Inkonsistensi Brendan Rodgers

Taktik

by Redaksi 47

Redaksi 47

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Inkonsistensi Brendan Rodgers

“Ketika kamu mampu mengusai bola hingga 65-70%, akan menjadi kematian untuk tim lainnya. Kami memang belum sampai di sana, namun kami akan menuju ke sana. Ini disebut “Death by Football.” (Brendan Rogdger - September 2012)

Kurang lebih seperti itulah kalimat yang keluar dari mulut manajer Liverpool, Brendan Rodgers, pada tahun 2012 lalu. Ketika itu, Rodgers yang baru mulai menangani Liverpool memang sedang menjelaskan filosofi permainan yang ingin ia tampilkan bersama Liverpool. Permainan dengan penguasaan bola tinggi yang terinspirasi dari permainan tikitaka ala Spanyol menjadi permainan yang ingin ditampilkan Brendan Rodgers di Liverpool.

Kegagalan di tahun pertama dianggap satu hal yang wajar dengan alasan tahun pertama menjadi tahun transisi permainan Liverpool. Liverpool hanya menempati peringkat ketujuh pada akhir musim Liga Inggris. Penampilan gemilang pada paruh musim kedua membuat Rodgers bisa berkata bahwa tim yang sedang dibangunnya mengalami kemajuan.

Dan benar saja, pada musim kedua Rodgers berhasil membungkam kritik banyak orang. Liverpool menjelma menjadi klub yang sangat ditakuti di Liga Inggris. Istilah “death by football” yang ia sebutkan satu tahun sebelumnya benar-benar ia tunjukan secara nyata di lapangan. Hampir seluruh lawan Liverpool dibuat tidak berdaya saat menghadapi pasukan Brendan Rodgers. Termasuk musuh bebuyutan mereka, Manchester United yang dilumat pada laga kandang maupun tandang musim tersebut.

Kalau bukan karena ‘jebakan batman’ dari Jose Mourinho yang membuatnya bersama Steven Gerrard terpeleset di akhir musim, mungkin Rodgers sudah benar-benar menjadi idola baru publik anfield. Sayang, ia hanya mampu mengantarkan Liverpool bertengger di posisi kedua klasemen akhir Liga Inggris. Meski begitu, tetap saja Rodgers mendapat pujian dari fans Liverpool. Bahkan tidak sedikit yang mulai mensejajarkan Rodgers dengan pelatih legendaris Liverpool, Bill Shankly.

Namun apa yang terjadi setelahnya? Liverpool gagal total di musim ketiga dan hanya menjadi figuran di Liga Champions. Mario Balotelli yang direkrut untuk menggantikan peran Luis Suarez hanya menjadi badut yang lebih banyak menghasilkan gaya rambut ketimbang gol ke gawang lawan. Liverpool hanya berada di peringkat keenam akhir musim dan kembali ke fitrahnya dengan tumbang oleh tim-tim papan bawah.

Keadaan semakin memburuk ketika Liverpool tidak membaik pada musim keempat Rodgers. Menang dengan skor 1-0 pada dua pertandingan pertama, Rodgers kemudian gagal memberikan kemenangan pada 4 pertandingan berikutnya bagi Liverpool. Liverpool bahkan harus bertarung hingga babak adu penalti saat melawan tim Divisi League Two, Charlisle United, pada laga League Cup.

Dan Rodgers pun mulai tidak diharapkan oleh fans Liverpool. Dorongan untuk segera memecat Rodgers dan mengganti dengan pelatih baru semakin kuat. Beberapa nama sudah mulai digosipkan akan segera mengantikan posisi Rodgers sebagai menajar Liverpool. Dari mulai Jurgen Klopp, hingga Carlo Ancelotti sempat disebutkan akan segera menggantikan Rodgers.

Lalu apakah yang sebenarnya terjadi pada Rodgers? Benarkah jika memang pelatih asal Irlandia Utara ini memang tidak cukup berkualitas? Haruskah Liverpool segera memecat Brendan Rodgers?

Sebelum melihat lebih jauh, mari kita lihat catatan yang menunjukan soal inkonsistensi Brendan Rodgers dengan kata-katanya. Jika di awal Rodgers mengatakan ingin memainkan sepakbola dengan pengusaan 60-70% fakta menunjukan tidak seperti itu. Sejak musim pertama hingga musim keempat saat ini (meski baru 7 pertandingan), catatan penguasaan bola Rodgers justru semakin menurun.

Pada musim pertama Rodgers, yang katanya merupakan musim peralihan, Liverpool memiliki catatan penguasaan bola hingga 57,2%. Pada musim 2013/2014, ketika Rodgers berhasil membawa Liverpool menjadi runner-up Liga Inggris, rata-rata penguasaan bola Liverpool menurun menjadi 55,6%. Dan musim lalu, rata-rata penguasaan bola Liverpool semakin menurun menjadi 54,4%.

Musim ini, penguasaan bola menjadi satu hal yang terlihat semakin tidak dipedulikan oleh Rodgers. Hingga pertandingan keenam pekan lalu, rataan penguasaan bola Liverpool hanya mencapai 50,9%. Baru pada pertandingan ketujuh melawan Aston Villa, Liverpool kembali menunjukan permainan yang mendominasi dengan 62,2% penguasaan bola. Meskipun masih harus dilihat lebih jauh apakah dominasi melawan Aston Villa memang dominasi yang sesuai dengan yang diharapkan Rodgers atau tidak.

