Mempertanyakan Kebijakan Transfer Pemain Muda Potensial | Pandit Football Indonesia

Mempertanyakan Kebijakan Transfer Pemain Muda Potensial

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Mempertanyakan Kebijakan Transfer Pemain Muda Potensial

Ditulis oleh Arif Utama

Persaingan di era sepakbola modern menjadikan kebutuhan klub akan bibit muda potensial semakin meningkat. Akibatnya, pencari bakat klub dituntut untuk mampu menemukan pemain muda dengan kualitas menjanjikan, tidak peduli apakah pesepakbola itu ada di negara bahkan benua lain.

Kebijakan klub untuk mencari dan menggunakan pemain muda memang terkesan memiliki efek yang menggembirakan. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah kebijakan tersebut benar-benar berpihak pada karir pemain di masa depan?

Baca juga cerita tentang ironi skuat senior dan akademi Inter Milan serta investasi akademi Manchester City.

Berkaca pada Ajax Amsterdam

Ajax Amsterdam dapat dikategorikan sebagai tim dengan akademi terbaik di dunia. Sebanyak 77 pemain hasil binaannya berhasil bermain di berbagai liga top Eropa.

Akan tetapi, eksodus pemain yang terus-menerus, baik di tim utama maupun  akademi, menyebabkan terganggunya proses regenerasi klub. Ajax menjadi klub yang terlalu bergantung kepada pemain-pemain lama. Akibatnya, begitu pemain-pemain andalan tersebut hengkang, kesebelasan ini kehilangan tajinya untuk bersaing di berbagai kompetisi Eropa.

Beberapa tahun belakangan, klub yang bermarkas di kota Amsterdam ini hanya berhasil menjadi peserta liga Champion dan UEFA Europa League tanpa gelar. Nihilnya pencapaian ini bertambah miris jika mengingat bahwa sebenarnya, klub ini bukanlah klub sembarangan. Buktinya, di era Johan Cruyff, mereka berhasil merebut trofi Liga Champion selama tiga tahun berturut-turut.

Nama Frank de Boer dipercaya sebagai kunci sukses Ajax Amsterdam

Musim panas lalu, Ajax kehilangan sejumlah pemain akademi terbaiknya. Setelah Javairo Dilrosun ke Manchester City dan Fosu-Mensah ke United, Mink Peeters memutuskan untuk pindah ke Real Madrid. Bahkan belakangan, salah satu pemain binaan akademi, Donyell Malen menolak kontrak yang ditawarkan Ajax. Pemain yang dilabeli “the next Thierry Henry” ini justru bertolak menuju Emirates Stadium.

Dengan label "feeder club", Ajax terus menerus memproduksi pemain untuk dibeli klub lain. Pemain muda potensial pindah dari klub kecil ke klub yang lebih besar untuk memenuhi hasrat mendapatkan pemain terbaik. Mereka mengiming-imingi uang dan kejayaan. Sayangnya,  apa yang diterima oleh anak-anak muda ini tak selalu seindah apa yang dijanjikan.

Tak Ada Jaminan Bermain Reguler

Keberadaan pemain berlabel “youngster” yang kemudian bersinar dan menjadi bintang saat pindah ke klub besar. Contohnya, Cesc Fabregas yang pindah dari Barcelona ke Arsenal saat berusia 16 tahun. Di Arsenal, ia berhasil menjadi pemain kunci sebelum akhirnya membela klub rival sekota, Chelsea.

Fenomena serupa juga terjadi pada Raheem Sterling yang hijrah dari QPR ke Liverpool saat masih berusia 15 tahun. Walau awalnya sempat diragukan, Sterling berhasil menjadi salah satu pemain kunci The Reds selama dua musim terakhir.

Namun, hanya karena hal menggembirakan tersebut terjadi pada beberapa nama, bukan berarti ia berlaku untuk semua pemain. Saat berusia 17 tahun, Patrick van Aanholt pindah dari PSV  ke Chelsea. Alih-alih bermain reguler, van Aanholt malah terus dipinjamkan dan tak pernah sekalipun masuk dalam daftar line-up The Blues. Malahan, sekarang, ia dijual ke Sunderland.

Contoh lainnya adalah Karim Rekik yang pindah dari Feyernoord ke Manchester City pada usia 16 tahun. Kiprahnya di City serupa van Aanholt di Chelsea; terus dipinjamkan, namun tak pernah bermain sekalipun untuk The Citizen. Pada akhirnya, ia dijual ke klub Perancis, Marseille.

Walaupun memiliki nama besar, Manchester City bukanlah klub yang tepat untuk pesepakbola muda.

