Kembalinya Era Kejayaan Bek Kiri

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Kembalinya Era Kejayaan Bek Kiri

Ditulis oleh Ibnu Ahmadsyah

Dalam sepakbola, bek kiri adalah keistimewaan. Ia serupa penjaga gawang, bukan hanya posisi yang tak diminati banyak pemain, tetapi juga merupakan posisi yang tak bisa diisi oleh sembarang orang.

Posisi ini biasanya lebih efektif apabila dihuni pemain kidal, di mana jumlahnya tentu lebih sedikit dibandingkan pemain yang mengandalkan kaki kanan. Makanya, posisi ini sering jadi pilihan teraman buat para pemain kidal.

Walau demikian, tak semua pemain kidal meminati posisi ini. Menjadi gelandang tengah, playmaker, winger ataupun penyerang sudah tentu jauh lebih menarik bagi mereka untuk unjuk gigi. Contoh sempurna siapa lagi kalau bukan maestro sepakbola asal Argentina, Lionel Messi. Coba Anda bayangkan seandainya Messi menjadi bek kiri, mungkin saat ini Cristiano Ronaldo sudah mendominasi penghargaan Ballon d’or sendirian.

Kendati cenderung kurang peminat, toh posisi bek kiri masih eksis di permainan sepakbola. Perkembangan fungsi bek kiri pun terus berkembang seiring perubahan taktik yang semakin berkembang.

Bek Kiri yang Cenderung Defensif di Masa Lalu

Pada era sepakbola 1950-an hingga akhir 1980-an, pola pertahanan yang masih jamak dipakai adalah pola dua dan tiga bek. Posisi yang lebih dikenal pada waktu itu adalah wingback kiri, posisi dengan tanggung jawab yang sedikit berbeda dengan bek kiri. Wing-back kiri biasanya berada di sisi kiri lini tengah menemani para gelandang. Nilton Santos, Jose Antonio Camacho, dan Andreas Brehme adalah beberapa wingback kiri yang menonjol di era ini. Pengecualian datang dari Italia yang gemar menggunakan pola banyak bek, dan menghadirkan Giacinto Fachetti sebagai pionir bek kiri yang legendaris.

Faktanya, posisi bek kiri baru benar-benar hadir pada era 1990-an, di mana pola empat bek mulai jamak digunakan. Walau demikian, bek kiri yang berkualitas tak serta-merta langsung bermunculan. Selain pemain kidal dengan kemampuan hebat sulit ditemui, kelangkaan ini disebabkan kegemaran tim sepakbola menggunakan formasi 4-4-2 yang sedang berkembang ketika itu.

Formasi ini mengandalkan serangan sayap di kedua sisi dengan mengandalkan umpan silang dan tusukan di kedua sisi lapangan. Pada masa ini belum banyak inverted winger yang gemar melakukan tusukan ke dalam, sehingga bek sayap yang ada cenderung statis bertahan karena tidak perlu ikut menyerang mengisi ruang yang biasa ditinggalkan inverted winger. Bila ikut menyerang, bek-bek kiri yang ada pun rata-rata hanya mengandalkan crossing dan umpan tarik.

Terlepas dari peran bek sayap yang masih terbatas, beberapa bek kiri yang agresif dan sering mencetak gol mulai bermunculan. Nama-nama seperti Roberto Carlos, Denis Irwin, dan Bixente Lizarazu tentu masih lekat di ingatan anda. Jangan lupakan pula kehebatan “Lord” Aji Santoso sebagai bek kiri di timnas Indonesia. Namun, kemunculan versatile side back berkaki kanan seperti Javier Zanetti dan Gianluca Zambrotta yang disiplin ternyata menenggelamkan potensi bek-bek kiri kidal lainnya. Kehadiran bek tengah yang bisa bermain di bek kiri seperti Paolo Maldini, Frank De Boer, dan Christian Panucci juga turut membatasi kehadiran bek kiri agresif di masa itu.

Era Bek Kiri Modern yang Mulai Berkembang

Seiring perkembangan taktik sepakbola, fungsi bek kiri pun turut berkembang. Berkembangnya formasi 4-2-3-1 dan 4-3-3, ternyata melahirkan inverted winger yang gemar menusuk ke dalam. Cristiano Ronaldo, Arjen Robben, Franck Ribery, Marco Reus dan Eden Hazard adalah contoh winger dengan karakter tersebut. Bek kiri pun dituntut tampil agresif untuk menghadirkan variasi serangan dari sayap sekaligus menjaga pertahanan. Bagi bek kiri modern, kemampuan menyerang dan bertahan yang baik merupakan suatu kewajiban.

Baca ulasan taktik kami tentang inverted winger sebagai penentu permainan

Sebagai tambahan, silakan simak sejarah munculnya formasi 4-3-3 dan ulasan formasi 4-2-3-1


Kemunculan Ashley Cole dan Patrice Evra di Liga Inggris menandai awal kiprah bek kiri modern. Pada masa kejayaannya, kedua bek kiri ini memiliki kecepatan dan stamina yang luar biasa. Kemampuan mereka dalam membantu penyerangan dan pertahanan pun sama baiknya. Penggemar Chelsea dan Manchester United pasti tahu benar kehebatan mereka. Keduanya pun sempat bergantian terpilih sebagai bek kiri terbaik di  Liga Inggris dan UEFA.

