Berakhirnya Daylight Saving Time dan Pengaruhnya di Jadwal Sepakbola

Sains

by Abrar Firdiansyah 26349

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Berakhirnya Daylight Saving Time dan Pengaruhnya di Jadwal Sepakbola

Tanggal 30 Oktober bukan tanggal yang spesial dalam sepakbola. Tidak ada pertandingan spesial yang tercatat di tanggal ini. Mengingat soal legenda yang lahir, hanya Diego Maradona yang tercatat dilahirkan di tanggal ini.

Meski demikian, 30 Oktober adalah tanggal yang cukup penting bagi penduduk Benua Eropa dan daerah Amerika Utara. Alasannya, 30 Oktober diperingati sebagai hari terakhir Daylight Saving Time (DST) atau jika dalam Bahasa Indonesia disebut dengan waktu musim panas.

Jika melihat pengertiannya, DST adalah suatu sistem yang memajukan waktu di sebuah negara satu jam lebih awal dari zona waktu standar dan diberlakukan selama musim semi dan musim panas. Hal tersebut membuat penghitungan waktu lebih cepat dari biasanya.

DST digunakan oleh negara-negara Eropa dan Amerika Utara untuk mengoptimalkan matahari yang berlangsung lebih lama di negara-negara tersebut. Hal ini pun membuat jadwal semua kegiatan di Eropa dan Amerika Utara dimajukan ketimbang sebelumnya. Berakhirnya DST pun membuat waktu Eropa berjalan satu jam lebih lambat.

Pengaruh DST di Eropa adalah soal pemanfaatan waktu. Orang Eropa dan Amerika Utara bakal bekerja lebih pagi saat DST bergulir karena matahari muncul lebih awal. Sementara, ketika mereka pulang kerja, mereka masih ada waktu untuk melakukan hal-hal di luar ruangan karena matahari belum terbenam.

Pengaruh terbesar DST dalam sepakbola tentu adalah masalah jadwal. Pemain sepakbola Eropa yang pada musim dingin dan gugur langsung makan malam setelah mengikuti latihan sore bakal memiliki waktu sisa untuk melakukan kegiatan lain sambil menunggu malam ketika memasuki DST.

Tidak hanya saat latihan, hari pertandingan sepakbola juga ikut terpengaruh dengan DST. Pertandingan sepakbola Liga Primer yang digelar mulai siang hingga petang akan dilangsungkan lebih gelap akibat berakhirnya DST hari ini.

Pertandingan Liga Primer pekan ini bisa menjadi contohnya. Pertandingan Liga Primer antara Tottenham Hotspur dan Leicester City yang dimainkan kemarin, Sabtu (29/10), bakal lebih terik ketimbang laga Everton melawan West Ham United yang baru dimainkan hari ini (30/10).

Dampak paling besar DST dalam sepakbola paling terasa di negara yang memiliki perbedaan cukup jauh dengan waktu Eropa, seperti Indonesia dan Australia. Indonesia yang berjarak tujuh jam dari waktu Inggris (GMT) harus menikmati waktu pertandingan paling lambat jam 03.00 dini hari.

Contohnya lagi adalah saat laga Liga Champions antara Barcelona vs Man City (20/10) lalu pertandingan berlangsung 01:45 WIB. Sedangkan saat bermain di stadion Etihad (2/11) Man City vs Barcelona bakal diselenggarakan pada 02:45 WIB.

Sebagai orang yang tinggal di negara penikmat sepakbola, kita memang harus menerima nasib atas jadwal sepakbola yang dibuat oleh orang Eropa. Yang jelas, jangan lupa untuk membaca jadwal sepakbola terbaru di panditfootball.com.

Komentar