Terima Kasih, Islandia

Editorial

by Zen RS 25017

Zen RS

Board of director | Panditfootball.com

Terima Kasih, Islandia

Apa kesimpulan dari kekalahan Islandia oleh Prancis? Kekalahan bisa setara maknanya dengan kemenangan: sama-sama bisa memancarkan kemuliaan.

Tidak banyak yang bisa bangkit dan terus bertarung hingga pluit akhir jika tertinggal 0-4 di babak kedua. Namun Islandia melakukannya dengan sangat baik. Di babak kedua, mereka tampil sangat berbeda: spartan, agresif, terus menekan, seakan-akan segalanya masih mungkin. Dua gol yang mereka ciptakan di babak kedua bukan hanya mengubah skor 4-0 menjadi 5-2. Dua gol itu berhasil menggubah babak pertama yang penuh dengan mimpi buruk menjadi epik perjuangan yang menggebu-gebu -- dan mungkin akan abadi.

Setiap orang patut bertanya: apa yang membuat Islandia sanggup bermain bagus di babak kedua setelah hancur lebur kebobolan empat gol di babak pertama? Jika diizinkan membuat hipotesis, saya akan mengajukan jawaban begini: sebab Islandia adalah negara kurcaci.

Tanpa embel-embel tradisi sepakbola, tanpa embel-embel sejarah prestasi yang mendunia, dengan hanya berpenduduk 300 ribuan, dengan liga yang hanya bergulir empat bulan karena iklim yang luar biasa dingin menguasai delapan bulan sisanya, Islandia jelas hanyalah kurcaci di hadapan Prancis yang sudah mencicipi gelar juara dunia (1998) dan juara Eropa (1984 dan 2000). Justru karena kurcaci itulah mereka tidak terbebani apa-apa, juga tidak merasa dipermalukan walau tertinggal 0-4 di babak pertama.

Perasaan tidak dipermalukan itulah, agaknya, yang membuat Islandia bisa dengan hati yang ringan memasuki babak kedua. Di kamar ganti kala turun minum, tak pernah ada bayangan bahwa media massa di negerinya akan menurunkan headline yang mencerca dan penuh caci maki. Tidak ada satu pun pemain di Islandia yang terbebani oleh bayangan ledekan semacam "ah, cuma bagus di klub, doang" -- sebab memang tidak ada satu pun pemain Islandia yang menjadi bintang dan super star di klub mana pun.

Kesebelasan-kesebelasan besar yang bergelimang tradisi dan sejarah, dipenuhi pemain-pemain glamor bergaji ribuan dollar/poundsterling per pekan, sepertinya akan sangat sulit bangkit jika menghadapi kenyataan mereka kalah 0-4 di babak pertama. Justru karena merasa sebagai tim besar itulah mereka akan kesulitan mengatasi tekanan. Sebab mereka merasa telah menjadi pecundang, dan akhirnya merasa dipermalukan.

Itulah mengapa menjadi underdog sebenarnya adalah berkah. Bagi underdog, untuk mereka yang lemah dan papa, kekalahan tidak akan pernah terlalu menyakitkan. Kekalahan tidak berarti apa-apa karena, sampai batas tertentu, mereka memang tidak pernah menang. Tidak terbiasa menang. Kaum underdog bisa menghadapi kekalahan dengan hati yang ringan.

Jika hipotesis itu dapat diterima, maka penampilan dahsyat Islandia di babak kedua menjadi dapat terpahami. Dan dengan itulah Islandia akhirnya menjadi salah satu penampil terbaik di Euro 2016 ini.

Bahkan bagi penonton netral sekali pun, skor 0-4 di babak pertama sudah cukup sebagai alasan untuk langsung pergi tidur. Siapa, sih, yang berharap Islandia dapat membalikkan keadaan? Namun entah mengapa, dini hari tadi, saya tak lekas pergi tidur. Mata kian jauh dari kantuk saat menyaksikan lima menit pertama babak kedua diisi dengan penampilan agresif Islandia. Kantuk kian jauh pergi lima menit kemudian. Mata kian nyalang kala menyaksikan Islandia dapat mencetak gol pertama.

Melihat bagaimana Islandia bermain di babak kedua itu, tidak bisa tidak, godaan menggelar pengandaian pun tak terhindarkan.

Ah, andai saja penampilan Islandia di babak pertama sedahsyat babak kedua.... Ah, andai saja Birkir Saevarsson tidak salah mengantisipasi umpan panjang Blaise Matuidi di menit ke-12, mungkin Olivier Giroud tidak akan mencetak gol.... Dan jika itu sungguh-sungguh terjadi, jika Prancis tidak unggul secara dini seperti itu, cerita mungkin akan lain.

Sejarah tentu saja tidak mengenal pengandaian. Namun pengandaian selalu eksis dalam kehidupan karena, terutama, banyak hal yang menyenangkan tidak pernah benar-benar terjadi dan banyak hal-hal ideal yang tak pernah terealisasi. Pengandaian adalah praktik yang sanggup mengubah ketidakmungkinan menjadi mungkin, juga dapat menggubah khayalan menjadi kenyataan. Semuanya hanya mungkin berlangsung di dalam pikiran, melalui imajinasi.

Dan itulah yang niscaya akan dilakukan seandainya saya orang Islandia. Saya akan menyunting ingatan sendiri: bukan Prancis yang menang 5-2, melainkan Islandia yang menang 2-1. Ya, saya akan memangkas ingatan tentang babak pertama dan akan menjadikan babak kedua sebagai sebuah kisah yang abadi.

Saya teringat kalimat Ernest Hemingway yang termasyhur: A man can be destroyed but not defeated.

Kalimat itu meluncur dari mulut Santiago, nelayan tua yang bertarung mempertahankan ikan marlin tangkapannya dengan segerombolan ikan hiu. Marlin itu digerogoti ikan-ikan hiu sedemikian rupa sepanjang perjalanan Santiago menuju pantai. Setibanya di pantai, ikan marlin itu sudah nyaris habis. Kepada Manolin, sahabat kecilnya, Santiago mengucapkan kalimat itu, sebuah kalimat yang paling banyak dikutip dari ribuan kata yang ditulis Hemingway dalam novel The Old Man and The Sea.

Islandia, saya kira, adalah kebalikan dari kalimat Hemingway itu. Islandia jelas kalah, bahkan kalah telak. 2-5 adalah skor akhir yang kelewat jelas untuk diabaikan. Tidak, ini bukan tentang kekalahan yang terhormat. Sudah terlalu klise ujaran “kalah terhormat”. Kalah tetap saja kalah.

Namun cerita Islandia di Euro 2016, setidaknya, bisa memberikan gambaran yang bening bahwa menjadi yang kalah tidak otomatis menjadikanmu pecundang. Dan bahwa setiap orang bisa dikalahkan, tapi belum tentu dapat dihancurkan.

A man can be defeated but not destroyed.

Kadang kita bisa belajar lebih banyak dari kekalahan ketimbang kemenangan. Terima kasih, Islandia!

Komentar