Font size:
"Gooooaaallllllllll from Spanish Captain, Veronica Boquete! 0-1 for Spain!”
Mungkin begitulah kira-kira komentator berbahasa Inggris di siaran Piala Dunia Perempuan pagi itu. Spanyol saat itu sedang menghadapi Korea Selatan pada pertandingan terakhir penyisihan grup. Mereka sama-sama memiliki kesempatan setara dengan Kosta Rika untuk mengambil jatah di babak 16 besar. Korea Selatan agak ketar-ketir. Hingga beberapa waktu mereka tak mampu mengembangkan permainan. Mereka tertekan sepanjang babak pertama. Mereka tidak boleh kalah dari Spanyol karena itu berarti gagal menempati runner-up dan lolos langsung ke babak 16 Besar. Duduk di peringkat 3 memang masih bisa memungkinkan untuk lolos, tapi situasinya lebih tak terduga karena harus berebut jatah peringkat tiga terbaik (baca laporan kami jelang Piala Dunia Perempuan 2015: Yang Menarik dan Ditunggu dari Piala Dunia Perempuan 2015). Memasuki babak kedua, skuat Korea Selatan mencoba bangkit dari ketertinggalan dari Spanyol yang unggul berkat gol Veronica Boquete. Mereka lebih agresif begitu babak kedua dimulai. Hasilnya langsung terlihat delapan menit kemudian. Mereka berhasil mencetak gol balasan. Skor 1-1. Dan itu masih belum cukup bagi Spanyol dan Korea Selatan jika ingin lolos otomatis. Tak disangka tak dikira, Korea Selatan sukses menghadirkan comeback mengesankan ketika Kim Soo-Yun menjebol gawang Ainhoa Tirapu di menit 78. Skor 2-1 cukup untuk memberitahu kepada dunia bahwa bangsa Asia mampu mengangkangi Eropa di event sebesar Piala Dunia Perempuan -- meskipun (penting juga digarisbawahi) Spanyol adalah debutan di ajang ini. Ya, Spanyol memang agak terbelakang dalam sepakbola perempuan, tidak seperti sepakbola prianya. Bahkan Real Madrid seperti enggan membuat kesebelasan perempuan.Pandit Football Indonesia terhitung sering menulis tema mengenai sepakbola perempuan. Ini bentuk keberpihakan kami kepada isu keadilan gender. Simak berbagai cerita tentang sepakbola perempuan yang kami tuliskan, dari ulasan mengenai seksisme, ekonomi, etika perempuan bermain bola, sejarah hingga bagaimana perempuan bermain bola di tengah konflik dan peperangan, dengan menelusuri laman ini: Ragam Cerita Sepakbola Perempuan.*** Babak penyisihan grup Piala Dunia Perempuan tahun ini telah usai. Dua puluh empat negara dari berbagai benua bertarung demi tempat di babak 16 besar. Juara dan runner up tentu secara otomatis akan melenggang ke babak selanjutnya. Total 12 kesebelasan yang menjadi juara grup dan runner up (6+6) ditambah empat kesebelasan dari peringkat tiga terbaik akhirnya menggenapi 16 tim yang akan berlaga mulai 20 Juni nanti demi memperebutkan tempat di babak perempatfinal. Benua Asia yang juga dihuni sang juara bertahan, Jepang, akhirnya mengirimkan empat dari lima perwakilannya menuju babak enam belas besar. Praktis hanya Jepang saja yang berstatus juara grup. Sisanya berstatus runner up grup. Satu-satunya tim Asia yang harus tersingkir dari persaingan peringkat tiga terbaik adalah Thailand. Negeri Asia Tenggara ini gagal lolos karena teralu banyak kebobolan walaupun sempat meraih poin penuh saat melawan Pantai Gading, pekan lalu. Tapi apa pun hasil itu, Thailand sangat layak berbangga hati karena menjadi tim Asia Tenggara pertama yang berhasil mencicipi Piala Dunia Perempuan. Secara kuantitas, tentu hal ini sangat membanggakan bagi Asia. Setelah bertahun-tahun, sejak 1991 penyelenggaran Piala Dunia Perempuan pertama kali dihelat di Cina (yang juga di Asia), praktis paling banyak hanya mengirimkan dua negara ke babak perempat final. Kini Asia bisa mengirim empat kesebelasan ke babak 16 Besar. Dari sisi prestasi pun Asia tidaklah buruk. Cina sempat lolos ke semifinal pada 1995 dan 1999 secara berturut-turut. Puncaknya Jepang berhasil menjadi Asia pertama yang berhasil menjadi juara dunia dalam Piala Dunia Perempuan 2011. Inilah untuk pertama kalinya Asia berhasil menjadi juara dunia, baik di kategori pria maupun perempuan, maupun kategori senior atau yunior. [caption id="attachment_179997" align="alignnone" width="540"]

Tulisan dan grafis diolah dari berbagai sumber Sumber gambar: zimbio.com