Ini Lima Syarat Pemain yang Dibawa Ke Piala Dunia | Pandit Football Indonesia

Ini Lima Syarat Pemain yang Dibawa Ke Piala Dunia

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Ini Lima Syarat Pemain yang Dibawa Ke Piala Dunia

Oleh: Adhika Prasetyo


Apa kesamaan dari Theo Walcott, Javier Zanetti, Ronaldinho, Nani, dan Mario Balotelli?  Mereka sama-sama pernah tidak diikutsertakan pada piala dunia oleh pelatihnya.

Ya, meski kurang lebih 736 pemain akan membela 32 negara pada Piala Dunia nanti, namun jumlah pemain yang tidak bisa ikut serta memang lebih banyak. Bahkan bintang yang telah menancapkan namanya di liga-liga Eropa, seperti kelima nama di atas, pun bisa mengalaminya.

Pemain-pemain ini tidak ikut karena banyak hal, antara lain; cedera, konflik dengan pelatih, atau hanya karena pelatihnya berkata “he’s not good enough”. Akan tetapi, negara-negara asal dari kelima pemain yang saya sebutkan di atas mengalami Piala Dunia yang buruk empat tahun silam. Memang bisa saja karena performa tim keseluruhan, tapi bisa jadi karena kehilangan kontribusi pemain-pemain tersebut.

Piala Dunia 2014 pun tak akan luput dari masalah inclusion dan exclusion yang mengejutkan ini. Untuk setiap Emile Heskey yang ditinggalkan, akan selalu ada inclusion hebat seperti Angel di Maria. Sebaliknya, untuk setiap Karim Benzema, pasti akan ada exclusion yang juga pemain baik, seperti Raul Gonzales.

Lalu, apa saja komponen-komponen dalam penyusunan sebuah daftar skuat? Apa saja tipe-tipe pemain yang akan dipanggil bagi negara masing-masing? Saya akan membaginya dalam lima kriteria.

Kriteria Pertama: Reputasi

Reputasi adalah ciri pertama dari setiap pemain timnas. Pemain dengan reputasi besar selalu akan dipanggil oleh pelatihnya karena ialah bintang yang dianggap mampu menopang negaranya. Dia bisa saja tidak melalui musim yang baik, atau baru saja sembuh dari cedera, tetapi jika dia dikenal sebagai pemain hebat di negaranya, pasti akan diikutsertakan ke turnamen level ini.

Jangan bayangkan pemain semacam Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo karena mereka memang telah membuktikan reputasinya. Tetapi bayangkan pemain semacam Wayne Rooney atau Lukas Podolski.

Rooney dikenal sebagai penyerang terbaik Inggris, sedangkan Podolski anak kesayangan Deutschland sejak lama. Tetapi, jika mereka mempunyai musim yang buruk sekalipun, mereka tidak akan takut akan kehilangan tempatnya di skuad nasionalnya.

Tak percaya? Tanya saja David Beckham di Piala Dunia 2002, atau Fernando Torres di Euro 2012.

Kriteria Kedua: Performa dan Kinerja

Dalam satu atau dua musim terakhir sebelum sebuah ajang internasional, biasanya konsistensi dan performa akan berpengaruh pada peluang pemanggilan pemain. Tapi tidak semua pemain yang performanya baik akan dipanggil. Seperti berkesesuaian dengan syarat pertama, pemain yang tidak memiliki reputasi besar bisa saja tidak dibawa. Misalnya saja kasus Darren Bent di Afrika Selatan 2010.

Namun, biasanya sebuah tim yang mengisi timnya dengan pemain berperforma baik akan sangat terbantu dalam mencapai kemenangan, atau setidaknya final sebuah kompetisi.

Keputusan Cesare Prandelli memanggil Antonio Di Natale dan ketiga bek Juventus dalam rupa Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, dan Giorgio Chiellini membantu Italia hingga final Euro 2012. Kontingen Barcelona yang dahulu tidak terlalu populer seperti Sergio Busquets, Gerard Pique, dan Pedro Rodriguez pun bermain baik hingga akhirnya Piala Dunia 2010 diraih Spanyol.

Kriteria Ketiga: Merit

Saya sulit menemukan terjemahan paling pas untuk “merit”. Tapi hasil pertama Google Translate™ berkata ‘pantas’ adalah kata paling mendekati. Tapi mungkin lebih pasnya adalah ‘kepantasan’.

