Super League 2026/27: 18 Klub, 18 Masalah

Super League 2026/27: 18 Klub, 18 Masalah
Font size:

Arema FC: Revitalisasi Mental yang Rapuh

Singo Edan melakukan penyegaran skuad dalam skala besar, mendatangkan sekitar 10 wajah baru termasuk empat pemain asing. Sehingga total ada 11 pemain asing di bawah asuhan Marcos Santos. Persoalannya, membangun kekompakan dan pemahaman taktik dalam waktu pramusim yang terbatas bukan perkara instan, apalagi Santos pernah mengakui mentalitas pemain jadi titik lemah timnya musim lalu. Arema kerap tampil bagus di awal laga tapi langsung kendor begitu kebobolan lebih dulu, terutama saat tandang.

Santos memilih membangun fondasi organisasi permainan dan kekompakan tim lebih dahulu sebelum bicara hasil instan. Tantangan sebenarnya adalah menyatukan banyak wajah baru dalam waktu singkat sembari memastikan mental bertanding sudah matang sejak pekan pertama. Sebab, keterlambatan proses integrasi berisiko membuat Arema kembali tersendat di awal musim seperti yang berulang terjadi beberapa tahun terakhir.

Bali United FC: Bangun dari Musim Mengecewakan

Finis di posisi kedelapan pada 2025/26 dianggap di bawah standar Serdadu Tridatu, sehingga manajemen mengambil langkah tegas dengan melepas sejumlah pemain reguler musim lalu. Mereka mendatangkan enam asing baru sekaligus, termasuk Jort van der Sande yang disiapkan sebagai target man utama. Johnny Jansen tetap dipertahankan sebagai pelatih untuk menjaga kesinambungan proyek jangka panjang.

Masalahnya, enam pemain asing baru itu butuh waktu beradaptasi dengan gaya main Jansen dan kultur kompetisi Indonesia yang menurut sang pelatih sendiri "sudah banyak berubah" dibanding pengalamannya sebelumnya. Bali United membidik target realistis lima atau enam besar. Namun, keberhasilan sangat bergantung pada seberapa cepat para pendatang baru bisa menyatu dengan skuad yang sudah ada.

Bhayangkara Presisi Lampung FC: Transisi Skuad dan Pelatih

Meski finis kelima musim lalu, manajemen The Guardians memutuskan melakukan perombakan besar-besaran dengan melepas 16 pemain. Perubahan itu juga dibarengi berakhirnya kerja sama dengan pelatih Paul Munster yang membawa tim finis di posisi lima besar musim lalu, digantikan Oscar Bruzon, pria Spanyol dengan filosofi berbeda.

Di tengah revolusi skuad dan pelatih itu, Gubernur Lampung secara terbuka menargetkan tim finis tiga besar musim ini. Tantangan bagi kepelatihan baru adalah menyatukan skuad yang sebagian besar wajahnya berganti dalam waktu singkat, sekaligus mempertahankan level kompetitif yang sudah dibangun era sebelumnya. Sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah mengingat besarnya ekspektasi publik Lampung terhadap tim barunya ini.

Borneo FC Samarinda: Membangun Ulang Identitas dari Nol

Status runner-up Super League 2025/2026 justru diikuti guncangan besar di internal Pesut Etam. Pelatih Fabio Lefundes yang membawa tim finis dengan poin sama seperti sang juara, Persib Bandung, digantikan Mauro Jeronimo. Bersamaan dengan itu, 15 pemain dilepas termasuk pemain terbaik musim lalu, Mariano Peralta, yang justru berlabuh ke Persib.

Borneo harus membangun ulang identitas permainan dari titik nol. Sementara, jadwal musim ini jauh lebih padat: selain Super League, mereka juga tampil di AFC Challenge League (sebagai tuan rumah fase grup), League Cup, dan ASEAN Club Championship. Manajemen sudah menegaskan tidak mungkin fokus di keempat kompetisi sekaligus dan memilih memprioritaskan Super League karena ancaman degradasi, sebuah pengakuan yang menunjukkan besarnya beban jadwal yang harus dikelola tim yang skuadnya belum genap solid.

Dewa United: Mengejar Kembali Konsistensi

Setelah menjadi runner-up Liga 1 2024/25, performa Banten Warriors justru menurun ke peringkat tujuh musim lalu. Evaluasi menyeluruh pun dilakukan: 10 pemain dilepas, dan pelatih Jan Olde Riekerink digantikan Osmar Loss, juru taktik asal Brasil yang sebelumnya menangani Persepolis di Iran.

