Anti-Taktik Conte Melalui Tiga Peran Ander Herrera

Analisis

by Dex Glenniza 210115

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Anti-Taktik Conte Melalui Tiga Peran Ander Herrera

Kejutan yang tertunda dari José Mourinho untuk Antonio Conte akhirnya berhasil dituntaskan semalam (16/04). Bukan hanya berhasil mematikan lini tengah dan mengimbangi Chelsea, namun Manchester United juga pada akhirnya berhasil menang 2-0 di Old Trafford.

Dari awal pertandingan, kita sempat dibuat kaget oleh Mourinho yang memainkan susunan pemain seperti 1-4-3-3. Ia mengistirahatkan Zlatan Ibrahimović dan Henrikh Mkhitaryan. Kemudian dengan pemain-pemain (yang sejujurnya) “tidak layak” starter seperti Marouane Fellaini dan Ashley Young (yang memakai ban kapten), kita semakin dibuat skeptis oleh keputusannya ini.

Namun Mourinho pastinya tidak sepolos itu. Dari saat sepak mula, kita malah langsung bisa melihat bahwa ia melakukan pencerminan (mirroring) taktik Conte dengan memainkan skema tiga bek juga. Hanya bedanya, ia tidak memasang ujung tombak, melainkan mencoba memenuhi lapangan tengah dengan lima pemain.

Jesse Lingard dan Marcus Rashford diplot untuk bergantian mengisi posisi penyerang, sehingga United seperti memainkan dua penyerang, padahal dua “penyerang”-nya itu mengawali posisi mereka dari lini tengah, bukan lini depan.

United langsung bisa mencetak gol setelah Ander Herrera mengintersep bola operan di lini tengah (meskipun intersepnya berbau handball). Ia kemudian mengirimkan operan terobosan kepada Rashford yang tinggal berhadapan satu lawan satu dengan Asmir Begović.

Pada babak kedua, Herrera sendiri yang selanjutnya berhasil mencetak gol setelah tendangannya sempat memantul Kurt Zouma, dan berhasil meluncur masuk ke gawang kiper asal Bosnia-Herzegovina tersebut. Begović sendiri bermain menggantikan Thiabaut Courtois yang menderita cedera pergelangan.

Tiga peran penting Herrera

Salah satu hal yang menonjol pada pertandingan ini adalah peran Herrera yang diberikan tugas utama untuk menjaga Eden Hazard. Semalam, Hazard tidak berkutik dan berhasil "dikantongin" oleh Herrera.

Pada pertandingan antara Chelsea dan United di Piala FA, Herrera juga sempat memainkan peran ini. Bersama gelandang-gelandang “Setan Merah” lainnya, United berhasil mengisolasi lini tengah Chelsea. Tapi pada menit ke-35, Herrera diusir oleh wasit sehingga United harus bermain dengan 10 pemain. Di situ lah Mourinho kemudian mengalami kegagalan dari taktik “kejutan”-nya tersebut.

Hal berbeda pada pertandingan semalam, Mourinho bisa memainkan taktik “kejutan” miliknya ini dengan lancar. Pada akhir pertandinganpun ia mengakuinya, “Pertandingan [Piala FA] bisa kami kontrol secara penuh ketika kami bermain dengan 11 pemain, dan hanya keputusan yang membuat kami bermain dengan 10 pemain yang membuat Chelsea memiliki kesempatan menjadi dominan,” curhat Mourinho seperti yang saya kutip dari interviu pasca-pertandingan di televisi.

“Kami tahu dengan bermain seperti ini akan menyulitkan mereka,” lanjut mantan manajer Chelsea tersebut.

Manchester United pada kenyataanya berhasil menyulitkan Chelsea dengan mengisolasi lini tengah mereka dengan menumpuk pemain di tengah (Herrera menjaga Hazard; Matteo Darmian menjaga Pedro; Fellaini, Paul Pogba, Lingard, dan Rashford menutup ruang bagi N`Golo Kanté dan Nemanja Matić) dan di wilayah kedua sayap (Ashley Young dan Luis Antonio Valencia menjaga Victor Moses dan César Azpilicueta).

