Soal Regulasi Anyar Kompetisi Indonesia, Semoga Saya Salah....

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi 32219

Ardy Nurhadi Shufi

Redaktur Pelaksana | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
Banyak nulis sepakbola Indonesia dan Italia.
ardynshufi@gmail.com

Soal Regulasi Anyar Kompetisi Indonesia, Semoga Saya Salah....

Kompetisi resmi sepakbola Indonesia akan segera dimulai. Beberapa aturan baru pada kompetisi Indonesia Super League (ISL) dan Divisi Utama (DU) rencananya akan diberlakukan. Meski masih berupa wacana, namun ada tujuan besar yang hendak diraih PSSI, selaku federasi sepakbola Indonesia, pada tahun 2017 ini.

Wacana pertama, jatah pemain asing dikurangi di ajang ISL. Jika pada kompetisi sebelumnya setiap kesebelasan bisa memiliki 4 pemain asing dengan minimal 1 pemain dari Asia, kali ini pemain asing hanya akan berjumlah 3 pemain saja (minimal 1 pemain Asia). Sementara itu kesebelasan DU tidak boleh diperkuat oleh pemain asing.

Wacana kedua, setiap kesebelasan ISL tidak boleh memiliki lebih dari dua pemain yang berusia di atas 35 tahun. Bahkan untuk kesebelasan DU, maksimal usia pemain adalah 25 tahun. Jika pun merekrut pemain di atas 25 tahun, batas maksimal hanya lima pemain saja, boleh dimainkan semuanya dalam satu pertandingan.

Wacana ketiga, kesebelasan ISL diwajibkan memiliki lima pemain dengan usia di bawah 23 tahun. Selain itu, tiga pemain dari usia 23 tahun itu wajib dimainkan sejak menit pertama.

Ketiga wacana di atas memang masih ditinjau ulang oleh PSSI. Keputusan final mengenai regulasi tersebut baru akan diputuskan tiga pekan setelah pertemuan PSSI dengan pihak klub pada Minggu (8/1) kemarin.

Sekilas, apa yang ditawarkan PSSI ini merupakan terobosan yang cukup positif. Aturan-aturan di atas akan membuat para pemain lokal, khususnya pemain muda, lebih banyak mendapatkan kesempatan bermain. Tak hanya di Divisi Utama, tapi juga di Indonesia Super League.

Diluncurkannya regulasi ini pun tak lain dengan tujuan agar Indonesia siap menghadapi Sea Games 2017 dan Asian Games 2018. Dua ajang internasional tersebut memang memberlakukan aturan bahwa hanya pemain berusia di bawah 23 tahun saja yang bisa terlibat. Timnas senior Indonesia tidak akan menghadapi ajang apapun hingga Piala AFF 2018 nanti.

Namun selain beberapa hal positif di atas, sebenarnya ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan juga oleh PSSI jika aturan ini benar-benar direalisasikan pada kompetisi ISL 2017. Berikut adalah beberapa risiko yang bisa terjadi jika regulasi di atas diberlakukan.

Regulasi Pemain Asing Membuat Penyerang Lokal Tak Berkembang

Terkait regulasi pemain asing, pengurangan jumlah pemain asing tentunya sangat positif. Ini membuat pemain lokal akan mendapatkan kesempatan bermain yang lebih banyak. Hanya saja pengurangan jatah pemain asing ini tampaknya tidak akan membantu peningkatan kualitas pemain depan untuk timnas Indonesia dalam waktu dekat.

Dari data yang kami kumpulkan, sedikitnya 76 pemain asing beredar di kompetisi Indonesia Soccer Championship 2016 lalu (termasuk yang sudah hengkang pada pertengahan musim). Total 59 di antaranya berasal dari non-Asia. Dan mayoritas pemain asing tersebut menempati posisi gelandang dan depan.

Sebanyak 28 pemain menempati posisi gelandang, 26 pemain menempati posisi penyerang. Dengan hanya satu kiper asing yang berlaga di ISC, ini artinya pemain asing yang menempati posisi bek berjumlah 17 pemain.

