MNC Group (induk RCTI) dianggap mengambil keputusan bernyali dengan menggandeng kreator digital Reza Arap melalui kanal YouTube “YB” untuk menayangkan siaran langsung seluruh pertandingan Piala AFF 2026. Keputusan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjangkau penonton muda yang kian akrab dengan platform daring, tapi ada pula yang memandang sebagai sinyal matinya televisi di Indonesia.
Sementara itu, perjanjian telah mendapat izin resmi dari SportsFive (pemegang hak siar), sehingga pertandingan nggak hanya tayang di saluran milik MNC Group, tetapi juga gratis di kanal YouTube YB. Berbeda dengan layanan Over-The-Top (OTT) berbayar yang mewajibkan langganan (paywall), tayangan di YB bersifat gratis tanpa kewajiban membership. Ini adalah strategi bakar uang/promosi di awal untuk menciptakan hype berskala nasional.
Pendekatan santai dan interaktif Reza Arap berhasil menarik puluhan ribu penonton pada hari pertama. Laga non-Timnas Indonesia mendapat sekitar 75.000 pemirsa bersamaan, bahkan sempat menembus 100.000 penonton concurrent. Arap menawarkan format watch party, live reaction, dan gaya bahasa tongkrongan yang kasual (style gue). Ini mengubah pengalaman menonton dari pasif menjadi interaktif.
Menariknya lagi, ketika laga Timnas Indonesia melawan Kamboja, Senin (27/7), tayangan di kanal YouTube YB mencetak rekor fantastis dengan menembus sekitar 1,2 juta penonton secara bersamaan (peak concurrent viewers). RCTI+ menyebut konsep siaran ini menggabungkan TV dengan platform digital untuk pengalaman baru yang lebih dekat dengan kebiasaan penonton muda.

KPI selaku pengawas penyiaran nasional menyoroti bahwa kolaborasi TV-YouTube semacam ini lebih memberi keuntungan bagi masyarakat. KPI melihat sinergi ini justru mendemokratisasi akses, di mana TV free-to-air menjamin penonton di daerah terpencil tetap bisa menonton gratis, sementara YouTube melayani kebutuhan generasi muda dan pengguna gawai.
KPI mendukung upaya memerangi streaming ilegal dengan kolaborasi resmi seperti ini, yang terbukti mengalihkan penonton dari situs bajakan ke saluran resmi gratis. Dengan kata lain, langkah RCTI membuka kanal YouTube resmi pun bukan tanda matinya televisi, melainkan adaptasi industri penyiaran menghadapi pergeseran kebiasaan penonton dan memberantas pembajakan.
Berdasarkan data survei BPS, televisi masih dinikmati oleh mayoritas penduduk Indonesia. Susenas 2025 mencatat sekitar 70,1% penduduk usia 5 tahun ke atas menonton televisi setiap minggu. Bahkan 62,7% dari mereka menonton hampir setiap hari. Artinya televisi masih menjadi media utama hiburan bagi sebagian besar populasi. Namun tren menunjukkan penurunan konsumsi pada kelompok usia muda.
Survei yang sama melaporkan hanya 66,0% usia 16–30 tahun rutin menonton TV dalam seminggu terakhir –lebih rendah dibanding kelompok usia anak dan orang tua. Data BPS (Susenas) historis juga menunjukkan persentase penonton TV perlahan turun dibanding beberapa tahun lalu. Dengan tren ini, sebagian pasar iklan teralihkan ke platform digital. Namun, tingkat penonton TV total masih besar.
Merujuk pada data Kementerian Komdigi pascakebijakan Analog Switch-Off (ASO), meskipun ada peningkatan tren penonton TV digital di kota besar seperti Jabodetabek, masih terdapat jutaan keluarga yang nggak punya akses Set Top Box (STB). Celah kosong inilah yang langsung diisi oleh internet genggam.
Dalam tren global maupun adaptasi lokal, laporan The Gauge dari Nielsen secara konsisten mencatat bahwa pangsa waktu (time spent) pemirsa untuk layanan streaming (SVOD/AVOD seperti YouTube dan Netflix) terus meroket, mencaplok pangsa broadcast (siaran linier) dan TV kabel, terutama pada demografi usia di bawah 35 tahun.
KPI dan pengamat menyimpulkan bahwa televisi konvensional belum “mati” total, melainkan sedang bertransformasi. RCTI sendiri mengakui penonton muda semakin memilih konten daring. Oleh sebab itu RCTI-YouTube menjadi kombinasi untuk meraih segmen berbeda: TV menjaga jangkauan luas (termasuk wilayah terpencil dan yang kurang melek internet), sedangkan YouTube menargetkan Generasi Milenial dan Gen Z yang mobile dan interaktif.
Strategi ini mengikuti data perilaku konsumen: Nielsen mencatat lebih dari 70% Gen Z dan Gen Y Indonesia memiliki akses TV dan telepon seluler pintar (smartphone), dengan adopsi smart TV yang cepat. Artinya, stasiun TV perlu beradaptasi ke lingkungan multi-platform agar tetap relevan.
