Kisah Para Penyeberang yang Menggoreskan Luka

Cerita

by Redaksi 43

Redaksi 43

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kisah Para Penyeberang yang Menggoreskan Luka

Seperti kisah-kisah lain yang melibatkan dua atau lebih kesebelasan saingan, cerita tentang Manchester United dan Manchester City pun dihiasi para penyeberang. Beberapa di antaranya mengantar kesebelasan baru berjaya sembari menggoreskan luka di hati kesebelasan yang ditinggalkan.

Billy Meredith, Sandy Turnbull, Herbert Burgess, dan Jimmy Banister memainkan peran mereka masing-masinng dalam keberhasilan City menjuarai FA Cup pada 1904. Kemenangan di final kejuaraan tertua di Inggris tersebut besar artinya bagi City. Trofi FA Cup 1904 adalah piala bergengsi pertama yang diraih City. Empat tahun berselang, keempat pemain ini membawa United meraih trofi bergengsi mereka yang pertama.

Kepindahan Meredith, Turnbull, Burgess, dan Banister bermula pada 1905. Keempatnya, bersama tiga belas pemain City yang lain, dinyatakan bersalah karena terlibat dalam pengaturan skor; disuap untuk sengaja mengalah dalam pertandingan melawan Aston Villa pada musim 1904/05. Meredith, Turnbull, Burgess, dan Banister dilarang terlibat dalam dunia sepakbola selama beberapa lama.

Setelah menjalani hukuman mereka masing-masing, masalah tidak begitu saja selesai untuk keempatnya. Meredith, Turnbull, Burgess, dan Banister tidak lagi diizinkan membela City sepanjang hidup mereka sehingga mereka harus mencari kesebelasan baru. Di antara semua kesebelasan yang ada di Inggris, keempatnya kembali bermain di satu kesebelasan yang sama: Manchester United.

Meredith, Turnbull, Burgess, dan Banister mengantar United menandai awal kejayaan mereka di liga pada 1908. Enam puluh tahun setelahnya, Sir Alexander Matthew Busby melakukan hal yang nyaris sama dengan cara yang berbeda. Busby, eks pemain Manchester City, membawa United menjadi juara Eropa untuk kali pertama.

Lahir di Skotlandia, Busby memulai karir profesionalnya sebagai pemain di Manchester. Delapan tahun membela City, Busby pindah ke Liverpool. Hanya dua kesebelasan ini yang pernah ia bela sebagai pemain; keduanya saingan United. Tak sedikit pun terbayang Busby berkarir di United. Namun faktanya, itulah yang terjadi.

Begitu memasuki dunia kepelatihan, United adalah kesebelasan pertama yang memberi Busby kesempatan. Busby menjadi manajer United pada 1945 karena dewan direksi Liverpool tidak memberi kesempatan kepada Busby karena kedua belah pihak memiliki pandangan yang berbeda; hingga saat ini, Liverpool masih menyesali perbedaan tersebut.

Bersama United, Busby meraih banyak kesuksesan hingga ia menyandang status legenda. Tragedi München tak mematahkan semangat Busby; ia bangkit dan membawa United berjaya dari sisa-sisa kekuatan yang ada. Pada 1968, Busby mencatatkan namanya sendiri dalam buku sejarah dengan mengalahkan Benfica di final European Cup; United ia bawa menjadi kesebelasan Inggris pertama yang menjuarai European Cup, langsung di percobaan pertama.

Busby mengantar United memenangi apa yang hingga saat ini tak pernah menjadi milik City. Lebih menyakitkan lagi, Busby melakukannya ketika City sedang berpesta karena baru menjadi juara liga. Berbeda dengan Meredith, Turnbull, Burgess, Bannister, dan Busby, Carlos Tevez dan Denis Law menggores luka di hati United.

Tevez, yang menolak perpanjangan kontrak dari United, menyeberang ke City setelah kontraknya habis pada 2009. City mengolok-olok United dengan memasang billboard bertuliskan “Welcome to Manchester” dengan foto Tevez sebagai latar belakangnya di jalan masuk ke kota Manchester dari Salford dan Trafford, tempat stadion kebanggaan Manchester United berlokasi. Mereka memanfaatkan momen kedatangan Tevez untuk kembali mengingatkan United bahwa mereka berasal dan berlokasi di luar kota Manchester. Tiga tahun setelah meninggalkan United, Tevez mengalahkan United dalam perburuan gelar juara liga yang sengit.

Separah apapun luka yang digoreskan Tevez, apa yang dilakukan Denis Law lebih menyakitkan lagi. United berada di posisi yang sulit ketika mereka menjamu City di Old Trafford, satu pekan sebelum putaran terakhir First Division musim 1973/74. Menghuni zona degradasi, United membutuhkan kemenangan untuk bertahan di divisi tertinggi.

United terus berusaha mencetak gol, namun nasib baik tidak mengiringi usaha mereka. Dua kali pemain City menggagalkan peluang United tepat di garis gawang. Hal yang ditakutkan United terjadi di menit ke-81.

Denis Law, bekas pemain United, berdiri bebas membelakangi gawang di dalam kotak penalti ketika Francis Lee melepas umpan mendatar. Law menyambut bola yang datang ke arahnya dengan tumit, dan sebuah gol pun tercipta. Menghormati United, Law tidak melakukan perayaan. But the damage is done. Golnya memicu invasi. Ratusan pendukung memasuki lapangan.

Pertandingan sempat dihentikan, namun kemudian dilanjutkan tanpa Law yang langsung ditarik keluar dan dibawa masuk ke ruang ganti. Keunggulan City bertahan hingga pertandingan berakhir. Karena sebuah sontekan tumit dari bekas pemainnya, United turun divisi.

Komentar