentrokan dimulai ketika Polisi Madrid mencoba membubarkan para suporter Leicester yang sedang bernyanyi sambil berjingkrak bersama di Mayor Plaza. Pembubaran itu dilakukan karena polisi menduga para suporter Leicester sedang mabuk berat karena terlalu banyak meminum alkohol. Padahal tidak terlihat aksi represif dari para suporter Leicester saat itu. Lagipula berkumpul, meminum alkohol, bernyanyi, berjingkrak, dan lainnya, merupakan budaya dari para suporter dari Inggris. Tapi polisi Spanyol justru salah menanggapinya dengan memakai jalur kekerasan.

Salah persepsi ini juga terjadi kepada para suporter Leicester ketika bertandang ke Sevilla pada pertandingan leg pertama 16 besar Liga Champions musim ini. Kemudian kali ini terulang kembali di daerah yang berbeda namun masih di Spanyol. "Kami melihat polisi menargetkan kelompok orang-orang itu (suporter Leicester), menghancurkan bir di meja dan bahkan melemparkan kursi ke arah fans, serta mengarahkan tongkat dan perisai," ujar Aaron Richards Howells, salah satu suporter Leicester, seperti dikutip dari Leicester Mercury.


Baca juga: Pemaparan tentang perbedaan perilaku antara suporter asal Spanyol dan Inggris


Berbagai benda pun dilemparkan para suporter Leicester untuk membalas serangan para polisi, termasuk suar (flare) berwarna merah dan bom asap (smoke bomb) berwarna biru. Otomatis toko-toko di Mayor Plaza menutup waktu kerjanya. Sementara para polisi terus menyerang para suporter Leicester tanpa pandang bulu.

Bahkan dikabarkan, seorang pria yang sedang berdiri atau duduk dan tidak melakukan aksi kerusuhan apapun mendapatkan pukulan dari kepolisian. Selain memukul dan menendang, Polisi Madrid juga menembakkan gas air mata dan peluru karet.

Hasilnya, bentrokan itu menyebabkan dua polisi dan tiga pendukung Leicester menderita luka-luka. Delapan suporter Leicester pun harus diamankan kepolisian Madrid, "Saya pergi [ke Plaza Mayor] dan menemukan sejumlah pendukung Leicester dengan luka yang ada di kepala, tangan, lutut, dan beberapa dari mereka kebingungan. Beberapa dari mereka juga mabuk," jelas Phil Mackie dalam laporannya ke BBC Radio.

Setelah hampir 40 jam ditahan, delapan suporter itu terancam dipenjara selama empat bulan atas dakwaan penyebab kekacauan. Tapi bagi yang terbukti menyebabkan polisi terluka, akan dikurung penjara selama enam bulan. Pihak kepolisian Madrid pun siap bekerja sama dengan UEFA untuk menyerahkan fakta-faktanya.

***

Sementara para suporter Atletico lebih tentram ketika leg kedua harus bertandang ke Stadion King Power. Mereka bisa menikmati Kota Leicester di kawasan Town Hall Square Leicester.

Pertemuan antara suporter Leicester dengan Atletico di alun-alun kota itu pun berlangsung damai. Keduanya berkumpul bersama-sama, berfoto dan bertukar atribut masing-masing kesebelasannya. Bahkan para suporter Atletico memberikan rasa hormatnya kepada para pendukung Leicester usai pertandingan di Stadion King Power. Ratusan suporter Atletico menyanyikan lagu-lagu suporter Leicester karena ikut bangga dengan pencapaian lawannya itu di Liga Champions musim ini.

Leicester tidak hanya mengukir prestasi sendiri di Liga Champions, para pendukungnya pun meninggalkan kisah yang campur aduk di fase terakhirnya pada pertandingan antar kesebelasan Eropa tersebut.

Sumber lain: BBC, Daily Mail, Sky Sports, The Sun.

Komentar