Piala Dunia Bagi Mereka yang Tersingkir dan Disingkirkan

Piala Dunia Bagi Mereka yang Tersingkir dan Disingkirkan
Font size:

Ada dua perasaan yang dihadapi kala seseorang melaksanakan nazar: (1) Berat, karena biasanya berjanji melakukan hal yang sulit untuk ditepati. (2) Senang, karena keinginan yang diidamkan tercapailah sudah.

Perasaan nomor dua menggelayut dalam suasana ceria yang tersaji di Lapangan Babakan Wetan (Bawet), pada Sabtu (4/10) lalu. Lapangan futsal yang terletak di kolong Jembatan Pasupati, Bandung, tersebut menjadi saksi perjuangan timnas Indonesia yang akan berlaga dalam ajang Homeless World Cup (HWC) 2014 yang digelar di Santiago, Chile, pada 19-26 Oktober mendatang. Suasana tersebut seolah tak menyiratkan kondisi mereka seminggu sebelumnya. Kekhawatiran muncul karena dana yang terkumpul masih belum mencukupi untuk membeli tiket pesawat ke Chile. Namun, tak ada kata menyerah. Jika dana benar-benar terbatas, mereka akan tetap memaksa berangkat. HWC merupakan ajang sepakbola yang dikhususkan untuk mereka yang termarjinalkan, seperti tunawisma, kelompok miskin kota, dan penderita HIV/AIDS. Tujuannya adalah menghapus stigma negatif atas keberadaan kaum tersebut. “Jumlah pemain yang berangkat idealnya delapan orang, sehingga dapat dibagi menjadi dua tim,” ujar Manajer Timnas Indonesia Febby Arhemsyah kepada Panditfootball, “Tapi, kalau dana masih kurang, kami akan tetap berangkat, walau hanya dengan empat pemain.” Sebagai orang yang paling bertanggung jawab untuk urusan kebutuhan tim, Febby mulai mencari cara untuk menekan anggaran. Mulai dari jatah makan yang dikurangi, hingga waktu relaksasi dari seminggu sekali menjadi dua minggu sekali. Sampai di sini, bagi sebagian pembaca yang telah mengikuti kiprah timnas Indonesia di HWC, pastilah merasa de javu. Pasalnya, hampir tiap tahun timnas Indonesia yang dikelola Rumah Cemara tersebut memiliki masalah yang sama: dana. Kebanggaan Negeri “Tidak ada, tidak ada uang saku,” kata Febby sembari memerhatikan para pemainnya yang tengah melaksanakan nazar di lapangan. Febby menekankan keikutsertaan para pemain murni karena keinginan mengubah hidup dan berjuang dengan nama negara. “Ini ada kesempatan buat mengubah hidup lu, setelah lu pulang dari sana. Mau dimanfaatkan atau enggak ya terserah. Kami tidak punya apa-apa untuk dijanjikan,” ujar Febby. Delapan pemain yang berangkat ke Chile tersebut merupakan hasil seleksi dari 350 orang di sembilan provinsi. Skuat tahun ini terdiri dari satu orang pengidap HIV/AIDS, dua orang pecandu narkoba, dan lima orang dari kaum miskin kota. Kepastian keberangkatan pun datang pada awal Oktober silam. Kementrian Pemuda dan Olahraga Indonesia (Kemenpora) bersedia menanggung sekitar 30 persen dari total dana, atau setengah dari total biaya tiket pesawat. Timnas HWC pun melakukan nazar yang terbilang ekstrem: main bola 36 jam! ya walaupun tak pas full 36 jam mereka bermain, adakalanya istirahat dan bergantian, apa yang mereka lakukan ini mesti kita apresiasi. Febby menjelaskan ide tersebut muncul begitu saja, karena sebelumnya mereka pernah nazar main bola 24 jam. “Nazar ini sebenarnya lebih kepada pembuktian ke masyarakat. Mereka yang mengidap HIV memiliki kemampuan fisik yang