Dari sini saya pun mulai bertanya apakah yang sebenarnya diinginkan Rodgers terhadap Liverpool? Benarkah Rodgers memang merupakan pelatih dengan filosofi ball possession tinggi?

Rodgers mungkin sempat trauma ketika Jose Mourinho menggagalkan perjalanannya menuju tangga juara di tahun 2014. Ketika itu permainan ball possession tinggi miliknya takluk oleh permainan parkir bis Mourinho. Salah satu evaluasi yang keluar pun Rodgers dikatakan tidak memiliki rencana cadangan karena sama sekali tidak bisa membalas perbuatan Mourinho pada pertandingan tersebut.

Karena itulah setelah Suarez pergi Rodgers kemudian mendatangkan Mario Balotelli dan Rickie Lambert, serta Christian Benteke di musim berikutnya. Penyerang-penyerang ini memiliki tipikal yang sedikit berbeda dengan tipikal penyerang yang dimiliki Rodgers sebelumnya. Ketiga penyerang ini memiliki kemampuan berduel cukup baik meski memiliki kekurangan jika harus dipaksa untuk membantu aliran bola.

Tujuan mendatangkan pemain-pemain ini adalah untuk membuat Liverpool memiliki opsi serangan ketika harus menghadapi tim yang bermain rapat seperti saat Chelsea ketika tahun 2014. Berbeda dengan Suarez, Sturridge, atau Sterling yang lebih senang bergerak di ruang kosong, penyerang-penyerang ini senang berduel dengan pemain lawan. Maka dengan begini, Rodgers sudah bukan lagi pelatih yang tidak memiliki rencana cadangan.

Karena itulah saya mengatakan bahwa Benteke adalah rencana cadangan Brendan Rodgers. Bergitu pula dengan Rickie Lambert.

Namun apa yang terjadi kemudian ternyata berbeda. Benteke hadir dan menjadi pilihan utama Brendan Rodgers dalam pertandingan awal Liverpool. Dan yang semakin membingungkan, Rodgers tetap memaksakan permainan ball possession meski dengan menempatkan Benteke di depan. Tentu saja sulit bagi Liverpool untuk memainkan ball possession, ketika penyerang mereka di depan tidak terlalu pandai mengalirkan bola.

Kondisi semakin membingungkan ketika Rodgers memainkan formasi 3-4-1-2 dalam dua pertandingan terakhir melawan Norwich dan Aston Villa. Dalam formasi ini, praktis hanya ada James Milner dan Lucas Leiva yang mampu aktif melakukan pressing di tengah. Coutinho akan lebih sibuk untuk mengatur serangan Liverpool sedangkan kedua fullback aka menjadi pemain yang paling sibuk untuk menutup seluruh area sayap.

Menjadi pertanyaan besar bagaimana mungkin sebuah tim ingin memainkan ball possession namun dalam kondisi kalah jumlah di lapangan tengah. Padahal salah satu hal yang harus dilakukan untuk memainkan ball possession adalah melakukan pressing yang tentu saja tidak bisa dilakukan dalam kondisi kalah jumlah pemain.

Melakukan pressing agar lawan tidak bisa memainkan bola. Menguasai bola sehingga lawan tidak bisa menyerang. Bukankah itu yang dimaksud Brendan Rodgers dengan kata-kata death by football-nya?

Lihatlah apa yang terjadi saat melawan Norwich dimana gelandang Norwich justru lebih bisa mengatur permainan. Saat melawan Aston Villa mungkin Liverpool mencatatkan ball possession yang tinggi, namun hal ini terjadi lebih dikarenakan Permainan Aston Villa yang lebih menunggu di area sendiri tanpa melakukan tekanan kepada pemain Liverpool. Saat pemain Aston Villa menguasai bola, pemain Liverpool tidak bisa melakukan banyak melakukan pressing untuk segera merebut penguasaan bola kembali. Aston Villa pun bisa membuka serangan dan menciptakan dua gol yang memperkecil ketinggalan mereka.

Hal ini semakin menunjukan bahwa Brendan seperti sudah kebingungan ingin membangun Liverpool ke arah mana. Sah-sah saja jika Brendan Rodger sudah tidak yakin dengan filosofinya dan ingin mengarahkan Liverpool kepada gaya permainan yang baru. Namun akan menjadi masalah besar ketika sang manajer ragu dan bingung soal apa yang harus dia lakukan.

Dan inilah permasalahan yang sedang dihadapi Rodgers di Liverpool. Ia terlihat sudah bingung dan menjadi tidak konsisten dalam keputusan-keputusannya. Memainkan Benteke namun tetap memaksa permainan ball possession dan serangan dengan bola-bola pendek dari tengah. Ingin bermain ball possession namun memainakn formasi yang membuat mereka kalah jumlah di tengah. Hal-hal aneh seperti ini yang membuat Rodgers terlihat plin-plan dan tidak konsisten dengan keputusannya.

Karena itulah, mungkin memang sudah seharusnya Liverpool menyelesaikan perjalanan Rodgers di Liverpool. Karena tidak ada yang lebih buruk dari manajer yang sudah kebingungan mau dibawa k emana organisasi atau klubnya.

Komentar