Dalam tiga musim terakhir, Persib Bandung cukup berjodoh dengan pemain asing yang berasal dari Italia. Setidaknya jika melihat performa dan perolehan gelar. Nama pertama adalah Stefano Beltrame, yang bergabung pada pertengahan musim 2023/24. Lalu disusul Federico Barba, yang masuk Persib pada awal musim 2025/26.
Bicara soal nama pertama, Beltrame bukanlah pemain kaleng-kaleng. CV-nya yang terbilang oke. Sejumlah klub Italia sempat diperkuatnya, mulai dari SC Bari, Modena FC, Sampdoria, hingga Juventus. Ia pun sempat membela klub Eredivisie Belanda, Go Ahead Eagles.
Benar saja, kualitas yang dimiliki Beltrame nyatanya memberikan dampak positif untuk skuad Maung Bandung kala itu. Didatangkan di pertengahan musim, pemain yang akrab disapa Teto itu langsung mempersembahkan juara untuk Persib.
Ia memiliki peranan yang cukup vital dalam membawa Persib mengakhiri puasa gelar selama 10 tahun. Total, ia mampu menorehkan 4 gol plus 3 asis dari 16 penampilannya selama setengah musim. Tak ayal, para bobotoh pun meminta kepada manajemen klub untuk meneruskan jasa Beltrame yang kala itu hanya diikat kontrak selama setengah musim.
Sayang, kebersamaan itu tidak berlangsung lama karena sang pemain menolak perpanjangan kontrak yang sempat disodorkan. Setelah memberikan satu trofi, ia justru memilih untuk meninggalkan Persib. Keluarga jadi alasan utama dirinya harus cabut. Tentunya kondisi tersebut menyisakan kesedihan dan kekecewaan di kalangan bobotoh yang sudah terlanjur jatuh cinta dengannya.
Setelah satu musim berlalu, skuad Maung Bandung akhirnya kembali diperkuat oleh pemain asal Negeri Piza, yakni pada musim 2025/26. Sepeninggal duo bek tangguh Nick Kuipers dan Gustavo Franca, Persib kembali menambah kedalaman skuad di lini belakang dengan memboyong Federico Barba.
Ia masuk "gelombang kedua" transfer Maung Bandung bersama tiga pemain lain, yakni Andrew Jung, Eliano Reijnders dan Thom Haye. "Datang terlambat", bek kelahiran Roma ini baru bisa menjalani debut pada pekan ke-5 saat Persib menjamu Persebaya.
Kepiawaian Barba dalam menjaga setiap jengkal lini belakang, membuat para Bobotoh langsung jatuh cinta, seperti halnya kepada Beltrame. Selain langsung memberikan dampak positif untuk tim, bek berusia 32 tahun tersebut pun mengenakan nomer punggung yang sama dengan Beltrame yakni 93.
Barba yang datang "terlambat" langsung menjadi idola baru. Bahkan sampai dibuatkan chants khusus oleh para Bobotoh. Namun, di pertengahan musim ia sempat membuat gaduh setelah memberikan pernyataan harus pulang dan tidak melanjutkan petualangannya di skuad Maung Bandung.
Keluarga jadi alasan utama. Bahkan dalam beberapa video yang beredar di media sosial memperlihatkan bahwa sang pemain sempat ogah-ogahan ketika latihan. Tidak sedikit dari bobotoh yang merasa kecewa dengan gestur yang diperlihatkan oleh Barba. Banyak yang mempertanyakan tentang profesionalitas sang pemain. Apalagi, ia dikontrak selama dua musim.
Tetapi, seiring berjalannya waktu, Barba sudah tampak kembali nyaman. Terutama setelah keluarganya sempat datang ke Bandung. Termasuk dengan sang istri yang sebelumnya sempat mengeluh di media sosial. Hal tersebut pun jadi alasan lain yang membuat Barba sempat tidak betah.
Meski sudah terlihat nyaman kembali, tidak sedikit dari bobotoh yang masih was-was dengan kepergian bek berpostur 187 cm itu. Apalagi, mereka memiliki memori buruk sepeninggal Beltrame yang akhirnya memilih pergi setelah mengantarkan Persib juara.
Entah kebetulan atau tidak, ternyata di Italia sendiri ada sebuah sindrom yang biasa dikenal dengan istilah Mammoni atau yang memiliki arti "anak mama". Istilah Mammoni atau Mamma's Boys ini digunakan untuk para pria yang tidak bisa jauh dengan keluarga, khususnya sang ibu.
Ini seakan menjadi jawaban sindrom pemain Italia di Persib yang tidak betahan atau homesick, meski stereotip ini tidak berlaku secara mutlak. Apalagi keluarga menjadi alasan kedua pemain tersebut tidak betah kertika berseragam Maung Bandung. Walaupun tidak bisa dipukul rata, ini bisa jadi pertimbangan manajemen ketika berniat kembali mendatangkan pemain asal Italia.
Hingga saat ini, Barba sendiri masih dari bagian dari tim setelah sukses mengantarkan Persib meraih three-peat juara. Terlebih, sang pemain masih memiliki kontrak hingga akhir Mei 2027 mendatang. Dengan kata lain, seharusnya ia masih akan berseragam Maung Bandung selama satu musim ke depan.
Kendati begitu, tidak menutup kemungkinan juga Barba akan pergi. Apalagi, beberapa rumor menyebutkan ada sejumlah klub Eropa yang berniat meminangnya. Bukan tidak mungkin ia memilih untuk kembali bermain di Eropa, yang lebih dekat dengan kampung halamannya.
Lantas, apakah Federico Barba akan mengikuti jejak Stefano Beltrame atau tetap bertahan hingga kontraknya habis?
Penulis: Filza Fitriadhi
