Neymar Menjadi Bintang dalam Strategi Defensif PSG yang Menjadi Bumerang

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi 89226

Ardy Nurhadi Shufi

Juru Taktik Amatir
ardynshufi@gmail.com

Neymar Menjadi Bintang dalam Strategi Defensif PSG yang Menjadi Bumerang

Don`t give up. Never give up. Sepakbola adalah permainan 90 menit. Apapun bisa terjadi sebelum wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. Hal ini diwujudkan oleh kesebelasan asal Spanyol, Barcelona, saat menghadapi Paris Saint-Germain pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions 2016/2017, Kamis (9/2) dini hari WIB.

Barcelona secara dramatis membalas kekalahan 4-0 pada leg pertama dengan skor 6-1 pada leg kedua. Barcelona pun melangkah ke babak berikutnya dengan keunggulan agregat 6-5. Comeback seperti ini terbilang langka, namun sekali lagi, ini mewujudkan bahwa upaya tak kenal lelah dan tanpa menyerah hingga pertandingan berakhir bisa mengubah hasil akhir.

Pada babak pertama Barca unggul 2-0. Skor sempat 3-0 pada awal babak kedua, namun gol Edinson Cavani pada menit ke-62 sempat membuat para pendukung Blaugrana terhenyak. Setelah meretas asa karena unggul 3-0, gol Cavani harus membuat Barca mencetak tiga gol lainnya untuk lolos, gol tandang cukup menguntungkan PSG.

Bahkan semuanya terasa tidak mungkin karena hingga menit ke-85 skor tetap tidak berubah 3-1. Namun ambisi besar untuk lolos skuat Barcelona justru semakin terlihat dengan upaya Barcelona yang terus menerus menggempur pertahanan PSG, yang akhirnya membuahkan hasil. Pada menit ke-88, 91 dan 94, Barcelona mencetak gol. Tiga gol yang harus dicetak untuk lolos, berhasil diciptakan Barcelona.

Barca patut berterimakasih pada penyerang asal Brasil, Neymar. Tak seperti Ivan Rakitic atau Andres Iniesta yang tampil di bawah performa, Neymar tampil luar biasa. Ia adalah pemain yang terlihat paling menginginkan kemenangan ini. Aksi-aksi individunya membuat lini pertahanan PSG kocar-kacir. Mantan penyerang Santos ini mencetak dua gol serta satu asis. Dan ketiga kontribusi besarnya itu diciptakan pada tiga gol terakhir yang benar-benar dibutuhkan Barcelona.

PSG sendiri tampil cukup agresif dalam bertahan seperti pada leg pertama. Tekel agresif dilakukan untuk menghentikan serangan Barcelona dengan merebut bola dengan paksa. Total, 45 tekel dilakukan PSG pada laga ini, 32 di antaranya berhasil. Tak heran Barca agak kesulitan khususnya di 75 menit pertama.

Dengan situasi seperti ini, Barcelona praktis mengandalkan aksi-aksi individu para pemainnya untuk bisa menaklukkan terjangan-terjangan para pemain PSG. Dan Neymar adalah salah satu pemain yang getol coba menaklukkan pemain PSG dengan kemampuan melewati lawannya. Total ia melakukan 13 dribble, terbanyak pada laga ini, ketika Lionel Messi hanya melakukan dua kali saja sementara Luis Suarez tiga kali saja. Messi dan Suarez, yang menjadi dua penyerang dalam formasi 3-1-4-2 Barcelona yang diturunkan Luis Enrique, memang difungsikan sebagai pengacau penjagaan dua bek tengah PSG.

Kesalahan PSG pada laga ini adalah mereka memainkan garis pertahanan terlalu rendah. Apalagi mereka memang cenderung bermain lebih defensif pada laga ini. Ketika mendapatkan bola liar, bola langsung disapu sejauh mungkin dari area pertahanan. Maka dari itu mereka mampu mencatatkan 38 sapuan pada laga ini.

Namun skema ini justru membuat aliran serangan PSG tak teroganisasi dengan baik. Sapuan-sapuan tersebut memang dilakukan tanpa terarah, sehingga PSG hanya sedikit mendapatkan kesempatan untuk menciptakan peluang. Akurasi operan mereka pada laga ini pun hanya 67% saja.

Grafis operan PSG (via: squawka.com)

Sebaliknya, permainan PSG yang seperti ini justru membuat Barcelona semakin menguasai dan mendominasi pertandingan karena bola hampir selalu berada di kaki mereka. Penguasaan bola Barcelona sendiri mencapai 77% berbanding 23% milik PSG, padahal PSG merupakan salah satu kesebelasan dengan rataan penguasaan bola tertinggi di Eropa.

Setelah situasi 3-1, pelatih PSG, Unai Emery, bahkan menerapkan permainan yang lebih defensif dengan memasukkan Serge Aurier untuk menggantikan Julian Draxler. Emery melakukannya tentu karena pergerakan Neymar, yang ditempatkan di sisi kiri penyerangan Barcelona, yang terus membahayakan sepanjang pertandingan.

Hanya saja hal itu tidak cukup bisa menghentikan Neymar. Dari 13 upaya dribel, empat di antaranya berhasil, sementara sisanya ia harus dilanggar sebanyak sembilan kali. Pergerakan Neymar memang semakin memaksa para pemain PSG harus melakukan banyak pelanggaran pada laga ini (25 pelanggaran).

Gol bunuh diri Layvin Kurzawa yang membelokkan tendangan tumit Iniesta, berawal dari sisi kiri. Gol penalti Lionel Messi, berawal dari pelanggaran pemain PSG terhadap Neymar. Gol tendangan bebas dan tendangan penaltinya juga menunjukkan bahwa pelanggaran menjadi awal gol Barcelona tercipta. Terakhir, ia memberikan umpan cantik pada Sergi Roberto usai situasi bola mati.

Pendekatan strategi PSG yang terlalu bertahan memang menjadi bumerang tersendiri bagi kesebelasan asal Prancis tersebut. Apalagi dengan garis pertahanan yang lebih rendah (pada leg pertama agresif di middle third, leg kedua agresif di defensive third), membuat Barcelona bisa semakin menekan garis pertahanan PSG.

Grafis operan Barcelona (via: sqawka.com)

Barcelona sendiri pada laga ini berhasil mencatatkan 20 tembakan (PSG 8) dengan 575 operan (PSG 238). Kesalahan taktikal PSG tersebut membuat kemenangan 4-0 pada leg pertama menjadi bukan apa-apa jika dibandingkan dengan laga leg kedua ini. Strategi tersebut memberikan kesempatan pada Barcelona untuk menciptakan salah satu comeback terbaik dalam sejarah. Selain itu, strategi defensif itu juga membuat mimpi PSG untuk bisa menyisihkan Barcelona dan melangkah ke babak perempat final harus berakhir usai wasit meniupkan peluit panjang.

Komentar