Prahara Joe Hart Membuka Problematika Kiper Inggris | Pandit Football Indonesia

Prahara Joe Hart Membuka Problematika Kiper Inggris

PanditSharing

by Pandit Sharing 45210

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Prahara Joe Hart Membuka Problematika Kiper Inggris

Oleh: Mukhammad Najmul Ula

Musim panas 2016 bisa jadi merupakan salah satu periode terburuk dalam karier Joe Hart. Ia mengakhiri Piala Eropa 2016 dengan lembaran penuh noda, seperti saat gagal mengantisipasi secara sempurna tendangan bebas Gareth Bale di fase grup, atau ketika tangan kirinya kurang mantap menghentikan tembakan Kolbeinn Sigthorsson di babak 16 besar.

Kesialannya berlanjut saat menghadapi musim baru bersama Manchester City, yang saat itu memulai pramusim pertama bersama Pep Guardiola. Alih-alih memuaskan manajer baru (sebagaimana dilakukannya di hadapan Roberto Mancini dan Manuel Pellegrini), kelemahan besar Hart justru tereksploitasi di bawah hidung Pep.

Pep tidak menemukan fitur kiper modern seperti yang dipunyai Victor Valdes dan Manuel Neuer dalam diri kiper tim nasional Inggris. “Gerakan kakinya payah, umpannya banyak tidak akurat, kurang bisa membangun serangan dari kotak sendiri, tangan kirinya juga mudah tereksploitasi,” mungkin begitu pikir Pep.

Memang betul, kentara sekali perbedaan footwork antara Hart dan Claudio Bravo—kiper Barcelona yang belakangan diangkut Pep ke City. Hart terlihat kaku saat menguasai bola, layaknya seorang kiper yang memakai sepatu bot. Lain hal dengan Bravo, yang luwes menggerakkan kaki sedemikian anggunnya.

Biarpun pada akhirnya Bravo juga gagal tampil meyakinkan dalam perjalanannya sebagai orang nomor satu di bawah mistar City, kita tetap dapat melihat kesungguhan Pep memberdayakan kiper yang “nyaman dengan bola di kaki”. Kegigihan Pep memakan korban, Joe Hart yang telah memainkan lebih dari 260 laga berseragam biru langit harus menerima kenyataan tak dibutuhkan lagi di Etihad, dan terpaksa menjalani pengasingan di Torino.

Realita tersingkirnya Joe Hart dari tim utama The Citizens memunculkan pertanyaan baru: sebegitu penting-kah bagi kiper untuk mengasah kemampuan distribusi bola—ketimbang keterampilan tangan—dalam sepakbola masa kini? Lalu sebegitu buruk-kah Joe Hart—serta kiper Inggris lainnya—sehingga harus terdepak dari percaturan kiper elite dunia?

Saat Manuel Neuer memukau dunia lewat peran sweeper-keeper-nya yang revolusioner di Piala Dunia 2014, Paddy Vipond menulis untuk The Guardian, “Pada permainan catur, raja adalah bidak terlemah dan terpenting, jadi logis bila mendiamkannya dan melindunginya sepanjang waktu. Namun, jika musuh malah menggunakannya (bidak raja) sebagai titik awal penyerangan, secara brilian musuh unggul satu bidak lebih banyak dibanding dirimu.”

Vipond mengaitkan situasi tersebut dengan sepakbola. Setiap tim cuma memainkan seorang kiper sebagai orang terakhir di depan gawang, sehingga masuk akal jika sepuluh pemain lainnya diorganisir untuk melindungi sang penjaga gawang. Akan tetapi, perkembangan sepakbola modern telah menuntut seorang kiper untuk berpartisipasi dalam komando lini belakang, membangun serangan dari kakinya, serta melindungi penguasaan bola jika diperlukan.

Jadi, kiper menjadi “pemain tambahan” dan kehadirannya benar-benar dilibatkan dalam permainan tim. Pelatih sekaliber Guardiola tentu telah menuntut kipernya untuk menjadi pemain kesebelas tim dalam membangun serangan, tidak hanya menonton progresi sepuluh rekannya.

Diperlukan latihan non-konvensional untuk menciptakan penjaga gawang semacam ini. Frans Hoek, pelatih kiper yang lama menjadi tangan kanan Louis van Gaal, telah menyadari pentingnya kualitas distribusi seorang kiper sejak mendampingi Johan Cruyff pada akhir 1980-an. Ia kemudian yang memaksimalkan potensi Edwin van der Sar muda di Ajax, serta Victor Valdes dan Pepe Reina saat LvG bertugas di Barcelona.

“Valdes bukan hanya seorang kiper, ia juga pemain outfield kesebelas dan bisa mengkonstruksi permainan. Sekira 80% waktu Valdes di Barca tersita untuk mengawali penguasaan, sedangkan 20% sisanya ia bekerja sebagaimana kiper normal lainnya (melindungi gawang),” ucap Hoek suatu hari. Jasper Cillesen, anak didiknya di Piala Dunia 2014, tidak mungkin mampu mengalirkan bola ke rekan-rekannya dalam formasi 3-5-2 tanpa sentuhan Hoek.

Gary Neville dikabarkan terkejut dengan pola latihan Diego Alves dan sejawat kala melatih Valencia. Di Spanyol, para kiper terbiasa melahap semua sesi latihan bersama pemain outfield sebelum menjalani latihan normal bersama pelatih kiper. Pola latihan seperti demikian-lah yang sepertinya tidak (atau belum) diterapkan di tanah Inggris.

