Wacana Mengubah Pertandingan Jadi 60 Menit dan Berbagai Aturan Radikal Lainnya | Pandit Football Indonesia

Wacana Mengubah Pertandingan Jadi 60 Menit dan Berbagai Aturan Radikal Lainnya

Berita

by redaksi 25485

Wacana Mengubah Pertandingan Jadi 60 Menit dan Berbagai Aturan Radikal Lainnya

Sebuah proposal peraturan baru untuk sepakbola diluncurkan oleh IFAB (International Football Association Board), organisasi yang mengatur regulasi sepakbola atau Laws of The Game. Melalui kampanye bertajuk "Play Fair!", mereka mengajukan aturan-aturan yang cukup `radikal`. Anggota IFAB sendiri terdiri dari FIFA dan empat anggota asosiasi sepakbola Britania Raya – Inggris, Skotlandia, Irlandia Utara dan Wales. Mereka bertanggung jawab sebagai pengambil keputusan akhir untuk pengajuan aturan itu.

Salah satu yang diajukan adalah durasi satu pertandingan dikurangi menjadi hanya 30 menit per babak. Artinya, satu pertandingan berjalan selama 60 menit. Hal ini dilakukan untuk menghindari upaya sepakbola negatif yang coba diterapkan oleh setiap tim pada format waktu saat ini. Peraturan lain yang diajukan adalah larangan mencetak gol dari situasi penalti jika penaltinya gagal. Jika penalti yang dilesakkan gagal, permainan akan dihentikan dan hanya diberikan goal kick.

Legenda Chelsea, Gianfranco Zola adalah salah satu pihak yang setuju dengan pengajuan aturan baru ini.

“Secara pribadi, saya setuju dengan aturan ini karena ada banyak tim yang mencoba mengambil keuntungan saat mereka unggul dengan cara membuang waktu, jadi saya rasa ini bukan aturan yang buruk. Sepakbola itu cepat. Ada beberapa aturannya yang saya tak suka, tapi ini bagus,” ujar Zola.

Asal Mula Proposal dan Kewenangan Wasit

Proposal aturan ini digagas oleh IFAB sendiri dengan tujuan mengatasi “masalah di lapangan” dan membentuk strategi “Bermain Adil” (Play Fair). Ada tiga sasaran yang ingin dicapai melalui kampanye ini seperti:

  • Memperbaiki sikap para pemain dan meningkatkan respek
  • Meningkatkan waktu bermain
  • Meningkatkan keadilan permainan dan hiburan yang menarik

IFAB mengungkapkan masalah yang sering ditemukan pada aturan pertandingan 2 X 45 menit adalah tim kerap memanfaatkannya sisa laga untuk membuang waktu saat tengah unggul sehingga mengurangi efektifitasnya. Penambahan injury time yang tidak akurat juga dinilai sebagai pemicu pembuangan waktu.

Karenanya, IFAB meminta para pengadil pertandingan lebih tegas dalam mengendalikan waktu pertandingan. Misalnya, mereka harus membuat kiper memegang bola maksimal 6 detik dan lebih teliti dalam menentukan tambahan waktu.

Lebih lanjut, mereka juga menjelaskan wasit bisa menghentikan waktu pertandingan saat:

  • Terjadi penalti
  • Terjadi gol sampai sepak mula lagi
  • Ada pemain yang cedera dan membutuhkan perawatan
  • Saat wasit memberikan kartu kuning dan merah sampai permainan berlanjut
  • Pergantian pemain
  • Saat situasi tendangan bebas

IFAB sudah memiliki beberapa aturan yang siap atau bahkan sudah diuji pada turnamen resmi. Di Piala Konfederasi yang tengah berlangsung saat ini, rencananya akan diuji coba aturan soal berbicara kepada wasit. Mereka hanya memperbolehkan kapten dari masing-masing tim yang berbicara kepada wasit untuk menghindari konfrontasi berlebihan dari pemain lain.

