Mencaci dan Memuji ala Fans Inggris dan Italia

Cerita

by redaksi

Mencaci dan Memuji ala Fans Inggris dan Italia

"Loyalitas" merupakan kata paling sakral dalam sepakbola Inggris. Seringkali "loyalitas" di situ dimengerti dalam artinya yang paling harfiah, termasuk bagi para suporter sepakbola.

Kamus Oxford menjelaskan loyalitas sebagai "… giving or showing firm and constant support or allegiance to a person or institution" -- memberikan atau menunjukkan keteguhan dan dukungan atau kesetiaan terus-menerus kepada seseorang atau institusi.Ya, seperti itulah kira-kira orang Inggris memandang kesetiaan.

Kultur kesetiaan yang terjadi di Inggris amat unik dibandingkan negara-negara lainnya. Dan seperti yang sudah disinggung dalam penutup tulisan di bagian pertama [baca artikelnya di sini], ini terkait dengan aspek kesejarahan yang membentuk watak dan psike (sukma) sebuah bangsa.

Arsene Wenger menyimpulkan bahwa ada perbedaan karakter kultur bangsa Anglo Saxon dengan Eropa daratan, khususnya Spanyol, Italia dan Prancis.

Bangsa Anglo Saxon dulu cenderung hidup dalam kelompok-kelompok kecil dan untuk bertahan hidup tentu mereka harus tetap bersatu dan setia satu sama lain. Sejarah Inggris diwarnai perang antarklan dan kelompok. Mereka akhirnya dipaksa untuk membangun ikatan sosial yang kokoh agar bisa selalu solid secara internal. "itulah yang membuat mereka kuat," ucap Wenger.

Italia dan Prancis kesukuannya amat kental, tetapi untuk bertahan mereka menghadapinya dengan cara berbeda. Sejarah mereka erat dengan persekutuan dan pengkhianatan. Mereka memang menjunjung tinggi loyalitas, tetapi mereka juga sangat mencintai hidupnya sendiri. Tapi, masih kata Wenger, dari situlah justru lahir kecenderungan analitik yang bisa saja mengabaikan atau mempertimbangkan ulang ikatan kelompok.

"Orang Italia berpikir banyak, belajar banyak, tindakan mereka lebih analistis. Jika mereka menemukan sesuatu yang mereka suka, mereka tanya pada diri sendiri mengapa mereka menyukai hal itu. Inilah yang menghasilkan pendirian teguh. Orang Inggris tak melakukan itu. Jika mereka suka sesuatu mereka akan langsung terikat padanya. Mereka tak akan bertanya mengapa mereka suka," ucap Wenger.

Wenger memberikan contoh pada kasus Siena. Di musim 2002-2003, saat Siena sedang berjuang promosi ke Serie A, jumlah rataan penonton waktu itu mencapai 6.301 orang. Di tahun berikutnya, saat mereka eksis di Serie A, angka itu melonjak menjadi 11.142 penonton per pertandingan. Di musim itu Siena mampu lolos dari degradasi. Anehnya, di musim berikutnya, angka itu turun menjadi 10,000. Begitupun musim berikutnya lagi, menjadi 7.800 penonton per game.

Bertahan di Serie A dua musim berturut-turut bagi klub kecil seperti Siena tentu prestasi yang tak sepele. Tapi hal itu nyatanya tak cukup memuaskan fans mereka. Lantas Wenger mempertanyakan bagaimana mungkin fans Siena amat plin-plan dalam mendukung tim sendiri?

Apa yang dilakukan fans Siena sebenarnya bukanlah plin-plan, tapi itulah kecenderungan para suporter Italia yang rasional, dan akhirnya mampu membuat mereka dengan ringan hati bersikap pragmatis. Tak seperti orang Inggris yang setia mendampingi klub dalam suka dan duka, bagi orang Italia jika klub mereka jelek ya tak apalah untuk ditinggalkan -- kendati ikatan kecintaan itu bukan berarti luntur atau berkurang.

Dalam sepakbola, Italia selalu mendewakan hasil. Tak peduli anda bermain buruk atau curang, apapun caranya: jika menang maka anda akan dipuji. Budaya inilah yang membuat Juventus yang merajai Liga Italia begitu diidolakan di seluruh penjuru Italia. Hampir di seluruh kota-kota di Italia selalu ada basis pendukung Juventus , kecuali di Firenze dan Roma.

