Kategori: Editorial

Gulir ke bawah untuk selengkapnya

Sepak Bola Indonesia di Bawah Langit Beracun

Di Indonesia, asap karhutla kadang diperlakukan seperti cuaca biasa. Gangguan visual bisa diabaikan selama wasit masih meniup peluit dan kamera masih menangkap bola.

Setelah Berkali-kali Terjatuh, Terus Bangun, Akhirnya Kita Juara!

Pastinya Chumbawamba tak pernah membayangkan bahwa penggalan lirik lagu Tubthumping suatu hari akan terdengar seperti lagu kebangsaan tidak resmi bagi sepak bola Indonesia.

Orang yang Belum Selesai Menonton

Beberapa tahun lalu, dalam perayaan 10 tahun Pandit Football, saya menulis sebuah kalimat yang sengaja dibuat agak provokatif: pakar telah mati.

Ketika FIFA Mulai Menjual Sepak Bola ASEAN

Pertanyaan paling penting adalah berapa nilai komersial FIFA ASEAN Cup, siapa yang memilikinya, dan berapa yang kembali menjadi pembangunan sepak bola ASEAN?

PSSI Butuh Sistem Pembinaan, Bukan Sekadar Partner Asing

Kritik Terhadap PSSI dan Diplomasi Development Luar Negeri: Banyak MoU dengan Klub atau Federasi Asing, Bagaimana Hasilnya?

Persija vs Persib Kembali ke Jakarta: Momentum Akhiri Tradisi "Paranoia" Keamanan Ibu Kota

Sabtu pekan ini (12/9), Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dipastikan bergemuruh. Setelah tujuh tahun lamanya diselimuti awan ketidakpastian dan pengusiran yang melelahkan, akhirnya laga klasik antara Persija Jakarta menjamu Persib Bandung akhirnya r

Ironi Tiga Dekade yang Belum Juga Membuka Mata PSSI

Kegagalan timnas Indonesia lolos dari babak grup dalam dua edisi beruntun bukan lagi sekadar nasib sial semata. Ini adalah komedi gelap yang menelanjangi betapa rapuhnya fondasi sepak bola kita.

Fenomena Piala AFF 2026 di YouTube Reza Arap dan Ilusi Matinya Televisi

Pada akhirnya, fenomena RCTI menggandeng YouTube Yb milik Reza Arap bukan sekadar kejar-kejaran tren, melainkan strategi untuk menghadapi perubahan perilaku penonton.

Menggugat Akal Sehat Dukungan Erick Thohir untuk FIFA

Keputusan Erick Thohir memberikan dukungan pada rencana FFE adalah tragedi akal sehat sekaligus bentuk pengkhianatan terhadap filosofi dasar sepak bola.

Meremehkan Piala AFF Adalah Kemunafikan Terbesar!

Menjuarai Piala AFF bukan sekadar tentang piala; ini tentang eksorsisme—upacara pengusiran setan masa lalu yang telah menghantui sepak bola kita selama hampir tiga dekade.