Tantangan utama Dewa United adalah menerjemahkan ambisi tinggi manajemen menjadi konsistensi hasil di lapangan, sesuatu yang justru menjadi kelemahan mereka dua musim terakhir. Osmar Loss punya waktu terbatas untuk membangun identitas taktik barunya sebelum kompetisi bergulir, sementara rival-rival sekelas seperti Persib berbelanja agresif di bursa transfer, membuat persaingan papan atas diprediksi semakin ketat.

Garudayaksa: Target Tinggi Tapi Minim Pengalaman

Sebagai klub yang baru berdiri pada 2025, musim ini menjadi debut pertama Garudayaksa di kasta tertinggi sepak bola Indonesia setelah menjuarai Championship 2025/26. Manajemen melepas sekitar 20 pemain skuad juara promosi dan menunjuk pelatih baru asal Serbia, Milos Joksic, untuk membangun fondasi tim yang sama sekali belum teruji di level Super League.

Meski demikian, manajemen memasang target tinggi, finis enam besar, sebuah ambisi yang berat mengingat tim ini harus langsung berhadapan dengan klub-klub mapan seperti Persib, Persija, PSM, dan Persebaya sejak pekan-pekan awal. Minimnya jam terbang di level tertinggi dan skuad yang nyaris seluruhnya baru menjadi risiko terbesar bagi Spirit of Garuda untuk bisa bersaing sesuai ekspektasi publik.

Isen Mulang FC: Basis Suporter dari Nol di Wilayah Baru

Klub promosi yang sebelumnya bernama Adhyaksa FC ini sempat berencana bermarkas di Banten, tapi akhirnya memutuskan ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah, sekaligus berganti nama menjadi Isen Mulang Kalteng FC. Perubahan identitas dan domisili yang serba mendadak ini berarti klub harus membangun basis suporter, ekosistem pertandingan kandang, dan keterikatan emosional dengan publik Kalimantan Tengah, nyaris dari nol.

Sentimen publik lokal sendiri tidak sepenuhnya tanpa kekhawatiran. Sejumlah pihak mengingatkan agar klub ini tidak bernasib seperti Kalteng Putra, klub sebelumnya yang pernah mewakili wilayah ini di kasta tertinggi, namun tak bertahan lama. Di atas kertas, tantangan Isen Mulang bukan cuma soal kualitas skuad, tetapi juga membuktikan keberlanjutan jangka panjang di kandang barunya, termasuk logistik perjalanan tandang yang relatif lebih jauh dibanding klub-klub Jawa.

Java United: Krisis Identitas Hilang Basis Suporter Lama

Perubahan paling kontroversial musim ini datang dari Malut United yang resmi berganti nama menjadi Java United FC sekaligus memindahkan markas dari Ternate, Maluku Utara, ke Semarang, Jawa Tengah. Keputusan ini langsung memicu gelombang kekecewaan suporter lama di Ternate yang merasa loyalitas mereka "sia-sia" setelah mengikuti klub sejak level Liga 2.

Java United kini harus membangun basis dukungan yang sama sekali baru di Semarang. Tantangan klub ini ganda: kehilangan ikatan emosional dengan komunitas lama yang sudah dibangun sejak 2023, sekaligus harus merebut hati publik baru yang belum tentu otomatis berpihak, Proses branding dan loyalitas yang biasanya butuh waktu bertahun-tahun, bukan hitungan bulan.

Madura United: Trauma Nyaris Degradasi

Musim 2025/26 jadi periode paling suram sepanjang sejarah Madura United di kasta tertinggi. Kepastian lolos dari degradasi baru didapat di laga-laga terakhir musim, sesuatu yang menurut Presiden klub Achsanul Qosasi belum pernah terjadi separah. Evaluasi total pun dilakukan, dengan pelatih baru asal Portugal, Ze Gomes, ditunjuk untuk membangun identitas permainan yang sama sekali berbeda.

Persoalannya, Ze Gomes hanya punya waktu sekitar sebulan sejak latihan perdana pada 25 Juli hingga kompetisi bergulir 4 September untuk menyatukan skuad yang komposisinya berubah hampir semua lini. Tantangan membangun kekompakan dalam waktu terbatas diperberat oleh kebutuhan menyeimbangkan banyaknya pemain kreatif dengan struktur pertahanan kokoh, dua hal yang sulit dipadukan dalam periode persiapan sesingkat itu.

