Sudah 30 tahun bergulirnya Piala AFF, tapi rasanya kita seperti terjebak dalam sebuah labirin waktu. Terus berputar di jalur yang sama, melakoni naskah tragedi yang didaur ulang setiap dua tahun sekali. Adegannya kerap serupa. Dibuka dengan sorak sorai kemeriahan, ekspektasi dipompa hingga menjulang, lalu perlahan tirai ditutup dengan kekecewaan dan rutinitas menyalahkan keadaan.
Kegagalan timnas Indonesia lolos dari babak grup dalam dua edisi beruntun ini bukan lagi sekadar nasib sial atau ketidakberuntungan semata. Ini adalah sebuah komedi gelap yang menelanjangi betapa rapuhnya fondasi sepak bola kita. Ini adalah sebuah ironi tingkat dewa dari asa yang selalu kita jaga selama tiga dekade.
Menjelang turnamen, atmosfer yang terbangun di sekeliling timnas selalu memabukkan. Linimasa media sosial dijejali dengan euforia prematur dan arogansi yang entah dari mana asalnya. Tiba-tiba saja, kita merasa sudah menanggalkan identitas Asia Tenggara. Narasi yang didengungkan terdengar megah, menyatakan bahwa Garuda sudah bukan lagi burung lokal yang terbang rendah.
Kita mengklaim sudah ada di level Asia, bahkan meracau pantas merajut mimpi ke panggung Piala Dunia. Turnamen sekelas AFF mendadak dipandang sebelah mata, diremehkan layaknya ajang pertandingan antarkampung atau bahkan piala ciki, yang tak lagi sepadan dengan kebesaran nama kita.
Namun, ironi adalah kawan paling akrab bagi sepak bola Indonesia. Ketika bertingkah layaknya raksasa yang merasa terlalu besar untuk bermain di Asia Tenggara, kita sengaja menutup mata pada satu fakta paling menyedihkan. Sudah tiga dekade, lemari trofi kita masih saja kosong dan berdebu. Jangankan membawa pulang piala, sekadar bertahan dari ganasnya babak grup saja kini nggak mampu lagi.
Ekspektasi yang menjulang itu akhirnya layu di hadapan kenyataan. Saat bertemu tim-tim tetangga yang sebelumnya kita anggap remeh, kaki-kaki seakan terbelenggu beban yang tak kasat mata. Kekalahan demi kekalahan datang, memukul telak kesombongan yang sempat membumbung liar. Kita dipaksa bangun dari mimpi indah. Jatuh dua kali berturut-turut di fase grup adalah alarm yang memekakkan telinga. Terlalu menyakitkan!
Kegagalan tragis yang berulang ini seharusnya bisa membuka mata PSSI. Sudah waktunya jajaran pemangku kebijakan berhenti main-main dengan ilusi kosmetik. Selama ini, program naturalisasi kerap diagungkan sebagai tongkat sihir yang diimani bisa mengubah seonggok batu menjadi emas dalam semalam.
Pemain keturunan yang datang dari seberang benua memang memberikan suntikan kualitas. Mereka adalah talenta berharga, tapi kehadirannya nggak akan pernah bisa menjadi substitusi permanen dari bobroknya sistem pembinaan di dalam negeri. Mereka adalah solusi instan tanpa jaminan masa depan sepak bola kita akan selalu cerah.
Membangun tim nasional yang tangguh dan disegani nggak bisa dilakukan sekadar dari ruang tunggu kantor imigrasi. Kekuatan sejati sebuah negara dalam ranah sepak bola lahir dari rahim kompetisi yang beradab dan terstruktur rapi. PSSI harus segera turun dari menara gading dan melihat langsung bagaimana kondisi akar rumput yang semakin mengering.
Sepak bola kita membutuhkan pembenahan sistemik menyeluruh dari hulu ke hilir. Kita bicara tentang keharusan mencetak kurikulum pembinaan usia dini yang berkesinambungan, peningkatan lisensi dan kesejahteraan pelatih di daerah, mutu wasit yang nggak lagi mengundang tawa, hingga penyediaan infrastruktur yang layak agar bibit muda bisa tumbuh kembang dengan sempurna.
Reformasi tata kelola kompetisi di setiap jenjang adalah harga mati. Pemain-pemain hebat nggak jatuh begitu saja dari langit. Mereka ditempa dalam panasnya api kompetisi yang adil, kompetitif, dan berkelanjutan. Jika sistem kompetisi domestik kita, baik di kasta tertinggi maupun usia muda, masih diwarnai berbagai masalah, mimpi punya timnas yang solid sepenuhnya hanya utopia belaka.
Pada akhirnya, kita harus berani menelan pil pahit ini dan menginjakkan kaki kembali ke bumi. Singkirkan dulu angan-angan menaklukkan Asia jika mengatasi kandang tetangga saja belum mampu. Berhenti menganggap remeh Piala AFF karena turnamen inilah saksi bisu paling jujur dari betapa stagnannya perkembangan sepak bola kita selama puluhan tahun.
