Klopp Lebih Klop di Madrid

Taktik

by Redaksi 46

Redaksi 46

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Klopp Lebih Klop di Madrid

Juergen Klopp mendapatkan 44% dukungan dalam jajak pendapat yang dilakukan media Spanyol, Marca. Akhir musim ini, Klopp memutuskan untuk tidak memperpanjang kerjasamanya dengan Borussia Dortmund. Akhir musim ini pula, Klopp menjadi pelatih yang paling diburu oleh kesebelasan yang tak puas dengan kinerja para pelatihnya.

Salah satunya adalah Real Madrid. Pada musim keduanya, Carlo Ancelotti gagal meraih gelar di La Liga maupun di Liga Champions. Padahal El Real mendapat suntikan tenaga dari James Rodriguez dan Toni Kroos yang jika dijumlahkan nilai transfernya mencapai 83 juta pounds.

Antusiasme—yang mungkin sebagian besar—pendukung Real Madrid terhadap Klopp memang cukup beralasan. Klopp dianggap mampu membawa Dortmund sebagai kesebelasan yang berkarakter. Mereka memainkan sepakbola yang, walaupun kerap bermain defensif, tapi tetap menekan dan mengancam gawang lawan.

Antusiasme tersebut terlihat dari kecilnya dukungan terhadap Rafa Benitez dengan 8,9 persen suara. Padahal, Benitez merupakan pelatih yang paling mungkin melatih El Real. Klopp sendiri membantah telah melakukan pembicaraan dengan kesebelasan manapun. Namun, jika kesepakatan tersebut terealisasi, mungkinkah Klopp akan klop dengan El Real?

Baca juga: Klopp dan Kepergian-kepergian yang mungkin terjadi

Perbedaan Karakter

Menurut kolumnis Bleacher Report, Clark Whitney, Klopp adalah seorang mentor bagi para pemainnya. Pernah suatu ketika ia membawa para pemainnya dalam camp pra-musim di Swedia. Namun, bukan latihan fisik yang disasar Klopp, melainkan membangun ketangguhan di dalam tim dan persahabatan antar pemain.

Menurut Whitney, para pemain Dortmund begitu terinspirasi dengan semangat yang ada dalam diri Klopp. Ini yang membuat mereka mencurahkan semua kemampuannya untuk tim. Klopp menekankan bahwa setiap pertandingan itu penting dan setiap gol itu spesial.

Ini yang memengaruhi gaya bermain Dortmund di atas lapangan yang terlihat begitu semangat dan menekan lawannya selama 90 menit penuh.

Terus Menekan

Di atas lapangan, saat tidak memegang bola, Dortmund selalu menekan lawan agar melakukan kesalahan. Tujuannya jelas, Dortmund mesti melakukan serangan balik cepat yang terorganisasi yang bisa menghasilkan peluang. Banyak gol Dortmund yang berasal dari tekanan-tekanan tersebut.

Pada musim ini, Klopp lebih berhati-hati saat kesebelasannya kehilangan bola. Ia seolah mengontrol secara penuh di pinggir lapangan, mengomandoi anak asuhnya untuk terus menekan lawan. Saat bola berhasil direbut dan melakukan serangan balik, Klopp kembali ke tempat duduknya, sembari berharap anak asuhnya cukup kreatif dalam menyelesaikan peluang.

Dortmund beruntung diberkahi para pemain yang memiliki kemampuan kontrol bola yang amat baik. Di lini serang, ada nama Mario Goetze dan Marco Reus yang memiliki kecepatan serta kontrol bola yang amat baik. Belum lagi ada Shinji Kagawa yang memiliki visi bermain serta umpan-umpan yang akurat.

Dengan pemain-pemain tersebut, Dortmund tinggal menempatkan Goetze atau Reus di lini serang, sembari menunggu umpan-umpan akurat dari lini tengah saat melakukan serangan balik.

(Pemain) Real Madrid Bukanlah Dortmund

Pertanyaan paling mendasar dari kehadiran Klopp di Madrid adalah mungkinkah para pemain Madrid memiliki mental dan daya juang yang sama seperti pemain Dortmund?