Persebaya Surabaya: Menerjemahkan Kejayaan Pramusim

Persebaya mengakhiri masa pramusim dengan status juara Piala Presiden 2026, capaian yang sekaligus jadi pisau bermata dua. Pelatih Bernardo Tavares secara terbuka mewanti-wanti timnya agar tidak terlena, karena tantangan sesungguhnya baru dimulai di Super League.

Sejarah kompetisi Indonesia menunjukkan gelar turnamen pramusim tidak selalu berkorelasi dengan konsistensi 34 pekan liga reguler. Tavares sendiri mengakui skuadnya belum berada di level ideal meski sudah menjalani training camp intensif di Thailand. Tantangan terbesar Bajul Ijo adalah membuktikan performa gemilang di pramusim bukan sekadar euforia sesaat, melainkan fondasi nyata untuk bersaing di papan atas sepanjang musim.

Persib Bandung: Jadwal Superpadat di Empat Kompetisi

Sebagai juara tiga musim beruntun, Persib menghadapi beban jadwal paling berat di antara seluruh klub Super League. Selain 34 laga liga, Maung Bandung juga berlaga di League Cup, ASEAN Club Championship (Shopee Cup), dan AFC Champions League Two. Total empat kompetisi resmi dalam satu musim, ditambah debut kompetitif pelatih baru Igor Tolic yang menggantikan Bojan Hodak.

Beberapa laga dipastikan beririsan jadwal, misalnya laga away ACC melawan Lion City Sailors yang berdekatan dengan pekan ke-13 Super League, atau laga kandang lawan Johor Darul Ta’zim yang berbenturan pekan ke-15. Kondisi ini memaksa Tolic mengelola rotasi skuad ekstra hati-hati sejak awal. Kelelahan fisik dan risiko cedera bisa berdampak pada ambisi Persib mempertahankan gelar sekaligus bersaing di tiga kompetisi lain.

Persija Jakarta: Badai Cedera dan STY Effect

Persija memulai musim dengan kabar buruk: lima pemain sekaligus masuk daftar cedera menjelang laga perdana, termasuk Pratama Arhan yang harus menjalani operasi jari tangan dengan estimasi pemulihan 4–6 pekan. Situasi ini terjadi persis di tengah masa adaptasi pelatih baru Shin Tae-yong yang tengah menyusun skuad final untuk musim debutnya di Indonesia.

Di luar lapangan, hubungan klub dengan suporter The Jakmania juga sempat tegang akibat kenaikan harga tiket laga peluncuran tim, yang berujung boikot sebagian pendukung. Kombinasi krisis cedera pemain kunci dan proses adaptasi taktik baru membuat Shin Tae-yong harus meracik skuad pengganti secara mendadak, sesuatu yang berisiko mengganggu soliditas tim di pekan-pekan krusial awal musim.

Persik Kediri: Kesiapan Fisik dan Taktik yang Tertinggal

Pelatih Marcos Reina mengakui secara terbuka bahwa kondisi fisik dan pemahaman taktik skuad Macan Putih belum mencapai level ideal meski sudah menjalani lima laga uji coba dan training camp di Solo. Menjelang laga pembuka melawan Dewa United, Reina bahkan masih mencari satu laga uji coba tambahan untuk mematangkan tim.

Persik memang secara sengaja tidak memasang target muluk musim ini, memilih filosofi "laga per laga" untuk memperbaiki peringkat secara bertahap dari posisi ke-12 musim lalu. Persoalannya, jika kesiapan fisik dan taktik belum optimal sejak laga pertama, tim berisiko kembali start lambat di awal musim seperti kecenderungan klub-klub dengan proses pramusim yang belum tuntas.

Persijap Jepara: Berpacu dengan Waktu

Setelah nyaris terdegradasi musim lalu (finis 13 dengan 36 poin), Persijap melakukan perombakan besar-besaran skuad demi mengejar target 10 besar musim ini. Masalahnya, Laskar Kalinyamat justru menjadi klub yang paling terlambat memulai latihan pramusim dibanding seluruh kompetitornya. Mereka baru menggelar sesi latihan perdana pada 17 Agustus 2026, hanya enam pekan sebelum kompetisi bergulir.