sama seperti orang normal. Mereka bisa beraktivitas seperti yang lainnya,” ungkap Febby. Febby menuturkan, idealnya mereka membutuhkan dana hingga 900 juta. Kurang lebih sekitar 500-550 juta dialokasikan untuk membeli tiket pesawat. Sementara sisa 350 juta digunakan untuk roadshow rangkaian seleksi, pemusatan latihan, dan kebutuhan tim selama di Chile. Persiapan yang dilakukan Rumah Cemara dari tahun ke tahun semakin matang, terutama soal kualitas pemain. Tahun lalu, mereka menyelenggarakan League of Change yang diikuti 10 provinsi di Bandung. Gelaran tersebut sekaligus menjadi ajang seleksi bagi pemain timnas. Tahun ini, Febby didampingi Bonsu Hasibuan sebagai pelatih, dan Bogiem Sofyan sebagai asisten, turun langsung ke sembilan provinsi di Indonesia. Tujuannya untuk mengorek potensi yang ada di daerah. Karena dana yang terbatas, jalannya roadshow pun dipadatkan dan dipersingkat. Awalnya, mereka berada di satu provinsi selama tiga hari, tapi dipadatkan menjadi satu hari. “Dibanding tiga gelaran sebelumnya, skuat saat ini lebih kuat dan solid. Saya pribadi inginnya juara, tapi target realistisnya minimal tiga besar lah,” kata Febby. Keyakinan ini didasari dari persiapan yang matang. Timnas Indonesia terbilang lebih siap dibanding tim negara lain karena sudah mulai bergerak sejak Mei lalu. Pemusatan latihan sendiri sudah dilakukan sejak Agustus. Sementara timnas negara lain baru mengumpulkan pemain pada Agustus. Selanjutnya: Minta Perhatian PSSI Minta Perhatian PSSI Febby menceritakan rasa irinya terhadap timnas negara lain. Pasalnya, mereka berlaga mewakili federasi sepakbola negara bersangkutan. Misalnya, timnas Brasil yang menggunakan emblem CBF di dada kirinya. “Kami ingin ada perhatian dari PSSI. Kami iri melihat tim-tim lain menggunakan emblem federasi. Walaupun sama-sama (dengan PSSI) berlogo garuda, tapi kami tidak mewakili federasi walaupun membawa nama negara,” sesal Febby. Namun, Febby tak menyalahkan PSSI, menurutnya hingga saat ini belum ada kontak di antara kedua belah pihak, sehingga ia mengerti jika PSSI sebagai induk sepakbola nasional, belum memberi perhatian. Ia sempat mengirimkan proposal tapi tidak langsung ke orang PSSI secara resmi, sehingga belum ada umpan balik. Tahun ini, timnas Indonesia mendapatkan bantuan dari Kemenpora yang bisa menutup hampir separuh dari biaya tiket. Dari Pemerintah Kota Bandung sendiri, timnas Indonesia mendapat dana CSR PDAM Tirtawening. Febby menjelaskan sponsor menyediakan sekitar 60-70 persen kebutuhan. Sementara untuk kebutuhan dana langsung didapat dari penjualan merchandise. Awalnya, mereka ingin melakukan penggalangan dana sumbangan seperti setahun sebelumnya. Namun, hal tersebut dirasa kurang etis karena ada kesan meminta-minta setiap tahun. Maka, penjualan merchandise pun dimaksimalkan. “Dari merchandise sendiri kami cukup terkejut. Awalnya kami merasa penjualan merchandise tak akan seberapa. Nyatanya bisa menghasilkan hingga 50 juta.” Semua keuntungan dari penjualan merchandise tersebut dialirkan langsung untuk kebutuhan tim. Komposisi terbesar dari kebutuhan tersebut sebenarnya dari tiket pesawat. Dari empat kali keberangkatan (termasuk saat ini), hanya penyelenggaraan di Poznan, Polandia, yang secara ongkos tidak terlalu berat. Sementara untuk penyelenggaraan di Meksiko dan Chile terkendala mahalnya tiket pesawat. Komposisi tim yang akan berangkat tahun ini ada delapan pemain, pelatih, manajer dan dua orang untuk mendokumentasikan kegiatan. Untuk HWC tahun depan, Rumah Cemara telah berancang-ancang untuk mencari sponsor. Maka, tim menyertakan dua orang dokumentasi agar menjadi portofolio untuk dibawa ke sponsor. “Kami sih inginnya dapat sponsor airline atau perusahaan penerbangan. Setidaknya, ongkos kami ke negara tujuan sudah aman,” harap Febby. Indonesia HWC Perubahan Berjuang Maksimal [caption id="attachment_164200" align="aligncenter" width="780"]Indonesia HWC Tanpa Stigma Indonesia tanpa stigma. Tim HWC vs Tim Transgender.[/caption] Timnas Indonesia tak mau setengah-setengah berangkat ke Chile. Setiap hari tim berlatih dua kali sehari di Taman Persib, Jalan Supratman, Bandung. Karena lapangan di Chile nanti menggunakan rumput, maka lapangan di Taman Persib dipilih sebagai tempat latihan. Tidak tanggung-tanggung sebagai langkah aklimatisasi, mereka menggelar latihan pukul 11 siang. Sebagai catatan, suhu rumput sintetis pada siang hari bisa mencapai dua kali lipat dari suhu biasanya. Kelembapan dan suhu yang tinggi membuat stamina kerap terkuras dengan cepat. Maka, delapan orang pemain yang berangkat dibagi menjadi dua tim sebagai langkah antisipasi menghadapi jadwal pertandingan yang hanya berjarak jam. Febby sebenarnya ingin seperti negara lain yang membawa skuat lengkap. Misalnya, timnas Inggris yang membawa psikolog khusus dari klub Manchester United. Lalu, timnas Denmark yang turut serta membawa terapi. Febby pun berceloteh, “Ya, kalau kami sih seringnya pelatih merangkap kitman, manajer merangkap tukang pijat,” katanya sembari terkekeh. Ia menjelaskan, rombongan timnas lain biasanya membawa 15 orang termasuk dokter tim. Meskipun persiapan tidak semewah negara lain, tapi asa selalu membumbung tinggi. Kepanikan yang sempat melanda kini telah tiada, seiring dengan hadirnya hitam di atas putih dengan Kemenpora. *** Di atas lapangan, keringat yang mengucur mulai mengering. Pertandingan kali ini jauh lebih santai. Sesekali, pemain mulai curi-curi waktu untuk beristirahat. Lawan yang mereka hadapi adalah tim transgender yang kerap berteriak histeris saat mencoba menendang bola. Seringkali, tawa terdengar mesra karena lawan kerap menggoda. Sementara itu, Febby masih setia memandangi jam tangannya. Matanya memandang jauh sampai terlihat iring-iringan dari keramaian. Hari itu, nazar 36 jam ditutup oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Tangis berbisik dalam sunyi. Air mata menetes sebagai rasa bangga di hati. Sore ini, mereka akan pergi. Layaknya seperti seorang pajuang yang hendak maju ke medan perang, ada harapan, asa dan mimpi bangsa ini di puncak mereka. Nama baik bangsa ini akan segera dipertaruhkan di Chili.  
Anak Fandi Ahmad Masuk List 40 Talenta Muda Terbaik Dunia versi Guardian
Artikel sebelumnya Anak Fandi Ahmad Masuk List 40 Talenta Muda Terbaik Dunia versi Guardian
Guardiola yang Membenci Tiki-Taka dan Beberapa Cerita Menarik Lainnya
Artikel selanjutnya Guardiola yang Membenci Tiki-Taka dan Beberapa Cerita Menarik Lainnya
Artikel Terkait