Dalam sejumlah artikel, disebutkan bahwa ketika diturunkan di atas lapangan, para pemain Dortmund seperti dirasuki oleh kekuatan-kekuatan di luar dirinya yang mampu mendorong para pemain untuk memberikan kemampuan lebih. Kebanggaan terhadap identitas klub, serta ditularkannya semangat dari Klopp membuat hal tersebut amat mungkin terjadi.

Mengapa tidak sedikit penggemar El Real yang marah saat Gareth Bale tidak memberikan umpan kepada rekan-rekannya, tapi ia malah menyia-nyiakan peluang? Jawabannya barangkali karena Madrid mungkin tidak akan selalu mendapatkan peluang seperti yang didapatkan Bale. Menyianyiakan peluang berarti menjauhkan kesebelasan dari kemenangan.

Apa yang ada dalam pikiran Bale? Apakah tujuannya mencetak gol hanya untuk “pembuktian”? Mengapa Cristiano Ronaldo sempat memperlihatkan mimik tidak senang saat Bale mencetak gol? Bukankah gol itu untuk kejayaan Real Madrid juga?

Saat di atas lapangan, sejatinya para pemain berjuang demi kejayaan kesebelasan dan bukan untuk pembuktian pribadi. Di Dortmund, Klopp menjaga agar tidak ada pemain yang lebih besar dari kesebelasan itu sendiri.

Saat Goetze pindah ke Bayern Munich, Klopp tidak teramat panik. Ia sudah menyiapkan Henrikh Mkhitaryan yang bermain apik dan hampir selalu diturunkan dalam tiap laga Dortmund. Saat Robert Lewandowski “dibajak” Munich, Klopp sudah “mendidik” Aubameyang untuk mengisi pos kosong di lini serang.

Salah satu tantangan Klopp di Madrid adalah bagaimana ia bisa menyatukan sebuah tim bertabur bintang, untuk bermain dalam sebuah tim, dan bermain untuk kejayaan tim.

Punya Skuat Bertabur Bintang

Salah satu keuntungan jika Klopp bergabung dengan Madrid adalah kualitas para pemain yang di atas rata-rata. Para pemain Madrid pun sudah terbiasa bermain dalam tempo tinggi. Di lini pertahanan, Pepe, Sergio Ramos, Marcelo, dan Dani Carvajal, mampu bermain dengan mengandalkan fisik dan kecepatan. Di lini tengah, Toni Kroos, James Rodriguez, dan Luka Modric, adalah nama-nama yang mampu diandalkan untuk mengirimkan umpan panjang, maupun mengkreasikan peluang. Di lini serang, Madrid tentu tak perlu diragukan: Ronaldo, Bale, dan Benzema, menjadi ancaman serius bagi lini pertahanan kesebelasan manapun.

Dengan hanya menempatkan Benzema di lini serang dan menarik Ronaldo serta Bale bermain lebih rendah, agaknya Klopp sudah bisa mematangkan strateginya untuk bermain menekan, dan menciptakan peluang lewat serangan balik.

Selain itu, Klopp pun tak perlu takut jika ada pemainnya yang “dibajak” oleh kesebelasan lain. Misalnya, Isco ditarik oleh Manchester United, Madrid masih memiliki kuasa untuk mendatangkan pemain lain—bahkan yang jauh lebih baik—macam Eden Hazard. Saat Benzema dirayu oleh Arsenal, misalnya, Klopp bisa saja memberikan proposal kepada manajemen El Real untuk “membawa pulang” Diego Costa ke kota Madrid.

Dengan cara bermain yang menekan penuh, sepertinya Madrid tidak perlu takut kalah lagi oleh Atletico yang memiliki kemiripan dalam gaya bermain. Madrid pun tak perlu ragu lagi untuk berkonfrontasi dengan Barcelona; dan Madrid tak perlu takut lagi tidak bisa menjaga pergerakan Andrea Pirlo.

Jika harus memilih kesebelasan dari hal sumber daya, Madrid adalah pilihan yang tepat bagi Klopp. Biar waktu yang menjawab semua. Karena tinggal di Madrid, hidup akan serasa jauh lebih mudah*.

Bagaimana menurut Anda? Mungkinkah Klopp menuju Madrid? Akan sukseskah ia di Santiago Bernabeu?

*Bisa jadi lebih mudah frustasi, lebih mudah marah, lebih mudah jengkel.

Sumber gambar: zimbio.com

Komentar