Menurut Daily Mail, kelompok kiper menghabiskan sebagian besar waktunya bersama pelatih kiper, fokus menghalangi bola agar tidak masuk gawang dibanding melatih kemampuan “berinteraksi” dengan pemain outfield. Itu pun belum termasuk keadaan bahwa penguasaan bola berbasis operan pendek sama sekali tidak digaungkan dalam pembinaan sepakbola Inggris. Walhasil, kiper muda tumbuh berkembang tanpa mengenal pentingnya footwork sebagai prasyarat kiper modern.

Sebagai perbandingan, simak tabel berikut.

Kiper (Usia)KlubPeringkat Liga Musim 2016/2017Jumlah LagaDistribution Success Ratio
Fraser Forster (29 tahun)Southampton83854%
Kepa Arrizabalaga (23 tahun)Athletic Bilbao72365%
Benoit Costil (30 tahun) Rennes93856%
Bernd Leno (25 tahun)Bayer Leverkusen123470%
Gianluigi Donnarumma (18)AC Milan63478%

Berdasarkan tabel di atas, terlihat jelas kesenjangan kemampuan distribusi bola antara Fraser Forster dengan kolega dari negara-negara kuat Eropa, meski keempat nama pembanding bukanlah nomor satu timnas masing-masing. Data terlihat semakin menyedihkan jika kita memasukkan nama Tom Heaton yang juga dipanggil Gareth Southgate. Heaton cuma mencatat rasio distribusi sukses 46%, akibat dari gaya main Inggris tradisional Sean Dyche di Burnley.

Statistik “mengenaskan” kiper-kiper Inggris dalam hal distribusi bola tampaknya membuat klub-klub besar enggan memakai jasa mereka. Tidak satupun kiper Inggris dapat dijumpai di tujuh besar klasemen musim ini (yang akan berlaga di Eropa musim depan), meski di bangku cadangan sekalipun. Jika ditelusuri, dari hierarki tiga kiper utama tujuh tim tersebut, hanya terdapat seorang pribumi, yaitu Angus Gunn (kiper ketiga City).

Pada titik ini, problem besar terkuak. Jangankan menemukan kiper dengan olah bola lumayan, bahkan mencari kiper lokal di tim utama Liga Primer pun sulitnya minta ampun. Kiper utama lokal baru bisa ditemukan saat melongok ke posisi delapan, yakni Fraser Forster bersama Southampton.

Selanjutnya secara berturut-turut hanya ada Ben Foster di West Brom (peringkat 10), Lee Grant bersama Stoke City (peringkat 13), Tom Heaton dengan Burnley (peringkat 16), dan Jordan Pickford dalam seragam Sunderland (peringkat 20). Jack Butland tidak dihitung karena baru memainkan lima laga bersama Stoke. Adapun petualangan Joe Hart tidak terlalu mengesankan setelah Torino hanya menempati posisi sembilan dengan catatan 62 kali kebobolan dalam 36 penampilan.

Benang merah problematika kiper-kiper Inggris perlahan mulai tampak. Persoalan bukan hanya terletak pada ketidakmampuan Jordan Pickford dkk. dalam mengimbangi kapabilitas kolega mereka di belahan Eropa lain (terutama dalam hal menginisiasi serangan), melainkan juga minimnya tingkat kepercayaan klub Liga Primer terhadap kiper lokal. Menjadi sulit ketika timnas Inggris dituntut konsisten mencetak prestasi di ajang internasional, sedangkan kebutuhan jam terbang kiper pribumi tidak tersedia bahkan di negeri sendiri.

Tidak ada solusi instan. Mutlak diperlukan reformasi pola pikir di kalangan pelatih-pelatih kiper di akar rumput mengenai tugas seorang kiper modern. Mengingat pembatasan jumlah pemain asing sudah tidak mungkin dilakukan, harapan muncul dari mutiara-mutiara baru yang mengenyam pendidikan sepakbola di negara lain, seperti yang dilakukan Eric Dier dan Owen Hargreaves.

Kita juga perlu menunggu dampak langsung Brexit bagi keberlangsungan Liga Primer. Inggris yang berdikari artinya tidak berlakunya kesepakatan perpindahan tenaga kerja Uni Eropa. Kesepakatan ini yang memudahkan klub-klub mengangkut pemain muda ke Inggris sejak usia 16 tahun, serta merekrut pemain antah-berantah dari seluruh dunia.

Pada masa ketika Inggris resmi berpisah dari Uni Eropa, Premier League harus mempersulit kualifikasi pemain asing yang akan masuk ke Inggris, mengingat “pemain sepakbola” masih termasuk dalam kategori “tenaga kerja”. Diharapkan dengan semakin alotnya pemain asing merangsek ke Liga Inggris kasta mana pun, pemain lokal mendapat tempat yang lebih luas untuk mengembangkan diri. Tentu saja, semakin banyak pemain lokal, semakin beragam pula pilihan bagi Gareth Southgate di masa depan.

Penulis adalah mahasiswa yang menganggap sepakbola dan ilmu politik adalah dua hal paling menggairahkan di dunia. Biasa berkicau lewat @najmul_ula


Tulisan ini adalah hasil kiriman penulis lewat rubrik Pandit Sharing. Isi dan opini dalam tulisan merupakan tanggung jawab penuh penulis

Komentar