Waktu persiapan yang sangat mepet ini menjadi beban bagi pelatih Juan Cortes untuk membangun identitas permainan dan kekompakan skuad yang sebagian besar wajahnya baru. Dengan ekspektasi publik yang kini bergeser dari sekadar bertahan di Super League dan menuntut prestasi lebih baik, kombinasi skuad baru dan waktu adaptasi yang sempit berpotensi membuat start Persijap kembali tersendat seperti tahun lalu.

Persita Tangerang: Mencari Solusi Lini Serang Tumpul

Musim lalu, Persita tampil cukup solid di lini pertahanan sepanjang kompetisi, namun daya gedor mereka justru melempem di tiga perempat akhir musim, hanya mencetak 38 gol dari 34 pertandingan sebelum akhirnya finis di posisi ke-10. Pelatih Carlos Pena, yang tetap dipertahankan untuk musim keduanya, secara eksplisit mengakui problem ini sebagai fokus evaluasi utama.

Manajemen sudah mendatangkan sejumlah pemain baru di lini tengah dan depan seperti Alexandre Ramalingom dan Luquinhas untuk mengatasi persoalan. Namun tantangan sesungguhnya adalah memastikan skema serangan baru bisa selaras dengan soliditas pertahanan yang sudah terbangun. Lebih penting, menjaga performa itu tetap konsisten sampai akhir musim, bukan hanya di paruh awal seperti yang terjadi tahun lalu.

PSIM Yogyakarta: Dilema Slot Bermain Pemain Asing

Laskar Mataram melakukan perombakan besar pada komposisi pemain asing, mendatangkan enam legiun anyar sehingga total memiliki 11 pemain asing musim ini. Pelatih Jean-Paul van Gastel sendiri mengakui hanya bisa memainkan tujuh pemain asing sekaligus dan membawa sembilan ke dalam skuad pertandingan, artinya setidaknya dua hingga empat pemain asing harus rutin dicoret dari line-up setiap pekan.

Situasi ini menciptakan dilema manajerial yang tidak sederhana: bagaimana menjaga motivasi pemain-pemain mahal yang direkrut dengan ekspektasi tinggi namun harus rutin duduk di bangku cadangan. Van Gastel pun belum berani mengklaim skuadnya otomatis lebih kuat dari musim debut yang berakhir di posisi ke-11, karena keberhasilan sesungguhnya baru bisa dinilai setelah kompetisi berjalan dan pola rotasi benar-benar teruji.

PSM Makassar: Krisis Finansial dan Sanksi FIFA

Musim lalu, Juku Eja menerima catatan kelam enam sanksi FIFA akibat tunggakan gaji pemain dan pelatih, termasuk yang memicu mundurnya Bernardo Tavares di tengah kompetisi. Hingga akhir Agustus 2026, hanya beberapa hari sebelum kick-off, PSM tercatat sebagai satu-satunya klub Super League yang masih terkena larangan pendaftaran pemain dari FIFA, akibat dua sengketa finansial baru yang belum diselesaikan.

Kondisi ini berarti tujuh pemain baru, lima di antaranya legiun asing seperti Sergio Aguero dan Navarone Foor, terancam belum bisa didaftarkan dan dimainkan sejak pekan pertama jika kewajiban finansial tidak segera dilunasi. Krisis ini bukan cuma soal performa di lapangan, melainkan persoalan keberlangsungan operasional klub itu sendiri. Sesuatu yang menurut APPI semestinya sudah tidak lagi terjadi di level kasta tertinggi kompetisi nasional.

PSS Sleman: Adaptasi Naik Level Lebih Berat

Setelah kembali ke kasta tertinggi sebagai runner-up Championship 2025/26, PSS langsung dihadapkan pada realita yang jauh berbeda dari level sebelumnya. Pelatih Pieter Huistra secara terbuka mengakui jadwal musim ini jauh lebih padat. Selain 34 laga Super League, PSS juga wajib tampil di League Cup yang diikuti 38 klub dari Super League dan Championship, dengan regulasi pemain asing yang bahkan berbeda.

Super Elja harus membangun kedalaman skuad yang memadai dalam waktu singkat agar mampu menjaga performa sepanjang musim, sesuatu yang belum pernah mereka hadapi di level Championship. Ujian pertama datang cepat: laga away langsung melawan Bali United di pekan pembuka menjadi indikator awal seberapa siap PSS menghadapi gap kualitas antara dua kasta kompetisi.

Power Ranking: Prediksi Klasemen Akhir Super League 2026/27
Artikel sebelumnya Power Ranking: Prediksi Klasemen Akhir Super League 2026/27
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait