Harapan Terhadap Draxler, Harapan Regenerasi yang Tak Pernah Putus

Cerita

by redaksi 30955

Harapan Terhadap Draxler, Harapan Regenerasi yang Tak Pernah Putus

Piala Konfederasi 2017 Rusia akan menjadi panggung bagi para pemain lapis kedua Jerman menunjukkan kualitasnya. Pada kejuaraan tersebut, dengan berbagai pertimbangan, pelatih Jerman, Joachim Loew, memutuskan mengistirahatkan beberapa nama seperti Mesut Oezil, Mats Hummels, Manuel Neuer, Mario Goetze, Tony Kroos, hingga Thomas Mueller.

Loew juga tidak mengikut sertakan Marco Reus yang absen di Piala Dunia 2014 dan Piala Eropa 2016 karena cedera. Sama halnya dengan para pemain yang tampil bersama Jerman di Piala Eropa 2016 lalu, Loew beralasan tidak mengajak Reus karena ia menginginkan penyerang Borussia Dortmund itu seratus persen fit di Piala Dunia 2018 Rusia.

Rata-rata pemain yang Loew bawa merupakan pemain muda, Sandro Wagner berstatus sebagai pemain tertua dengan 29 tahun. Namun, Loew tidak sedikitpun menunjukkan kekhawatiran pencapaian anak asuhnya di Rusia. Pelatih yang sukses membawa Jerman juara Piala Dunia 2014 itu percaya dengan kualitas yang dimiliki para pemain pilihannya.

Satu hal yang menarik, alih-alih memilih Wagner yang berusia lebih tua di antara pemain lainnya, Loew justru berharap kepada Julian Draxles yang masih berusia 23 tahun untuk menjadi sosok pemimpin pasukan “Der Panzer” di Piala Konfederasi. Dengan kualitas dan pengalaman yang dimiliki, Loew berharap Draxler bisa memimpin pasukan “Der Panzer” dengan baik.

“Awalnya saya ingin Reus, tapi saya harus mempertimbangkan risiko yang akan terjadi. Dia sudah melewatkan Piala Dunia 2014 dan Piala Eropa 2016, target besar dia tentu saja tampil di Piala Dunia 2018. Pemimpin potensial? Saya berharap Julian Draxler bisa menjadi pemimpin, terutama setelah ia bermain bagus di sana [Ligue 1]," ucapnya dilansir ESPN FC.

Sebenarnya masih banyak pemain yang bisa dijadikan sosok pemimpin di skuat Jerman pada Piala Konfederasi 2017. Selain tentunya Wagner, masih ada sosok Emre Can yang memiliki pengalaman lebih banyak dibanding Draxler. Selain itu, Shkodran Mustafi juga layak dikedepankan karena selain usianya yang terbilang matang, Mustafi pun menjadi salah satu sosok sentral di lini pertahanan Arsenal.

Draxler yang Berpengalaman Sejak Muda

Ketika menyebut nama Draxler, Loew jelas memiliki pertimbangan lain. Ia memang tidak menyebutkannya, namun Loew tampaknya menganggap Draxler sebagai pemain muda yang sudah matang. Dalam hal ini, Loew tentu tidak hanya memandang pada kemampuan olah bola Draxler saja, namun bila soal kepemimpinan yang diambil tentu pengalamannya.

Soal pengalaman, Draxler memang tak kalah dengan pemain-pemain yang jauh lebih senior darinya. Memulai karier profesional pada usia 17 tahun, Draxler sudah diberi kepercayaan untuk tampil kompetitif bersama Schalke 04. Di Bundesliga musim 2010/2011, ia dipercaya tampil sebanyak 15 kali.

Dari catatan tersebut, dalam tiga pertandingan ia dipercaya tampil sebagai starter, dengan dua di antaranya tampil selama 90 menit. Bahkan saat Schalke jumpa St. Pauli, Draxler bisa mencatatkan namanya di papan skor.

Selain itu, pada musim pertamanya bermain di level senior gelar juara di ajang DFB Pokal berhasil ia dapatkan. Bahkan, Draxler turut memberikan kontribusi maksimal meski ia mulai dimainkan di ajang tersebut saat Schalke mencapai babak perempatfinal.

Dari tiga pertandingan yang tidak bisa mungkin Draxler lupakan tentunya, saat ia berhasil mencetak gol ke gawang MSV Duisburg di babak final. Gol tersebut menjadi satu dari lima gol yang dibukukan Schalke saat memastikan gelar juara di ajang Piala Liga.

Performa gemilang Draxler pada musim itu membuatnya kemudian mendapat kepercayaan yang lebih banyak pada musim 2011/2012. Di Bundesliga, Draxler mencatatkan 30 penampilan dari 34 laga yang dilakoni "The Royal Blues", dengan rincian 21 kali menjadi starter dan sisanya ia memulai pertandingan dari bangku cadangan.