Lain hal dengan Inggris. Meski Manchester United menjadi penguasa Inggris selama 2 dekade terakhir, dalam data lembaga survey Demos & Pi tahun 2010, presentase dukungan orang Inggris kepada MU dari fans di seluruh Inggris hanya mencapai 17,5 %. Bandingkan dengan Juventus yang menerima dukungan 29% dari seluruh penggila bola di Italia.

Ini menjelaskan dengan cukup baik bagaimana loyalitas menjadi hal sangat-sangat penting bagi para suporter Inggris. Coba tengok, apapun klubnya, entah bermain di Premier Leaque atau divisi dua sekalipun, setiap pertandingan stadion selalu dipenuhi penonton. Kecintaan mereka terhadap klub-klub lokal teramat kuat jika dibandingkan dengan orang italia.

Saya masih ingat saat Paul Cumming -- pelatih Inggris yang tinggal di Indonesia selama 30 tahun --, tak pernah henti setiap minggunya mencari kabar tentang klub idolanya Hendon Aways di Internet. Paul masih sering menyebut-nyebut dan membangga-banggakan Hendon saat berbincang dengan siapapun. Tahukah anda Hendon bermain di divisi berapa? Jika dirunut dari atas, Hendon Aways bermain di kompetisi 8 level di bawah Premier Leaque.

Ya sebegitunyalah orang Inggris memberlakukan klubnya. Paul Cumming yang tinggal 17.000 km dari London, dan tak pernah lagi pulang ke Inggris dalam waktu 40 tahun pun masih selalu ingat klub idolanya itu. Mungkin akan lain hal jika Paul Cumming terlahir sebagai Paolo Cummino.

Arsene Wenger menyebut fenomena ini sebagai unconditional love alias cinta tak bersyarat.

Fans akan selalu berusaha setia kepada tim dengan syarat tim pun loyal kepada fans. Syarat yang diajukan para fans Inggris pun cukup mudah: yang penting klub mau memperlihatkan usaha.

"Kami tak perlu berpikiran teoritis seperti seorang intelektual. Permainan kami bukan sekadar tampil dengan sempurna. It's about trying! Kami tidak fokus meminta mereka meraih kemenangan, kami hanya ingin melihat sebuah usaha. Jika mereka menunjukannya tak cukup baik, that’s OK! Selama mereka tak henti mencoba," ucap Dave Boyle, kolumnis di The Guardian yang sempat menjabat ketua Federasi Suporter Sepakbola Inggris.

Ucapan Dave ini diamini Marcel Desailly. Pemain Prancis yang pernah bermain di Italia dan Inggris ini ini memberikan komparasi menarik membandingkan kultur Italia dan Inggris berdasarkan pengalamannya saat memperkuat AC Milan dan Chelsea.

"Di Inggris ketika anda melakukan tendangan dari jarak 36 meter dan tendangan itu melenceng dari gawang, para penonton akan tetap bersorak dan memberikan tepuk tangan. Kenapa? Karena fans Inggris mengapresiasi sebuah usaha dan selalu berterima kasih atas apapun usaha yang dilakukan oleh pemain," katanya.

"Di Italia, jika anda menembak dari jarak 36 meter meskipun itu gol anda akan dikritik oleh fans dan rekan anda sendiri. Mengapa anda tak mengoper, mengapa anda begitu egois bla-bla-bla. Fans di Italia selalu merasa lebih tahu dibandingkan pemain itu sendiri. Mereka tak berhenti mengkritik," ucap Desailly.

Namun andaikan harus memilih, Desailly ternyata lebih senang dengan budaya fans Italia ketimbang terus dipuja seperti kultur budaya Inggris. "Sejujurnya saya lebih memilih cara Italia. Di Inggris, selalu menyenangkan jika dielu-elukan sepanjang pertandingan. Berbeda dengan Italia, ketika fans menyoraki siapa pun itu bukan hal yang sama. Ketika fans Italia mengelu-elukan, kamu tahu itu berarti hal yang spesial, karena mereka berpengetahuan," sambung Desaily.

Tak selamanya kritik itu menyakitkan dan dipuja itu membahagiakan. Lewat pernyataanya, Desailly menjelaskan hal itu. Terlalu dipuji kadang membuat seseorang lalai. Apalagi jika pujian itu adalah hal yang klise karena bahkan tendangan yang 10 meter melencengnya dari tujuan pun masih juga diberi aplaus.
.

====

* Akun twitter penulis: @aqfiazfan dari @panditfootball

Komentar