Apa Sanksi yang Cocok untuk Fans Galatasaray?

Berita

by Redaksi 46

Redaksi 46

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Apa Sanksi yang Cocok untuk Fans Galatasaray?

Dua pekan lalu, santer diberitakan sejumlah fans Galatasaray menyerang fans Borussia Dortmund di Istanbul. Kejadian tersebut terjadi pada Selasa malam, atau sehari jelang pertandingan Liga Champions antara kedua tim. Pihak Dortmund mengonfirmasi bahwa dua suporternya mesti menjalani rawat inap.

Sebelumnya, fans Galatasaray pun berulah di London saat mereka melemparkan cerawat (flare) ke dalam lapangan. Malah, sejumlah kursi di dalam stadion hancur karena dirusak.

Bertandang ke Signal Iduna Park, fans Galatasaray ditempatkan di sudut kanan stadion. Saat Shinji Kagawa akan mengambil tendangan sudut, dua buah bom asap pun dilemparkan ke dalam lapangan. Sontak, wasit menghentikan pertandingan. Kepolisan Jerman pun menahan 21 fans yang diduga berbuat onar.

Tidak cukup di situ, pihak kepolisian kini tengah menyelidiki ancaman pembunuhan. Kepala Kepolisian Dortmund, Edard Freyhoff, mengatakan kekacauan terjadi di pusat kota. Jelang pertandingan, sekelompok suporter Galatasaray yang berjumlah sekitar 800 orang menyulut kembang api dan menyalakan cerawat saat jalan menuju stadion.

Dalam investigasi kepolisian mereka ada yang dituduh percobaan pembunuhan, mengganggu ketenangan, melanggar hukum tentang bahan peledak dan  aturan berkelompok.

Usai pertandingan, polisi memeriksa 700 pentonton, dan mengambil gambar wajah mereka sesuai dengan kartu identitas atau paspor. Hal ini dilakukan untuk membantu polisi mengidentifikasi para pembuat onar.

Galatasaray kemungkinan mendapat sanksi tambahan dari UEFA. Sebelumnya, mereka mesti membayar 40 ribu pounds karena fans mereka berulah di Stadion Emirates. Mereka juga mesti mengontak Arsenal untuk mengganti kerusakan yang disebabkan oleh fans.

Memang, koreografi serta menyalakan cerawat adalah hal yang menarik untuk dilakukan. Namun, saat ini FIFA telah melarang cerawat dinyalakan di dalam stadion. Faktor keamanan, serta kesehatan menjadi alasan.

Melihat kejadian yang terus berulang, sulit untuk semata menyalahkan Galatasaray yang tak mampu mengelola fansnya. Hal ini mengindikasikan adanya masalah serius soal kedisiplinan di Liga Turki. Coba saja Anda tengok perilaku suporter Galatasaray dan suporter Turki lainnya di dalam stadion.

Baca juga: Ibu dan Anak ke Stadion, Ayah Cuci Piring di Rumah

Pemandangan yang paling “gila” adalah saat mereka bertemu Fenerbahce dan menyalakan kembang api dari atap stadion. Ketika wasit membunyikan peluit, mereka melempar kertas gulung, dan menyalakan kembang api tersebut. Akibatnya, sejumlah papan iklan terbakar, pertandingan pun dihentikan.

Benarkah ini merupakan tabiat orang Turki yang mudah marah dan menjadi gampang melakukan keonaran? Atau pengelola liga yang tak mampu mendidik suporternya untuk lebih disiplin?

Menyalakan cerawat seolah menjadi hal yang biasa, padahal Jerman—dan negara lainnya—memiliki aturan khusus soal penggunaan bahan peledak, dalam hal ini kembang api. Di Liga Indonesia saja, PSSI melalui Hinca Panjaitan menyebut cerawat adalah sebuah kejahatan internasional. Hal tersebut membuat sejumlah suporter klub di Liga Indonesia sudah mulai meminimalisasi menyalakan cerawat di tengah pertandingan. Sejumlah panitia penyelenggara pun seringkali merazia suporter yang kedapatan membawa cerawat.

Jadi, apa sanksi yang cocok bagi fans Galatasaray? Atau, siapa yang cocok disanksi UEFA? Fans, klub, atau pengelola Liga Turki?





Komentar