Deritamu, Bahagiaku

Cerita

by Redaksi 43

Redaksi 43

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Deritamu, Bahagiaku

Rasa benci terhadap kesebelasan saingan adalah salah satu hal yang paling banyak diumbar dalam dunia sepakbola. Padahal, kesebelasan saingan sebenarnya memiliki tempat yang istimewa. Tak perlu gengsi untuk mengakuinya. Hal yang sama berlaku untuk Manchester United dan Manchester City.

Manajer legendaris Manchester United, Sir Alexander Chapman Ferguson, memiliki “panggilan sayang” tersendiri untuk Manchester City: tetangga berisik. Frasa tersebut muncul setelah City menyombongkan keberhasilan mereka merayu Carlos Tevez, yang menolak perpanjangan kontrak di United, untuk menjadi bagian dari era baru City.

“Sometimes you have a noisy neighbor and have to live with it. You can't do anything about them,” ujar Sir Alex saat itu. Ya, kadang kita harus bertahan dalam situasi yang tidak bisa diubah dan melanjutkan hidup seperti biasa walaupun kita memiliki tetangga berisik. Sesekali berbahagia di atas derita mereka juga diperbolehkan, demi sedikit tawa. United dan City sudah menjalankan praktik ini sejak lama.

Pada ajang First Division musim 1936/37, City dan United mengalami nasib yang bertolak belakang. Menjalani empat puluh dua pertandingan, City mengakhiri musim di peringkat tertinggi. United, sementara itu, berada di peringkat ke-21 dalam sebuah liga yang berisi 22 peserta. United terdegradasi karenanya. United menderita, City berbahagia.

Musim berikutnya, City berlaga di First Division sementara United berada satu divisi di bawahnya; Second Division. Selama semusim penuh City berada di tempat yang lebih terhormat ketimbang United, namun di akhir musim, adalah United yang berbahagia di atas derita City.

Sepanjang musim, City hanya mampu mengumpulkan 36 angka sehingga mereka menyudahi kejuaraan di tempat yang sama dengan United musim sebelumnya. City, mau tidak mau, menjadi juara bertahan pertama dalam sejarah yang terdegradasi. Seolah itu tak cukup menyakitkan, tempat City di First Division diambil oleh United yang mengakhiri musim tepat di belakang sang juara, Aston Villa.

Tiga puluh tahun setelah United dan City bertukar posisi lintas divisi, keduanya menguasai First Division. City meraih gelar juara liga mereka yang kedua, mengungguli United dengan selisih dua angka. City berpesta sementara United menyesali kegagalan mereka. Namun keduanya tak berlangsung lama.

Delapan belas hari setelah City dipastikan menjadi juara, United bertanding di Wembley. Lawan mereka adalah Sport Lisboa e Benfica, dan piala yang diperebutkan adalah piala juara European Cup. United menantang Benfica yang perkasa di final European Cup.

Sebelum United, tak pernah ada kesebelasan Inggris yang berhasil mencapai final kejuaraan antarkesebelasan terbesar di Eropa tersebut. Peluang United untuk keluar sebagai pemenang pun tidak begitu besar mengingat Benfica saat itu diperkuat Eusébio dan pernah empat kali lolos ke final serta dua kali menjadi juara. Benfica pula yang menyudahi dominasi Madrid di kejuaraan ini.

Namun sejarah seolah tak berarti apa-apa hari itu. Tiga gol dari Bobby Charlton, George Best, dan Brian Kidd di babak tambahan membawa United menang 4-1. United menyudahi pesta juara liga City dengan kemenangan di final tingkat Eropa. Whatever City can do, United can do better.

Perbedaan kelas antara United dan City terus terjadi hingga semuanya berubah pada musim 2011/12 di ajang Premier League; Premier League terbaik sepanjang sejarah. Manchester kembali menjadi penguasa liga. United dan City terlibat persaingan langsung hingga hari terakhir kompetisi.

Memasuki pekan terakhir, City masih berada di atas United. Keduanya memiliki raihan angka yang sama, namun City memiliki selisih gol yang lebih baik. Ini artinya, kemenangan adalah harga mati bagi United jika mereka ingin menjadi juara. Mereka harus menang dan dalam waktu yang bersamaan, City harus kalah. Jika United kalah, maka City tak memerlukan tambahan poin. Kalah pun mereka tetap juara.

United bertandang ke Sunderland sementara City menjamu Queens Park Rangers yang terancam degradasi. Semua pertandingan dimulai di waktu yang bersamaan.

United menang sementara City masih menjalani pertandingan. Sebuah keributan yang dipicu oleh Joey Barton membuat pertandingan City dan QPR sempat tertunda selama beberapa lama. Setelah waktu normal berakhir, City masih tertinggal 1-2. United hampir pasti menjadi juara.

Seolah ditakdirkan untuk berakhir dengan sangat dramatis, City mencetak dua gol di masa injury time. City menang 3-2 dan menjadi juara Premier League untuk kali pertama. United kembali dipaksa menerima kenyataan pahit nyaris juara. Mereka kalah perang karena selisih gol; sesuatu yang tidak akan terjadi andai United tidak kalah 1-6 dari City saat kedua kesebelasan bertanding di Old Trafford.

Pahit...nya tuh di sini!

Baca juga beberapa cerita tentang Manchester Derby


Komentar