Reputasi tidak melunjak, dan performa klub menuju kompetisi juga tidak istimewa, tetapi karena stok dalam posisi itu kurang, maka ia diberi kesempatan untuk mengusung bendera nasionalnya. Tetapi bukan berarti mereka payah atau tidak pantas. Hanya saja pasti ada alasan mengapa mereka tidak seterkenal tipe pertama, atau sekonsisten tipe kedua.

Atribusi ini lebih sering diberikan kepada kiper cadangan seperti Victor Valdes. Ia memang tidak sohor seperti Iker Casillas, tetapi rekornya di mulut gawang Barcelona luar biasa (walaupun bukan sepenuhnya karena kemampuannya sendiri). Jadi ia bisa dibilang sangat pantas untuk masuk timnas.

Tetapi itu berbeda kasus dengan Robert Green yang direkrut Roy Hodgson pada Euro dua tahun silam. Meski ia bermain di Championship bersama West Ham, pemanggilannya ke timnas tak terelakan lagi karena tidak ada kiper Inggris lain yang pantas menjadi backup.

Walaupun begitu, prihal patut atau ketidak-patutan seorang pemain dalam suatu skuat jarang ada yang mempermasalahkan. Karena pelatih memang lebih tau daripada seorang mortal seperti saya.

Kriteria Keempat: Pemain Muda Berbakat

Tipe ini biasanya jarang, tetapi terkadang bermanfaat. Pemain yang masuk ke dalam kategori ini adalah pemain yang umurnya di bawah 23 tahun, dan belum menjadi pemain inti di klub maupun negaranya. Para pemain yang termasuk golongan ini biasanya dibawa dengan alasan untuk mendapatkan pengalaman berkompetisi, seperti Ronaldo pada Piala Dunia 1994 dan Theo Walcott di 2006.

Namun, selain membangun reputasi pribadi, terkadang pemain tipe keempat  ini juga mampu menjadi senjata rahasia. Contohnya Michael Owen pada edisi 1998, Thomas Muller pada 2010, hingga Pele dalam versi kompetisi tahun 1958.

Pada usia belia, ketiga pemain ini menjadi bintang bagi negaranya. Bahkan pada umur 17 Pele sendiri mampu membantu Brasil juara, meski itu kompetisi internasional pertamanya. Lumayan untuk ukuran seorang bocah.

Kriteria Kelima: Wacky Wildcard

Tipe kelima inilah yang akan menjadi hantu setiap skuat. Penyertaannya dalam tim tergolong sangat aneh dan absurd, karena dia tidak cocok untuk masuk keempat kategori di atas. Dia tidak cukup hebat secara pamor, tidak terlalu muda juga, performa di klub bisa tergolong jelek, dan masih banyak pemain yang lebih pantas daripadanya di negara asalnya.

Walaupun demikian, dengan berbagai alasan, pelatih tetap membawanya. Banyak yang bisa menyangka keikutsertaan pemain ini disebabkan sebuah konspirasi atau antek-antek illuminati. Tetapi kita tahu itu hanya kekeliruan pelatih. Dan semakin sedikit pemain kategori ini, semakin besar kans timnas tersebut untuk memiliki turnamen yang baik.

Contoh yang cocok untuk tipe ini adalah Vincenzo Iaquinta di tahun 2010. Dia hanya bermain 15 pertandingan dan mencetak 6 gol di Serie A pada musim 2009/10, namun pelatih Italia saat itu, Marcelo Lippi tetap saja menjadikannya starter di tiga pertandingan. Pada akhirnya ia hanya mencetak satu penalti dan Italia kandas di penyisihan.

Contoh paling baru di Euro 2012 adalah dipanggilnya eks-sayap Liverpool Stewart Downing. Padahal pada musim 2009/2010, Downing tidak mencetak satupun gol ataupun assist. Namun entah apa yang dilihat Roy Hodgson saat itu untuk tetap memanggilnya ke tim Inggris.  “Beruntung” Downing sama sekali tidak diturunkan pada kompetisi itu. Namun apa daya Inggris hanya mencapai perempat final.

Saya pastikan semua skuat di Piala Dunia 2014 akan mempunyai setidaknya empat dari lima kategori pemain di atas. Saya yakini juga bahwa Juni mendatang, saat semua daftar skuat sudah selesai, akan tetap ada pilihan-pilihan pelatih yang kontroversial. Seharusnya artikel ini membuat Anda agar tidak begitu terkejut. Tapi, tidak ada yang benar-benar tahu, bukan?

Dikirim oleh:

Adhika Paramanandana Prasetyo. Twitter: @adhikapp

One of those plastic fans who would love to be a sports journo. Mahasiswa internasional yang percaya bahwa dirinya punya pemikiran menarik.

Komentar