Damien Comolli, Director of Football yang Menganggur

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Damien Comolli, Director of Football yang Menganggur

Sebuah klub profesional biasanya terdiri dari dua keutuhan: manajemen, dan kepelatihan. Kondisi ini mirip dengan struktur media massa yang terbagi menjadi dua: perusahaan dan keredaksian.

Keduanya memiliki fokus yang berbeda. Yang satu mengurusi uang dan tetek bengeknya, satunya lagi menjadi ujung tombak perusahaan.

Keduanya mesti seiring seirama agar hadirnya harmoni di dalam klub.

Pernah mendengar saat seorang manajer atau pelatih yang mengeluh karena klub tidak membeli pemain yang ia butuhkan? Klub malah mendatangkan pemain yang tidak ada dalam rencana sang pelatih.

Pihak klub menyediakan pemain serta segala urusan admininstrasi, sementara tim kepelatihan memoles pemain-pemain yang telah ada.

“Manchester United perlu seorang director of football,” kata Damien Comolli.

Comolli? Fans Arsenal, Tottenham Hotspur, dan Liverpool mestinya tahu orang ini. Bukan, ia bukanlah manajer ataupun agen pemain. Pekerjaannya cukup asing di telinga: director of football. Sulit untuk mendapat padanan kata pekerjaan tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Kata “Direktur Sepakbola” agaknya kurang tepat untuk pekerjaan tersebut.

Tugas director of football sebenarnya penting sebagai media komunikasi pihak manajemen dan tim kepelatihan. Ia menjadi jembatan antara keduanya, terutama soal pembelian dan penjualan pemain.

Saat bekerja di Liverpool, Comolli telah belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Ia bertugas sebagai evaluator kinerja pemain, menilai siapa yang mesti diburu di bursa transfer, hingga menjadi scouting bagi pemain muda.

Ia sukses mengelola Gareth Bale di Spurs, yang beberapa tahun kemudian dihargai 85 juta pounds. Ia pun mendatangkan Luis Suarez yang kelak dihargai 65 juta pounds oleh Barcelona.

Meskipun demikian, kariernya tak pernah mulus. Ia dipecat Tottenham Hotspurs pada Oktober 2008 dan dipecat Liverpool pada April 2012.

Meski terlihat sederhana, tapi pekerjaan tersebut terbilang sulit. Seorang director of football mutlak mesti memahami sepakbola secara utuh. Ia pun dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi dan negosiasi yang baik.

“Bagiku, Inggris adalah negara dari sepakbola,” kata Comolli, “Yang membuatku tertawa sebelum dan sesudah Piala Dunia adalah orang-orang berkata bahwa sepakbola telah kembali ke asalnya dan Brasil adalah negara sepakbola. Namun, ini adalah Inggris, di mana semua penggemar adalah yang paling bergairah.”

Nyatanya, gairah tersebut membawa dampak buruk bagi Comolli. Ia selalu mendapat serangan bertubi-tubi saat salah atau gagal kala mengorbitkan pemain. Ia kerap disebut berlebihan saat memuji pemain yang ia datangkan, padahal sang pemain tak sesuai ekspektasi.

Meskipun begitu, kemampuan Comolli tak terbantahkan. Meskipun bukan pada masanya, namun Spurs berhasil menjual Luka Modric dan Gareth Bale dengan total 120 juta pounds. Pun dengan kepindahan Suarez ke Barcelona yang menambah pundi-pundi investasi The Reds.

Comolli pun mengeluh karena sejumlah tim tak menghargai pekerjaannya. Ia sering diminta mencari pemain muda yang bisa dipoles menjadi seorang bintang. Namun, masalahnya klub ingin pemain muda tersebut siap saat itu juga.

“Bukan seperti ini cara kerjanya. Jika aku ditunjuk untuk merekrut pemain muda, aku akan merekrut pemain muda bertalenta karena aku tahu bagaimana cara mengenali talenta mereka. Namun, di waktu yang sama sekitar enam atau delapan bulan, klub mengeluh ‘Oh, dia (pemain muda) ternyata masih belum siap.’ Tentu saja mereka belum siap, mereka masih muda.”

“Aku telah membuktikan hal yang benar di Spurs,” kata pria asal Prancis ini, “Saat aku meninggalkan Spurs, orang-orang berkata Bale tidak akan pernah berhasil, Modric tak akan pernah berhasil, (Younes) Kaboul tidak cukup baik. Aku selalu berkata pada orang-orang, ‘mereka adalah pemain muda yang amat bertalenta, mereka memiliki kepribadian yang kuat, karakter yang tepat, dan mereka akan sukses.”

Comolli bertugas di Liverpool pada November 2010. Sang pemilik baru Liverpool, John Henry, ingin klub menggunakan statistik dalam menganalisa sepakbola. Atas itu pula Comolli yang pernah ditunjuk sebagai direktur teknik Saint-Etienne, dipekerjakan.

Keberuntungannya di Liverpool belum genap dua tahun, sebelum ia dipecat pada 2012.

“Aku kaget karena aku tak pernah diberi alasan mengapa aku disingkirkan,” tutur Comolli, “Hingga saat ini, aku tak pernah tahu. Aku kaget pada saat itu, dan tmasih terkejut hingga saat ini.”

Setelah dipecat Liverpool, sejumlah klub berniat menariknya sebagai director of football, tapi Comolli masih pikir-pikir. Tidak penting apakah itu klub besar bergelimang harta atau klub kecil yang ingin mengembangkan pemain muda. Yang paling penting adalah bagaimana dia menjalin hubungan baik dengan pemilik klub, karena ia ingin pekerjaan yang jelas.

Menjadi seorang director of football bisa dibilang pekerjaan yang beresiko. Meskipun memiliki dampak besar bagi klub dengan pergerakan di bursa transfer, tapi jika sang pemain buruan tak memenuhi ekspektasi, director of football-lah orang yang paling sering disalahkan.

Komentar