Selain itu, aturan lain yang sudah diterapkan sebelumnya adalah skema penalti ‘ABBA’. Jika biasanya pola penalti adalah selang-seling dari A ke B dan sebaliknya, maka mereka menerapkan aturan penendang tim pertama duluan lalu tim kedua berkesempatan melakukannya dua kali berturut-turut dan bergantian dengan tim selanjutnya. Aturan ini sebelumnya sudah diterapkan di Piala Dunia U-20 di Korea Selatan dan Piala Dunia Wanita U-17 dan masih akan diujikan di turnamen junior lainnya.

Baca juga: Tentang Sistem Penalti "ABBA" dan Efeknya Kelak di Masa Depan

Aturan lainnya yang segera diterapkan adalah pergantian pemain dimana pemain yang diganti bisa langsung keluar melalui touchline terdekat tanpa harus melalui garis tengah lapangan.

Aturan yang Masih Dalam Tahap Diskusi

IFAB juga akan memberlakukan aturan yang memperbolehkan pemain "langsung memainkan bola dari situasi tendangan bebas untuk kepentingan efektifitas permainan”. Alasannya agar sang pemain bisa langsung melanjutkan pertandingan setelah dilanggar. Selain itu, masih banyak aturan lain yang diajukan seperti:

  • Mengoper ke diri sendiri saat tendangan gawang, sepak pojok, dan tendangan bebas
  • Waktu stadion yang disinkronisasikan dengan jam wasit
  • Boleh mengambil tendangan gawang meski bolanya bergerak
  • Boleh mengambil goal kick di sisi yang sama dari keluarnya bola
  • Syarat yang “lebih jelas dan konsisten” mengenai handball
  • Pemain yang mencetak gol atau menghentikan sebuah gol dengan tangan langsung mendapat kartu merah
  • Kiper yang menangkap operan ke belakang atau lemparan ke dalam dari temannya (backpass) akan dihukum penalti
  • Wasit bisa menghadiahkan gol jika pemain lawan menghentikan bola dengan tangan tepat di garis gawang atau mendekati
  • Wasit hanya boleh meniup peluit paruh waktu dan waktu penuh saat bola keluar area permainan
  • Pemain hanya boleh mencetak gol dari penalti dalam sekali percobaan dan tidak boleh ditendang lagi jika gagal untuk menghindari gangguan di kotak penalti.

Seluruh gagasan aturan di atas masih akan didiskusikan lebih lanjut di rapat berikutnya sebelum akhirnya masuk dalam tahap pengembangan dan penentuan apakah akan dilanjutkan atau dibatalkan.

“Wasit, pemain, pelatih, dan penggemar setuju bahwa memperbaiki sikap pemain dan respek kepada semua pemain dan terutama kepada ofisial pertandingan, dapat meningkatkan waktu, keadilan serta daya tarik pertandingan dan harus menjadi prioritas utama sepakbola,” ujar David Elleray, direktur teknik IFAB seperti dikutip BBC Sport.

***

Di jaman yang semakin modern ini, berbagai terobosan baru untuk sepakbola terus diluncurkan untuk meningkatkan kualitasnya. Mulai dari penerapan teknologi garis gawang oleh FIFA untuk menghindari insiden `gol hantu`, hingga VAR (Video Assistant Referee) untuk membantu kinerja wasit di insiden yang sulit.

Beberapa aturan baru juga sudah diterapkan seperti pergantian pemain keempat (juga oleh IFAB) di babak perpanjangan waktu dan sepak mula yang dilakukan satu orang. Hadirnya proposal aturan baru yang lebih masif dan radikal ini diperkirakan akan menghadirkan pro kontra karena ada beberapa aturan yang (mungkin) dianggap tak perlu.

Jadi, bagaimana menurut anda? Adakah salah satu dari aturan tersebut yang anda setujui?

Sumber: BBC

(AP)

Komentar