Leicester City Tidak Mengulangi Dongeng Blackburn di Eropa

Berita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Leicester City Tidak Mengulangi Dongeng Blackburn di Eropa

Pengulangan sejarah Blackburn Rovers yang begitu kelam pada awal kompetisi 1995/1996 sempat dikhawatirkan akan terulang di tubuh Leicester City. Dalam ajang Liga Primer, agaknya hal itu terjadi ketika The Foxes, sama halnya dengan yang terjadi pada Blackburn 1995/1996, sudah mencatatkan empat kekalahan ketika liga belum berjalan sampai sepuluh pertandingan.

Tapi sejarah Blackburn yang kelam di Liga Champions pada 1995/1996, meski berada satu grup dengan tim-tim yang sebenarnya tidak besar-besar amat, ternyata tidak terulang di tubuh Leicester. Jika Blackburn pada Liga Champions 1995/1996 hanya mencatatkan empat poin saja hasil dari satu menang dan satu seri (sisanya kalah), The Foxes mampu mencatatkan poin yang lebih banyak.

Dari empat pertandingan yang sudah dijalani, Leicester sudah meraih sepuluh poin hasil dari tiga kali kemenangan dan satu kali hasil imbang. Lebih luar biasanya lagi, dalam empat pertandingan tersebut tim yang bermarkas di Stadion King Power ini sama sekali tidak pernah kebobolan, alias selalu mencetak clean sheet.

Ini tentunya adalah prestasi yang cukup memuaskan bagi Leicester. Tidak seperti Blackburn yang mungkin abai dan terlena karena bertemu lawan-lawan ringan dalam ajang Liga Champions 1995/1996, Leicester tetap menampilkan permainan yang cukup spartan, meski mereka juga sebenarnya berada satu grup dengan tim-tim yang bisa dianggap tidak terlalu besar (Club Brugge, Porto, dan FC Copenhagen).

Moncernya penampilan Leicester di Eropa ini, tak lepas dari permintaan sang manajer, Claudio Ranieri yang memang meminta para pemainnya untuk tetap menampilkan permainan yang spartan di kompetisi Eropa. Selain itu taktik Leicester yang mungkin belum terbaca oleh para lawannya di babak grup Liga Champions memungkinkan mereka untuk tampil baik sampai sejauh ini.

Tak heran mulai banyak orang yang memprediksi bahwa Leicester akan melaju jauh dalam ajang Liga Champions musim 2016/2017 ini. Dengan penampilan yang sejauh ini sudah mereka tunjukkan, setidaknya babak 16 besar akan berada dalam genggaman mereka asalkan The Foxes tetap bermain dengan spartan. Hal inilah yang diakui oleh Ranieri usai pertandingan melawan FC Copenhagen yang berakhir imbang 0-0.

"Takdir kami sekarang berada di tangan kami sendiri. Kami memiliki sepuluh poin, tapi saya kira poin ini tidak cukup karena sekarang Porto berada di belakang kami. Kami harus menang atas Brugge untuk mengamankan posisi kami, walau itu adalah hal yang sulit dilakukan," ujar Ranieri seperti dilansir The Telegraph.

Komentar