Memahami Pentingnya "Second Balls" di Sepakbola Inggris

Taktik

by Ardy Nurhadi Shufi 104983

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Memahami Pentingnya "Second Balls" di Sepakbola Inggris

Pep Guardiola, manajer asal Spanyol yang dikenal sebagai salah satu manajer terbaik dunia, kerepotan menghadapi sepakbola Liga Inggris. Ya, awal kariernya di Manchester City tak semulus kala ia menukangi Barcelona atau pun Bayern Muenchen, dua kesebelasan yang pernah ia tangani sebelum menukangi City.

Pep pun buka suara terkait masalah yang ia hadapi selama menangani Manchester City. Usai dikalahkan Leicester City 2-4, yang membuat City saat itu hanya meraih empat kemenangan dalam 15 laga terakhir mereka, Pep menyadari ada hal yang harus ia pelajari dari sepakbola Inggris; mengendalikan bola kedua.

“Kami perlu meminimalisasi kesalahan. Tapi yang paling utama di sepakbola Inggris adalah mengontrol bola kedua. Tanpa hal itu, Anda tidak akan bisa bertahan,” Pep memberikan pandangannya terhadap kekalahan dan sepakbola Inggris.

Tak hanya Pep, manajer Liverpool, Juergen Klopp, ternyata punya pendapat sama mengenai bola kedua ini. Pada musim pertamanya di Liverpool, tepatnya di akhir tahun 2015, ia juga baru menyadari betapa pentingnya mengendalikan bola kedua.

“Leicester yang kami lihat, juga yang Anda lihat, bermain sepakbola dengan mengendalikan bola kedua, selalu bertarung untuk bola kedua. Jadi, saya pikir mengendalikan bola kedua akan menjadi penting menghadapi Sunderland,” kata Klopp jelang laga melawan Sunderland. “Kami perlu belajar cara bermain seperti ketika menghadapi Leicester.”

Dari pernyataan Klopp dan Pep, dua manajer yang sebelum ke Inggris menangani kesebelasan Jerman, terlihat bahwa keduanya menyoroti bola kedua. Selain itu, keduanya juga berbicara mengenai lawan yang begitu mahir menguasai bola kedua; Leicester City. Dengan Leicester City menjadi juara Liga Primer 2015/2016, tampaknya benar bahwa mengendalikan bola kedua di Inggris sangat lah penting.

Lalu, apa itu bola kedua?

“Gol kedua di Leicester tercipta dari lemparan ke dalam, bola kedua menjadi gol. Di sini [Inggris], sepakbola menjadi lebih tak terprediksi karena bola terus berada di udara dari pada di tanah. Swansea 5, Palace 4. Sembilan gol terjadi, delapan dari bola mati. Itulah sepakbola Inggris dan itu yang harus saya adaptasi,” ujar Pep.

“Selalu pada (Olivier) Giroud, bola kedua pada (Mesut) Ozil. Ini menyebabkan masalah buat kami,” kata Klopp usai Liverpool bermain imbang 3-3 menghadapi Arsenal. “Itu lah yang selalu saya pikirkan, bukan bagaimana cara membuat mereka dalam masalah.”

“Sepakbola Inggris sangat kompetitif, dan hari ini menunjukkan perbedaan sepakbola Inggris,” ujar manajer Chelsea, Antonio Conte, usai menang 4-2 melawan Stoke City. “Kami bermain menghadapi lawan yang bagus, mereka menggunakan umpan panjang. Ini membuat kami sulit untuk memotong bola dan mendapatkan bola kedua.”

Dari ketiga manajer di atas, yang terbilang baru di Liga Inggris, ketiganya menyoroti umpan-umpan panjang. Kesebelasan-kesebelasan Inggris memang identik dengan permainan umpan-umpan panjang. Bola kedua memang tak lepas dari permainan bola-bola panjang alias melambung.

Bola kedua memang merupakan hasil dari duel antar pemain saat hendak menerima umpan-umpan panjang. Lewat umpan panjang yang mengarah ke udara, bola menjadi harus digapai oleh kepala, yang barang tentu membuat masing-masing pemain sulit menguasai bola. Bola baru bisa dikuasai setelah bola pertama hasil dari duel tersebut jatuh ke tanah sehingga menjadi bola liar.

“Ketika sebuah umpan panjang diarahkan ke pemain bertahan lawan dan tak bisa langsung menguasai bola tersebut pada kesempatan pertama (karena adanya gangguan dari lawan), ini membuat banyak pemain memiliki kesempatan untuk menguasai bola pada kesempatan kedua tersebut. Sederhananya, Anda bisa mendapatkan keuntungan pada sentuhan kedua setelah kedua pemain yang berduel gagal menguasai sentuhan pertama pada bola,” tulis laman Soccer Dynamics mengenai bola kedua.

Sementara itu, menurut Jim Gordon, mantan wasit yang juga pernah menjadi pelatih di sebuah kesebelasan di Amerika Serikat, bola kedua adalah kesempatan untuk mendapatkan bola ketika bola tidak dimiliki siapapun jika pemain lawan gagal mengamankan bola pada duel pertama.

“Subjeknya di sini adalah kesempatan kedua untuk menguasai bola,” kata Gordon. “Ketika bola dalam posisi bebas, tak dikuasai siapapun, kemudian oleh seorang pemain bola dikuasai dengan nyaman. Dari sini juga bisa menghasilkan ‘bola ketiga’ jika masih ada duel setelah duel kedua dan duel pertama.”

Bagi sepakbola Inggris, ini menjadi penting karena sebagian kesebelasan masih memainkan permainan khas sepakbola Inggris yang lebih dikenal kick and rush atau juga route one football. Dari penjaga gawang atau bek mengirimkan umpan panjang pada target man, dari duel yang dilakukan target man dengan pemain lawan yang menjaganya inilah bola kedua itu datang. Karena hal ini juga, mungkin, Jose Mourinho, manajer Manchester United, begitu mengandalkan Marouane Fellaini yang begitu dibenci oleh banyak orang itu.

Baca juga: Inilah Alasan Sepakbola Inggris Bermain Cepat dan Italia Bermain Lambat

Pentingnya Pemain yang Handal dalam Mengamankan Bola Kedua

Pep dan Klopp menyadari pentingnya menguasai bola kedua seusai menghadapi Leicester City. Leicester memang merupakan kesebelasan yang begitu fasih memainkan route one football alias memainkan umpan-umpan panjang langsung mendekati kotak penalti lawan. Khususnya musim lalu, ketika mereka menjuarai Liga Primer.

Musim 2015/2016, berdasarkan data whoscored, Leicester mungkin hanya menempati peringkat kelima terbanyak sebagai kesebelasan yang paling sering melepaskan umpan panjang, setelah Watford, Crystal Palace, Everton, dan Norwich. Bahkan umpan gagal panjang Leicester musim lalu merupakan terbanyak kedua setelah Watford.

Namun yang menjadi penting bagi strategi Leicester adalah mengamankan bola kedua hasil duel tersebut. Dan dalam skuat berjuluk The Foxes tersebut terdapat pemain yang begitu mahir dalam berduel; N’Golo Kante.

Bersambung ke halaman berikutnya.....

Komentar