Begitu pula dengan yang terjadi pada Nathan Ake. Meski lebih baik jika dibandingkan dengan kedua youngster tersebut, ia hanya diberi kesempatan bermain 12 kali di tim senior selama empat tahun untuk Chelsea. Pozo, tampil 4 laga saat bersama Manchester City. Sempat mencuri perhatian dan tempat di skuat utama, namun tidak bertahan lama. Ia kalah besar daripada Aguero, Bony, bahkan Dzeko.

Masih banyak contoh yang membuktikan kalau kerja keras seorang pencari bakat tidak selalu berujung manis; pemain muda potensial tidak selalu menjadi pemain bintang. Kebanyakan dari youngster tersebut pindah ke klub yang lebih rendah kapasitasnya daripada klub yang mereka bela sebelumnya.

Mental Instan sebagai Akar Masalah

Umumnya, sejumlah pemain muda didatangkan dari klub lain karena mereka dinilai sebagai pesepakbola potensial di masa depan. Yang menjadi masalah, ekspektasi yang begitu tinggi tersebut justru menumbuhkan mental “instan” para pemain muda.

Seharusnya, pemain-pemain muda tersebut menaiki tangga selangkah demi selangkah, bukan melompatinya. Inilah yang menyebabkan pemain-pemain bergelar “the next Ronaldo” atau “the next Messi” begitu cepat tenggelam setelah namanya mencuat beberapa saat. Mental instan seperti ini menjadikan mereka terburu-buru dalam memenuhi keinginan untuk berkarir di klub-klub raksasa tanpa pertimbangan yang matang.

Biasanya, pemain rekrutan baru terlalu senang saat melihat klub besar yang meminatinya. Memegang prinsip bahwa kesempatan tak datang dua kali, tanpa pikir panjang, mereka menerima tawaran yang menggiurkan tersebut. Namun apa boleh buat, alih-alih meraih kesempatan dan pengalaman bertanding di klub raksasa, nama mereka hanya jadi penggembira dalam tim reverse.

Apa yang terjadi pada De Bruyne barangkali bisa dijadikan pelajaran. Saat berupaya melompati tangga, ia malah kehilangan tempat di skuat utama karena di sana sudah ada Oscar yang berperan sebagai gelandang serang. Setelah terus-menerus dipinjamkan, ia akhirnya dibuang ke Wolfsburg. Di klub barunya, ia memahami bahwa kepindahannya yang prematur ke Chelsea tak ubahnya keputusan naif belaka. Di Wolfsburg, ia bermain konsisten dan menjelma menjadi salah satu pemain terbaik klub. Hasilnya tak tanggung-tanggung, namanya menjadi salah satu incaran dua klub raksasa: Bayern Munchen dan Manchester City.

Dibandingkan pemain-pemain muda di atas, barangkali, Cesc Fabregas sempat menjadi salah satu yang paling beruntung. Perginya Patrick Vieira membuat lubang besar di tubuh Arsenal dan Cesc Fabregas dipercaya untuk menjadi suksesor Vieira.

Wenger terus memberikannya kepercayaan untuk bermain sebagai gelandang tengah, sampai pada akhirnya ia menjadi Fabregas yang kita kenal sekarang. Namun, apa yang terjadi pada Fabregas adalah kelangkaan di era sepakbola modern. Kecenderungannya, klub akan gelisah saat kehilangan seorang pemain bintang dan segera mencari penggantinya dengan mendatangkan pemain lain tanpa mengamati apa yang sebenarnya mereka miliki di akademi.

Belajar dari kasus-kasus di atas, ada banyak pemain-pemain muda yang potensinya justru menjadi sia-sia karena kepindahannya ke klub-klub raksasa.  Keinginan dan kebanggaan yang terlalu besar, menjadikan mereka merasa cukup sampai sebatas “dibeli oleh klub besar”. Kalaupun tidak demikian, kecenderungan lainnya adalah, nama-nama besar yang didatangkan oleh klub justru mengambil tempat yang seharusnya disediakan untuk pemain muda dan mengubur potensi mereka. Akibatnya, pemain-pemain muda ini hanya menjadi “one hit wonder”. Beberapa saat muncul, lalu hilang tanpa jejak dalam sekejap.

Kesimpulan

Keputusan untuk mendatangkan pemain muda potensial terkadang tidak bisa menjadi solusi yang tepat. Untuk sejumlah kasus, pemain tersebut seharusnya menempa diri dulu dengan maksimal. Jika telah memiliki pondasi yang kokoh, baru ia pantas memimpikan berkarir di klub-klub yang lebih menjanjikan, karena bagaimanapun juga, nama besar sebagai pesepakbola tak bisa diraih hanya dengan dibeli oleh klub besar.

Self claimed football manager wannabe, dapat dihubungi lewat akun Twitter @utamaarif

Komentar