Pergeseran Tontonan Olahraga ke Platform Digital
Secara global, media olahraga juga mengalami pergeseran tajam ke streaming digital. Studi terbaru menunjukkan jumlah penonton olahraga yang lebih memilih platform digital telah menyamai –atau bahkan melampaui– televisi linear. Misal, survei Hub Entertainment (2025) menemukan 69% penggemar olahraga Amerika Serikat menonton beberapa pertandingan via layanan streaming berlangganan (SVOD) – sebanding 66% yang menonton via TV. Ini merupakan kenaikan besar dari tahun sebelumnya (2024), saat hanya 62% yang streaming.
Demikian pula, analis eMarketer meramalkan pada 2026 mayoritas penonton olahraga live menonton lewat platform digital dibanding TV tradisional. Nielsen (Q3 2025) juga melaporkan bahwa dalam periode musim sepak bola, 46,4% pangsa tonton iklan beralih ke streaming, sedangkan siaran TV hanya 26,4%. Pergeseran ini didorong oleh agenda pertandingan besar yang kini tersedia di OTT (misalnya Amazon Prime, YouTube) dan peningkatan pilihan tayangan tanpa iklan.
Di Indonesia, tren serupa mulai terlihat. Contoh konkret: Survei KIC-Katadata (Mei 2023) untuk SEA Games 2023 menunjukkan 37,9% responden menonton pertandingan SEA Games melalui live streaming internet, sedangkan 54,3% menonton via TV nasional. Artinya lebih dari sepertiga penggemar olahraga sudah beralih ke platform digital jika tersedia.
Faktor pendukung lain adalah maraknya akses internet seluler: penetrasi smartphone di Indonesia mencapai 75% populasi (2025). Laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pun mencatat penetrasi internet telah mendekati 80%, di mana konsumsi video/streaming menjadi salah satu aktivitas yang paling banyak dilakukan. Karena itu, turnamen sepak bola besar kini mulai dirilis pula lewat media sosial dan streaming resmi.
Globalisasi hak siar olahraga menguatkan kecenderungan ini. FIFA misalnya telah menggaet YouTube dan TikTok sebagai platform pilihan untuk memperluas jangkauan Piala Dunia 2026 di lebih dari 220 wilayah. Salah satunya adalah kreator asal Brasil, Casimiro (Cazé), yang membeli hak siar Piala Dunia serta menayangkannya gratis di YouTube dan Twitch, memecahkan rekor dunia dengan jutaan concurrent viewers.
Di AS, hak siar olahraga kasta tertinggi tidak lagi dikuasai sepenuhnya oleh TV kabel. Amazon Prime secara eksklusif memegang NFL Thursday Night Football, dan Apple TV memegang hak siar global Major League Soccer (MLS). Konon Netflix dan Disney pun tengah menawar hak siar Piala Dunia 2030 dan 2034. Ini menandakan liga dan turnamen besar dunia melihat perluasannya tidak hanya melalui TV tradisional, tapi juga pengusaha platform streaming global.
Survei Associated Press (AS, 2025) juga mendukung temuan ini, mengungkap 60% “superfans” olahraga AS kini menggunakan platform streaming khusus (seperti ESPN+, NBA League Pass, dll) untuk menonton pertandingan. Mereka menonton pertandingan melalui internet beberapa kali seminggu: 30% beberapa kali/minggu dan 40% minimal sebulan sekali.
Studi Hub Entertainment (2025) mencatat 30% penggemar olahraga menyebut streaming sebagai sumber pertama tontonan olahraga, naik dari 23%. PricewaterhouseCoopers (PwC) melalui studi tahunannya, secara konsisten menempatkan transisi menuju Digital/OTT dan fan engagement sebagai strategi pertumbuhan nomor satu bagi pemilik hak siar olahraga di seluruh dunia. Distribusi melalui media sosial dan pembuat konten terbukti mendatangkan demografi penggemar baru yang nggak bisa dijangkau oleh televisi terestrial.

Pada akhirnya, fenomena RCTI menggandeng YouTube Yb milik Reza Arap bukan sekadar kejar-kejaran tren, melainkan strategi untuk menghadapi perubahan perilaku penonton. Data menunjukkan televisi terestrial di Indonesia memang mulai sedikit tergerus oleh platform digital, terutama di kalangan muda, tapi masih dominan secara total.
Penurunan penonton linier sejauh ini bersifat gradual. Langkah RCTI menghadirkan Piala AFF 2026 di YouTube justru dianggap inovasi yang bermanfaat: memberi pilihan tambahan bagi publik, sekaligus melindungi hak siar resmi. Dengan membawa Piala AFF 2026 ke YouTube influencer besar, mereka nggak cuma memancing antusiasme jutaan pasang mata baru, tetapi juga mendefinisikan ulang cara masyarakat Indonesia merayakan sepak bola di masa depan.
Dengan demikian, kolaborasi RCTI–YouTube lebih tepat dipahami sebagai integrasi media ketimbang akhir era televisi. TV tetap penting menjangkau massa luas, sementara distribusi digital melengkapi dengan cara yang menarik bagi kaum muda. Strategi ganda ini diharapkan meningkatkan total jangkauan audiens dan memfasilitasi masyarakat memilih cara menonton yang mereka inginkan, berdasarkan demografi dan akses teknologi.
Televisi tidak mati, tapi mereka sadar bahwa mempertahankan kebiasaan lama sama saja dengan bunuh diri secara perlahan. Pertanyaannya sekarang, apakah gaya siaran tongkrongan kayak begini bikin pengalaman nonton bola makin asyik, atau justru mengurangi esensi taktik di lapangan?