Bukan hanya berhasil mencetak dua gol, mereka juga membuat Chelsea tidak berhasil mencatatkan satupun tembakan tepat sasaran ke arah gawang (shot on target) semalam. Diego Costa dibiarkan tidak tersuplai. Chelsea benar-benar terlihat kalah secara jumlah pemain.

***

Kembali ke Herrera, ia bukan hanya berhasil menjaga Hazard, tapi ia juga berhasil menjadi gelandang kreatif yang mencetak satu asis melalui operan terobosan cantiknya dan juga satu gol.

Pada golnya bahkan kita bisa melihat jika ia bisa bertahan dan menyerang dengan seimbang. Saat bertahan, area permainannya berada di sisi kanan (sisi kiri penyerangan Chelsea, di mana Hazard bermain). Tapi ketika menyerang, ia bisa menjelajah lapangan sampai ke wilayah manapun. Tembakannya yang menghasilkan gol berasal dari pergerakan Herrera di kiri (sisi kanan pertahanan Chelsea).

Jadi, dalam satu pertandingan itu semalam, pemain asal Spanyol ini berhasil memainkan tiga peran sekaligus, yaitu man-marking, playmaker, dan box-to-box midfielder. Betapa melelahkannya pastinya.

Wajar juga kemudian, Herrera yang akhirnya mendapatkan kartu kuning, menjelang akhir pertandingan menyerahkan peran man-marking-nya tersebut kepada Michael Carrick. Menjelang akhir pertandingan tersebut, Chelsea bahkan terpaksa meninggalkan skema tiga bek mereka untuk mereka ubah sampai tiga kali.

Conte melakukan perubahan-perubahan, tapi United masih terlalu rapat

Dari awal pertandingan, Chelsea sendiri tidak maksimal memainkan skema tiga bek mereka karena Marcos Alonso menderita cedera saat pemanasan. Posisi wing-back kemudian diisi oleh Azpilicueta dan Victor Moses.

Perubahan pertama Conte lakukan saat memasukkan Francesc Fàbregas (menit ke-54 menggantikan Moses). Formasi The Blues beralih menjadi 1-4-2-3-1.

Perubahan kedua kemudian terjadi ketika Conte memasukkan Willian (menit ke-66 menggantikan Matić). Formasi mereka beralih lagi menjadi 1-4-2-4, Pedro berpindah ke sayap kiri, Willian sayap kanan, serta Hazard dan Costa di tengah.

Masih belum berhasil mengakali mirroring Mourinho, Conte melakukan perubahan ketiga ketika memasukkan Ruben Loftus-Cheek (menit ke-83 menggantikan Kurt Zouma), di mana Chelsea kembali memainkan 1-4-2-3-1 dengan Pedro sebagai full-back.

Namun menjelang akhir laga tersebut, Mourinho seperti sudah puas dengan hasil pertandingan sehingga ia meresponnya dengan menumpuk para pemainnya di lini belakang. Hal ini membuat respon-respon taktikal Conte tidak membuahkan hasil, bahkan tidak membuahkan shot on target.

Hasil pertandingan yang berefek pada perburuan gelar

Setelah dipecundangi oleh Chelsea dua kali musim ini (4-0 di Liga Primer dan 1-0 di Piala FA), kemenangan United atas Chelsea ini terasa begitu manis untuk Mourinho.

Pertandingan semalam benar-benar menunjukkan jika Mourinho telah belajar banyak. Ia berhasil bermain defensif dengan “tidak terlihat terlalu defensif” melalui penumpukkan pemain di lini tengah.

Sementara pertandingan ini juga menyoroti jika Conte tidak memiliki alternatif taktik yang baik ketika ia kehilangan wing-back­-nya.

Pada saat kalah melawan Crystal Palace misalnya, Conte kehilangan Moses. Sementara semalam, ia kehilangan Alonso. Mirroring taktik Mourinho sejak awal pertandingan ini semakin membuat skema tiga bek pamungkas khas Conte terisolasi.

Dengan kekalahan ini, Chelsea memang tetap berada di puncak klasemen. Tapi hikmah yang bisa diambil adalah perburuan gelar juara akan kembali seru karena gap antara Chelsea dengan Tottenham Hotspur di peringkat kedua hanya tinggal berjarak empat poin saja.

Liga Primer sendiri masih menyisakan enam pertandingan lagi untuk Chelsea dan Spurs, serta Manchester City di peringkat keempat.

Komentar