Selain itu, pada musim 2011/2012 juga Draxler sukses menyumbang satu gelar juara bagi Schalke di ajang German Super Cup. Saat itu, Schalke yang berstatus juara DFB Pokal sukses menumbangkan Borussia Dortmund sebagai juara Bundesliga musim sebelumnya melalui drama adu penalti. Ketika itu, Draxler tampil selama 45 menit.

Setelah empat tahun membela Schalke, Draxler hijrah ke VFL Wolfsburg. Dua musim bersama Wolfburg, kemudian ia ditarik raksasa Prancis, Paris Saint Germain, pada musim 2016/2017. Satu gelar juara di ajang Piala Liga Prancis berhasil disumbangkannya pada musim pertamanya di Prancis.

Satu gelar paling prestisius bagi Draxler tentunya bersama timnas Jerman saat menjuarai Piala Dunia 2014 di Brasil saat usianya menginjak 21 tahun. Di level timnas, sejak 2012 ia sudah membukukan 28 caps dengan torehan tiga gol dan tiga asis.

Regenerasi yang Berjalan Sempurna

Selain itu, pertimbangan lain Loew memiliki harapan kepada Draxler untuk menjadi pemimpin di dalam tim juga mengisyaratkan bagaimana kepedulian Loew terhadap regenerasi pemain di timnas Jerman. Alasan ia memilih skuat yang berbeda di ajang Piala Konfederasi pun muara akhirnya pasti kepada regenerasi di masa depan.

Dalam hal ini, Loew pasti menyadari kalau tidak selamanya Neuer, Hummels, atau Oezil bisa memperkuat Jerman. Ada masa ketika pemain tersebut undur diri seperti yang dilakukan Bastian Schweinsteiger, Philip Lahm, hingga Miroslav Klose yang merasa usianya sudah tidak lagi muda, yang kemudian membuat performa mereka menurun.

Soal regenerasi, Jerman memang terbilang sebagai yang paling baik. Setiap tahun, selalu muncul bibit potensial yang dilahirkan Jerman, yang kemudian menjadi andalan bagi timnas di kejuaraan antarnegara, salah satu contohnya adalah Draxler yang langsung mencuat namanya ketika ia belum genap 20 tahun.

Selain itu, pola regenerasi dilakukan secara bertahap. Dalam artian, ketika ada salah satu pemain yang pensiun dari timnas, maka penggantinya bukan pemain yang benar-benar debutan dengan usia yang sangat muda. Contohnya ketika Schweinsteiger memasuki penghujung kariernya di Piala Eropa 2016 lalu, Schweini memang lebih banyak tampil dari bangku cadangan.

Namun, Jerman tidak serta merta langsung memainkan tiga gelandang muda nan debutan seperti Julian Weigl atau Joshua Kimmich sebagai starter. Loew kala itu mempercayakan posisi yang biasa ditempati Schweini kepada Tony Kroos, yang secara usia (saat itu 26 tahun) dan kualitas terbilang lebih matang.

Fase seperti itu tampaknya akan terus berlanjut. Misalnya, ketika Kroos akhirnya memasuki penghujung kariernya, Weigl atau Leon Goretzka yang saat ini masih berusia 22 tahun bisa menjadi regenerasi Kroos di lini tengah Jerman. Apa yang dilakukan Jerman ini tentu untuk menjaga kualitas permainan mereka, meski regenerasi dilakukan.

Hal-hal yang Membuat Regenerasi Jerman Berjalan Baik

Kepedulian Jerman terhadap regenerasi pemain di timnas memang sudah tidak diragukan lagi. Selain federasi dan kesebelasan, pemerintah juga turut bersinergi membantu proses tersebut. Dalam artian, untuk menciptakan generasi pesepakbola andal di setiap periode, Jerman melakukannya dengan sangat-sangat-sangat terorganisasi.

Sejak mengalami masa kelam pada medio 2000-an, Jerman kemudian melakukan evolusi besar-besaran. Secara bertahap, selama 10 tahun lamanya Jerman menata kembali sistem sepakbola yang hancur. Fokus utama mereka adalah membina pemain muda.

Federasi mengatur kesebelasan-kesebelasan Bundesliga memangkas belanja pemain asing, dengan lebih banyak mempromosikan pemain muda ke tim utama. Sejak 2010, sebagian besar kesebelasan Jerman diperkuat pemain binaan akademi, yang kemudian bermuara ke timnas.

Selain itu, Jerman juga fokus pada pembinaan pelatih muda. Oleh karena itu tak heran jika di Bundesliga ditemui banyak pelatih muda dengan kualitas mumpuni. Jerman juga fokus pada pengembangan infrastruktur untuk menyokong proses pembinaan pemain muda lebih baik. Itu semua tentu dilakukan dengan biaya yang tidak sedikit. Di sinilah peran Pemerintah, yang selalu baik hati memberikan sokongan dana untuk regenerasi pesepakbola Jerman.

(SN)

Komentar