Pada kenyataannya, kehadiran pemain asing ini menggerus talenta-talenta pemain lokal khususnya di lini depan, dan ini terjadi bukan kali ini saja. Sebagai buktinya, pemain asing selalu menguasai daftar pencetak gol terbanyak kompetisi.

Pada ISC saja misalnya, dari 10 besar pencetak gol terbanyak, hampir tidak ada nama pemain lokal. Ada nama Sergio Van Dijk dan Cristian Gonzales, namun kedua nama tersebut merupakan pemain naturalisasi.

Dalam daftar 11 pemain terbaik ISC versi Panditfootball maupun versi GTS, kedua penyerang dihuni oleh pemain asing.

Pemain lokal dengan jumlah gol terbanyak menempati peringkat 11, Boaz Solossa dengan torehan 11 gol. Di bawahnya terdapat Ferdinan Alfred Sinaga dengan 10 gol. Uniknya, peringkat ketiga pemain lokal dengan jumlah gol terbanyak ditempati oleh kapten Arema Cronus, Hamka Hamzah, yang berposisi sebagai bek tengah.

Fakta di atas tentu menjadi sebuah fakta yang cukup miris untuk diterima. Indonesia tak memiliki penyerang yang bisa diandalkan untuk timnas. Pada Piala AFF lalu misalnya, Indonesia hanya mengandalkan Boaz untuk menjadi penggedor lini pertahanan lawan. Ketika torehan gol Boaz mentok (tertahan di tiga gol), penyerang lain tak mampu menggantikannya.

Begitu juga dengan posisi gelandang serang. Kesebelasan-kesebelasan Indonesia tampaknya kesulitan mendapatkan pemain lokal yang handal dalam mengatur serangan. Buktinya, di Piala AFF 2016, Indonesia pun harus bertumpu pada pemain kelahiran Belanda, Stefano Lilipaly. Ini menunjukkan kualitas gelandang serang Indonesia memang kalah saing di dalam negeri.

Pengurangan jatah pemain asing ini sekali lagi positif untuk memberikan kesempatan bermain lebih banyak untuk pemain lokal. Namun untuk posisi gelandang serang dan penyerang, tampaknya pemain lokal akan kesulitan bersaing. Hal ini dikarenakan slot tiga pemain asing biasanya akan menempati satu posisi bek tengah, gelandang serang dan penyerang. Sementara tak seperti bek tengah yang membutuhkan tandem, pos gelandang serang dan penyerang biasanya hanya diisi oleh satu pemain saja (formasi 4-2-3-1 atau 4-3-3 sangat populer di Indonesia). Jadi tetap saja, gelandang serang dan penyerang lokal tetap sulit mendapatkan kesempatan bermain ketika timnas Indonesia justru membutuhkan pemain-pemain berkualitas pada posisi tersebut.

Terkait pemain usia 35+, 25 DU dan U23

Untuk aturan maksimal dua pemain berusia di atas 35 tahun di kesebelasan ISL sebenarnya tak terlalu menjadi masalah besar. Di Indonesia, tak terlalu banyak pemain di usia tersebut yang masih bermain dalam kualitas level tertinggi. Mungkin di antaranya hanya Cristian Gonzales, Firman Utina, Bima Sakti, Muhammad Ridwan, I Made Wirawan, Bambang Pamungkas dan Ponaryo Astaman yang masih dilirik kesebelasan-kesebelasan ISL.

Baca juga: Perihal Cristian Gonzales yang Masih Diandalkan

Namun berbeda dengan aturan 35 tahun, aturan 25 tahun di Divisi Utama tampaknya akan mematikan mata pencaharian banyak pemain. Apalagi usia 26 sampai 32 tahun merupakan puncak karier seorang pesepakbola, dan sangat banyak pemain di kisaran usia tersebut yang masih bisa berkompetisi di Divisi Utama.

Ke halaman selanjutnya

Komentar