Sepakbola Israel: Dibenci di Asia, Diterima di Eropa

Cerita

by redaksi

Sepakbola Israel: Dibenci di Asia, Diterima di Eropa

Indonesia hampir membuat sejarah dengan lolos ke Piala Dunia 1958. Tapi di tengah jalan, hal tersebut tak pernah terjadi. Indonesia memutuskan untuk tidak bertanding karena lawan yang mereka hadapi adalah Israel.

Baca kisahnya di sini: Ketika Timnas Indonesia Menolak Bertanding Demi Palestina.

Bukan hanya Indonesia yang menolak, tercatat dalam gelaran tersebut sejumlah negara timur tengah juga menolak bertanding dengan Israel. Mesir dan Sudan pun menolak bertanding. Hal ini berbuntut panjang. Sebagai aksi solidaritas terhadap Palestina pada medio 50-70an mayoritas negara di timur tengah sepakat menolak bertanding dengan Israel. Mereka lebih baik mendapatkan sanksi karena walk out, ketimbang mengakui keberadaan penjajah.

Ini yang membuat status keanggotaan Israel di AFC dipersoalkan. Mereka tidak menganggap dan tidak ingin nama Israel ada di konfederasi. Pada 1974, Kuwait membuat proposal untuk mengeluarkan Israel dari AFC. Hasilnya 17 setuju dan 13 menolak, sementara enam abstain. Proposal ini tak lain terkait dengan pelaksanaan Asian Games 1974. Kala itu, Kuwait dan Korea Utara terpaksa menolak bertanding, karena lawan yang dihadapi adalah Israel.

Dibuang dari AFC, Israel pun bergabung dengan Oseania pada 1974. Tapi, faktor geografis membuat Israel tak betah. Mereka mesti berpergian lebih jauh untuk partai tandang.

Pada 1991 sejumlah klub Israel mulai berpartisipasi di kompetisi antarklub Eropa. Mereka pun mengikuti kualifikasi Piala Dunia pada 1992. UEFA akhirnya menampung Israel untuk menjadi anggota pada 1994.

Beberapa jam ke belakang, UEFA melarang setiap klub untuk tandang ke Jerusalem. Faktor keamanan menjadi alasan UEFA dalam mengeluarkan keputusan tersebut.

UEFA sama sekali tidak menyinggung terkait Israel yang melakukan penyerangan ke Palestina. Padahal, Israel menyalahi statuta FIFA pasal 3. Standar ganda seperti diterapkan FIFA dan UEFA dalam menangani Israel.

Padahal secara tegas dalam statuta tersebut tertulis: “Diskriminasi dalam bentuk apapun terhadap negara, orang pribadi atau sekelompok orang dengan membawa-bawa etnis,jenis kelamin , bahasa, agama, politik atau alasan lain sangat dilarang dan akan dihukum lewat suspensi atau dihapus dari keanggotaan,”

Tampaknya jika Sepp Blater tak lagi menduduki jabatan Presiden FIFA tahun depan, tampaknya nasib Israel akan terancam. Jika keanggotaannya dihapuskan FIFA, lantas bagaimana nasib sepakbola Israel?

Ya, mereka akan kembali terusir.

[fva]

Komentar