4 Alasan Pentingnya Klub Melakukan Tes Medis kepada Calon Pemain

Sains

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

4 Alasan Pentingnya Klub Melakukan Tes Medis kepada Calon Pemain

Pada akhirnya, Loic Remy mendarat di London. Ia telah resmi berkostum Chelsea. Padahal, dua pekan sebelumnya ia sudah begitu intim dengan manajemen Liverpool.

Apa masalahnya? Remy dinyatakan gagal saat tes medis di Liverpool. Anehnya, Chelsea menerimanya dengan tangan terbuka. Banyak yang berpendapat, tes medis di setiap klub memiliki standar yang berbeda. Persamaannya adalah klub biasanya akan menolak pemain dengan resiko cedera jangka panjang.

Hal serupa terjadi di Manchester United. Radamel Falcao diisukan gagal menjalani tes medis, karena masih mengalami cedera. Namun, United tetap bersikukuh untuk menggaet penyerang Kolombia tersebut.

Direktur Performa Klinis Labotarium Timnas Inggris,  Dr Charlotte Cowie menyatakan setiap pemain tidak benar-benar lulus atau gagal saat melakukan tes medis. “Biasanya, ada sejumlah masalah dan itu tergantug dari klub apakah klub akan mengambilnya atau tidak. Klub biasanya tertarik pada cedera yang berpengaruh pada efek jangka panjang.”

Apa yang dikatakan Dr Cowie tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi pesepakbola elit. Lantas apa sebenarnya funsgi dari tes medis ini?

1. Melihat Bahaya yang Terpendam

Pemindai MRI (Magnetic Resonance Imaging) dapat menguraikan cedera yang tidak terlihat. “Jika pemain telah menjalani operasi, atau pernah cedera sebelumnya, kami akan memindai untuk melihat adanya degenerasi.”

Degenerasi merupakan suatu perubahan keadaan secara fisika dan kimia dalam sel, jaringan, atau organ yang bisa menurunkan efisiensi kerja. Degenerasi pada tulang dapat menimbulkan penyakit osteoartistis. Sedangkan pada syaraf bisa menimbulkan penyakit alzheimer.

2. Tes Fungsi Jantung (Cardiac) dan Tes Darah

Pesepakbola biasanya muda dan sehat. Resiko kegagalan fungsi jantung sangat kecil. Namun, Lab Timnas Inggris telah memperkenalkan EGC, sebuah ultrasound untuk melihat anatomi dari jantung para pemain. Mereka pun biasanya menyertakan tes stres yang memonitor mereka selama latihan.

4. Isokinetic Assessment

Kontraksi isokinetik yaitu suatu kontraksi di mana otot bekerja dengan kecepatan konstan dengan menanggung beban yang besarnya secara proporsional dengan kekuatannya.

Jika pesepakbola terlalu dominan pada satu kaki, maka kemungkinan untuk cedera semakin tinggi. Biodex Isokinetic Dynamometer berlaku sebagai penanda strength, ketahanan, dan power, yang juga menilai rasio antara paha depan dan hamstrings untuk melihat kekuatan dua otot tersebut.

“Jika satu otot lebih lemah dari yang lain, dan perbedaannya lebih dari sepuluh persen, para pemain memiliki resiko cedera yang lebih tinggi,” tutur ilmuan olahraga, Nathan Miller.

4. Kebugaran Aerobik

Sejumlah ilmuan olahraga yakin pada tes VO2 Max sebagai kunci untuk mengukur kapabilitas aerobik seorang pemain. Konsumsi oksigen dapat dilihat dari penambahan kecepatan saat tes VO2 Max di atas treadmill.

“Dalam jangka waktu 12-15 menit, para pemain memulai di 8 km/jam. Naik 1 km/ja, setiap menit hingga mencapai 20 km/jam. Ini akan memperlihatkan berapa kecepatan maksimal setiap pemain,” tutur ilmuan olahraga Carl Wells.

Menjadi seorang atlet, terutama atlet sepakbola diperlukan kondisi fisik yang benar-benar fit. Ketahanan seorang pemain benar-benar diuji di atas lapangan. Wajar jika setiap klub memaksa pemain untuk menjalani tes medis, sehingga mereka tidak membeli kucing dalam karung.

Sumber gambar: shortlist.com

Komentar