Tak lama kemudian, talenta-talenta baru seperti David Alaba, Marcelo dan Jordi Alba pun menggusur kemapanan Cole dan Evra yang mulai menua. Ketiga pemain ini memiliki karakter uniknya masing-masing, di mana kelebihan David Alaba yang mampu bermain di banyak posisi, Marcelo yang skillfull dan Jordi Alba yang luar biasa cepat. Kedisiplinan dalam menyerang dan bertahan pun tetap mereka miliki.

Namun, berbeda dengan Marcelo yang bek kiri tulen, hal unik justru terjadi pada  Jordi Alba dan David Alaba. Kedua pemain ini sama-sama mengalami transformasi posisi sebelum mantap menjadi bek kiri. Jordi Alba asalnya sayap kiri, namun ia disulap menjadi bek kiri oleh Unai Emery pada awal kariernya di Valencia. Maka tak heran apabila Alba begitu cepat dalam berlari. David Alaba pun asalnya adalah gelandang tengah, namun ia disulap menjadi bek kiri oleh Jupp Heynckes. Alaba pun melejit karena kecerdasan taktik khas pemain tengah dan kecepatan khas winger yang dimilikinya. Hebatnya, Alaba bahkan terpilih sebagai bek kiri terbaik di UEFA.com Team of The Year pilihan suporter selama dua tahun terakhir, dan berhasil menjadi pemain terbaik Austria karena perubahan posisi tersebut.

Satu lagi efek dari perkembangan taktik sepakbola yang mengagungkan fleksibilitas adalah makin banyaknya bek kiri berkaki kanan. Contoh nyata adalah Cesar Azpilicueta di Chelsea, Mattia De Sciglio di Milan dan Philipp Lahm di Bayern Muenchen. Azpilicueta sebenarnya adalah bek kanan, namun ia kalah bersaing dengan Branislav Ivanovic. Ia pun terpaksa digeser ke kiri. Hebatnya, ia mampu menyingkirkan Ashley Cole dan Filipe Luis yang bek kiri tulen. Situasi yang sama pun terjadi pada De Sciglio, yang kalah bersaing dengan Ignazio Abate di pos bek kanan. Ia pun digeser ke kiri dan malah tampil hebat di sana. Kalau Philipp Lahm, pemain yang satu ini memang tak perlu diragukan lagi kecerdasan dan fleksibilitasnya. Di masa mudanya, ia malah lebih sering ditempatkan sebagai bek kiri di Bayern, sebelum bakat hebat David Alaba ditemukan.

Era Kebangkitan Bek Kiri

Bila Anda akrab dengan Football Manager atau FIFA, salah satu kesulitan yang Anda temukan saat ini adalah menentukan bek kiri mana yang harus dibeli. Jumlah bek kiri dengan potensi besar saat ini terlampau banyak, bahkan mulai melebihi bek kanan. Bila sebelumnya beberapa negara top dunia hanya memiliki satu bek kiri andalan, kini mereka bisa tersenyum lebar karena banyaknya bakat muda yang bermunculan. Terutama di Perancis dan Spanyol.

Perancis saat ini memiliki tiga bek kiri muda yang naik daun, yakni Layvin Kurzawa dari AS Monaco, Lucas Digne dari PSG, dan Benjamin Mendy dari Marseille. Ketiga pemain ini mungkin saling mengutuki diri mengapa lahir di era yang sama. Faktanya, mereka sudah menggebrak Ligue 1 sejak beberapa musim lalu, dan sudah menjadi buruan klub besar Eropa. Sepertinya Patrice Evra pun tak perlu khawatir memikirkan penerusnya di timnas Prancis kelak.

Situasi yang kurang lebih sama pun terjadi di Spanyol. Saat ini, ada tiga bek kiri muda yang mencuat bersamaan. Mereka adalah Jose Luis Gaya dari Valencia, Juan Bernat dari Bayern Muenchen, serta Alberto Moreno di Liverpool. Karakter ketiganya pun hampir serupa, sama-sama sangat cepat dalam berlari dan rajin melakukan overlap, persis seperti Jordi Alba. Bila lengah sedikit, dalam beberapa tahun ke depan mungkin Alba sudah tersingkirkan.

Tak mau kalah, beberapa negara lain pun memiliki bek kiri wonderkid lainnya yang siap bermekaran. Sebut saja Brazil yang memiliki Alex Sandro (Porto) dan Alex Telles (Galatasaray), Inggris yang memiliki Luke Shaw (Manchester United), Portugal yang berharap pada Raphael Guerreiro (Lorient), Argentina yang memiliki Nicolas Tagliafico (Banfield) dan Jonathan Silva (Sporting), Ghana yang membanggakan Baba Rahman (Augsburg), Italia yang mempunyai Cristiano Biraghi (Chievo) dan Mattia De Sciglio (Milan) yang berkaki kanan, serta fenomena Jetro Willems (PSV) milik Belanda yang musim lalu hampir menjadi raja assist Eredivisie dengan 12 assist. Wah, agresif sekali tampaknya si Willems ini.

Nama-nama di atas adalah deretan bek kiri yang diprediksi beberapa gim simulasi manager menjadi pemain hebat di masa datang. Negara-negara top dunia kini tak lagi kesulitan mencari bek kiri berkemampuan hebat sebagai andalan. Masa kejayaan bek kiri pun tampaknya akan segera tiba, seiring masa kemunduran para penyerang yang akan segera digantikan para inverted winger dan false nine di taktik sepakbola modern saat ini. Ah tak sabar rasanya melihat kemapanan mereka di masa datang.

Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Ekonomi Pembangunan Universitas Padjadjaran, bisa dihubungi lewat akun Twitter @ibensteven

Komentar