Julian Nagelsmann yang Membuat Hoffenheim (Masih) Belum Terkalahkan

Cerita

by Sandy Firdaus 28972

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Julian Nagelsmann yang Membuat Hoffenheim (Masih) Belum Terkalahkan

Musim 2015/2016, TSG 1899 Hoffenheim mengakhiri musim di peringkat ke-15. Mereka pun akhirnya selamat dan masih mampu berkompetisi di Bundesliga musim 2016/2017. Catatan buruk musim 2015/2016 ini membuat jarang ada orang yang menjagokan Hoffenheim untuk bersaing di papan atas pada musim 2016/2017.

Tapi siapa sangka, sampai pada spieltag 10 Bundesliga 2016/2017, Hoffenheim mampu menduduki peringkat ketiga Bundesliga. Bersama dengan RB Leipzig dan Bayern M√ľnchen, Hoffenheim menjadi klub yang belum terkalahkan dengan raihan lima kemenangan dan lima kali hasil seri. Bahkan Hoffenheim mampu mengungguli Borussia Dortmund.

Pada pertandingan terakhir Bundesliga (spieltag 10), mereka bahkan mampu menahan imbang Bayern dalam pertandingan yang digelar di Allianz Arena. Capaian ini tentunya mengingatkan kita akan Hoffenheim yang dulu juga pernah sempat menggebrak Bundesliga pada musim 2008/2009, dengan nama Vedad Ibisevic, Demba Ba, serta Luiz Gustavo yang pernah bermain di dalamnya, serta Ralf Rangnick (sekarang direktur olahraga RB Leipzig) yang pernah menjadi pelatihnya.

Namun untuk musim 2016/2017, selain nama-nama di atas yang memang sudah tidak lagi membela Hoffenheim, ada satu nama yang patut dikedepankan untuk dibicarakan. Ia adalah Julian Nagelsmann, pelatih muda dengan segala inovasi dan eksperimennya dalam tubuh Hoffenheim.

Nagelsmann, Awalnya Sempat Diragukan

Di balik bersatunya pemain-pemain yang ada di tubuh Hoffenheim - Kerem Demirbay menyebut Hoffenheim sebagai satu unit-, ada sosok yang berdiri di technical area dan memberikan instruksi kepada para pemain yang sedang berdiri di lapangan. Ia adalah Julian Nagelsmann, pelatih termuda dalam sejarah Bundesliga yang sekarang masih berusia 29 tahun.

Menjadi pelatih tim utama setelah meraih berbagai prestasi bersama tim muda Hoffenheim, Nagelsmann sempat diragukan untuk berbicara lebih jauh dalam ajang Bundesliga. Tapi siapa sangka pelatih yang juga mengagumi Thomas Tuchel dan terpengaruh oleh gaya kepelatihan Ralf Rangnick ini semakin dekat dengan kenyataan bahwa ia adalah calon pelatih besar di masa depan.

Berhenti berkarier sebagai pemain saat masih bermain di U-19 Augsburg, jalan hidup mengantarkannya menjadi pelatih. Sarjana ilmu olahraga ini pernah bekerja sama dengan orang yang ia kagumi, Thomas Tuchel, juga memperhatikan dengan jelas gaya sepakbola Ralf Rangnick yang memang memengaruhi pelatih-pelatih muda Jerman saat ini.

Gaya itulah yang ia padukan, sehingga menjadi gaya bermain Hoffenheim sekarang ini yang menekankan kepada pressing, tapi juga tidak lupa bagaimana caranya beradaptasi dengan tim yang bermain ke dalam. "Seperti halnya seorang pembuat roti, saya memadukan berbagai hal menjadi adonan, memasukkannya ke dalam oven, dan menilai apakah hasilnya kelak sesuai keinginan saya atau tidak."

"Rangnick, yang sekarang berada di Leipzig, memainkan sepakbola yang menarik. Ketika mereka kehilangan bola, mereka langsung menciptakan situasi khusus agar bola kembali kepada penguasaan mereka, salah satunya dengen menekan pemain dalam situasi berbahaya. Inilah yang sedikitnya memengaruhi gaya bermain saya," ujar Nagelsmann seperti dilansir The Guardian.

"Tapi gaya seperti itu pun memiliki kelemahannya sendiri, yakni ketika lawan bermain begitu dalam, maka bola akan lebih sulit didapatkan. Maka saya berpendapat bahwa sekarang ini, bermain sepakbola tidak hanya tentang menekan saja. Harus ada solusi yang ditemukan ketika sebuah tim sedang memegang bola, begitu juga ketika bola lepas dari penguasaan," tambahnya.

Baca Juga: Filosofi Pelatih Termuda Itu Akan Membuat Bundesliga Semakin Menarik

Tantangan Nagelsmann Serta Mimpi yang Ingin Ia Raih

Meski sampai sekarang Nagelsmann kerap meraih hasil positif, bukan tidak mungkin kelak Hoffenheim akan meraih hasil negatif. Huub Stevens, pelatih yang Nagelsmann gantikan, bahkan harus mengakhiri pekerjaannya sebagai pelatih karena masalah jantung yang ia miliki. Masalah jantung ini disinyalir muncul karena ketatnya kompetisi Bundesliga.

Bukan cuma bangkit dari hasil negatif, Nagelsmann pun harus tahan menghadapi hujatan dan perang urat syaraf yang mungkin dilancarkan oleh para kompetitornya di Bundesliga. Pelatih Bayer Leverkusen, Roger Schmidt, adalah orang yang pernah menyemburnya dengan kata-kata pedas ketika Leverkusen kalah oleh Hoffenheim dengan skor 3-0.

"Diam dan duduklah, kau orang sinting. Memangnya kau orang yang menemukan sepakbola, hah?" ucap Schmidt seperti tertangkap oleh microphone milik Sky Sports dalam pertandingan antara Leverkusen dan Hoffenheim.

Mendapat cercaan seperti itu, beruntung Nagelsmann masih mampu tetap tenang. Akhirnya Nagelsmann mengakui bahwa ia sudah menerima permintaan maaf dari Schmidt. Tapi bukan berarti kejadina tersebut tidak akan terulang kembali kelak. Inilah hal yang harus mulai disadari oleh Nagelsmann.

Namun terlepas dari semua tantangan yang akan ia hadapi, Nagelsmann pun memiliki mimpinya sendiri. Ia ingin tampil dalam ajang Liga Champions bersama Hoffenheim.

"Saya ingin bermain di Liga Champions bersama Hoffenheim," ujar Nagelsmann kepada Kicker. Impian Liga Champions milik Hoffenheim memang sempat menguap ketika mereka harus menyelesaikan lgia di peringkat tujuh pada musim 2008/2009 akibat cedera ACL yang dialami Vedad Ibisevic pada pertengahan musim.

Seolah memahami keinginan Nagelsmann, financial club backer Hoffenheim yang juga CEO dari perusahaan SAP AG, Dietmar Hopp mengungkapkan bahwa Nagelsmann bisa saja pergi dari Die Kraichgauer lebih cepat, bahkan sebelum kontraknya habis pada 2019.

"Tampaknya, untuk pelatih dengan bakat besar seperti (Julian) Nagelsmann, akan ada masa ketika Hoffenheim menjadi tempat yang terlalu kecil untuknya," ujar Hopp.

foto: @BigSportGB

Komentar