16 Agustus 2026, Lazio tersingkir dari Coppa Italia setelah kalah 0–2 dari klub Serie B, Mantova. Mereka gagal memaksimalkan sejumlah peluang, bobol pada menit ke-75, lalu dihukum lewat serangan balik pada injury time. Era Gennaro Gattuso langsung dimulai dengan pukulan yang membuat keraguan terhadapnya semakin besar.
Delapan pertandingan Serie A kemudian, ceritanya berbalik. 7 kemenangan, 1 imbang, 0 kekalahan, 16 gol, dan hanya 5 kali kebobolan. Mereka kini bersaing memperebutkan takhta klasemen besama Inter Milan. Start ini juga menjadi yang terbaik dalam sejarah Lazio di Serie A.
Gattuso tak mencari kambing hitam setelah kekalahan. “Saya bertanggung jawab penuh,” ujarnya. Ia mengakui Lazio bermain setengah-setengah, kurang agresif, dan membiarkan lawan mendapatkan terlalu banyak ruang. Kritik itu spesifik: persoalannya bukan cuma penyelesaian akhir, juga cara tim mengendalikan pertandingan.
Respons Gattuso adalah kembali ke pekerjaan dasar: intensitas latihan, kedisiplinan, dan kepercayaan terhadap pendekatan baru. Setelah mengalahkan Udinese pada pekan ketiga, ia menyebut para pemain mulai percaya kepada apa yang sedang mereka bangun. Itu bukan perubahan instan, melainkan proses yang segera diuji dalam kompetisi.
Gattuso Tak Bisa Dinilai dari Satu Kegagalan
Keraguan terhadap Gattuso punya dasar. Ia gagal membawa Italia lolos ke Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Bosnia dan Herzegovina pada final play-off. Karier klubnya pun naik-turun, dengan beberapa periode singkat dan mengecewakan.
Namun, menyebutnya sebagai pelatih yang selalu gagal juga mengabaikan fakta bahwa ia membawa Napoli juara Coppa Italia 2020. Di Napoli, Milan, dan klub-klub lain, hasilnya memang tidak selalu konsisten. Lazio kini menunjukkan bahwa rekam jejak masa lalu tak otomatis menentukan kecocokan pelatih dengan skuad dan lingkungan barunya.
Struktur dasar Lazio adalah 4-3-3, tetapi bentuk itu berubah ketika menguasai bola. Dua full-back naik ke area tengah, gelandang bertahan Reda Belahyane bisa turun di antara dua bek tengah. Satu gelandang lain menjaga sirkulasi, sedangkan rekannya menyerbu area di sekitar penyerang. Hasilnya menyerupai 3-3-4, dengan lebih banyak pemain mengancam lini belakang lawan.
Kuncinya adalah rotasi posisi. Kenneth Taylor bisa turun untuk membantu progresi bola, Davide Frattesi menyerang ruang di kotak penalti, Nuno Tavares memberi daya jelajah di sisi lapangan, Mattia Zaccagni menyerang kedalaman. Pemain bukan sekadar menjalankan posisi, melainkan saling menggantikan fungsi untuk menciptakan keunggulan ruang dan jumlah.
Kemenangan 3–0 di kandang Juventus (18/10) adalah demonstrasi paling kuat. Oliver Provstgaard membuka skor lewat situasi sepak pojok, Gustav Isaksen menggandakan keunggulan setelah menerima umpan Nuno Tavares, lalu Fisayo Dele-Bashiru menuntaskan serangan balik pada menit ke-89. Tiga gol lahir melalui situasi berbeda, bukan dari satu pola serangan yang terus diulang.
Lazio juga menyesuaikan cara membangun serangan untuk melewati tekanan Juventus. Pada fase tertentu, Christos Mandas berperan sebagai pemain ketiga di garis belakang, sebelum Belahyane mengambil fungsi itu. Pendekatan ini berisiko karena Lazio menerima duel satu lawan satu di belakang, tapi berhasil melewati tekanan dan menyerang ruang yang ditinggalkan Juventus.
Pemain Lama, Peran Baru
Produktivitas Lazio tidak bergantung pada satu pencetak gol. Setelah delapan laga, Mattia Zaccagni, Tijjani Noslin, dan Nuno Tavares sama-sama membukukan empat kontribusi gol (gabungan gol dan assist), sementara Frattesi mencatat tiga. Ini menunjukkan bahwa ancaman bisa datang dari winger, full-back, maupun gelandang yang masuk ke kotak penalti.
Gattuso berani mengubah hierarki pemain. La Gazzetta dello Sport menyoroti Noslin yang dipercaya sebagai penyerang tengah dan mencetak gol dalam dua pertandingan beruntun, mengungguli Andrea Pinamonti yang belum juga tokcer. Belahyane kian meyakinkan sebagai pengatur permainan dari bawah dan Tavares kembali eksplosif. Keberhasilan Gattuso datang dari kemampuan menemukan fungsi tepat bagi pemain yang ada.
Gattuso dikenal keras. Noslin pernah bercerita bahwa sang allenatore berteriak dan memecahkan beberapa benda di ruang ganti ketika memberi team-talk saat jeda laga. Gattuso menyebut dirinya seperti “martello” alas palu ketika menangani pemain. Namn La Gazzetta juga menekankan dialog, kejelasan komunikasi, dan perlakuan yang dianggap adil.
Gattuso disebut pernah menolak peluang merekrut Mauro Icardi setelah lebih dahulu berkomitmen pada rencana bersama Pinamonti dan Albert Gudmundsson. Bagi Gattuso, mempertahankan kepercayaan pemain bisa lebih penting daripada mendatangkan nama yang lebih besar. Ia memberi petunjuk bahwa keberhasilan Lazio bukan cuma soal papan taktik, tapi juga kredibilitas pelatih di depan ruang ganti.
Di Luar Lapangan, Lazio Belum Baik-Baik Saja
Lazio menjalani musim di tengah persoalan yang jauh lebih besar. Boikot suporter terhadap presiden Claudio Lotito membuat Stadio Olimpico kerap terlihat sunyi. Di sisi lain, Gattuso datang ketika ruang belanja klub terbatas. Ia mengakui absennya suporter merugikan tim dan bermain di stadion tanpa penonton bukanlah pengalaman yang ideal.
Faktor ini tidak otomatis menjelaskan tujuh kemenangan Lazio. Justru, hasil mereka memperlihatkan kemampuan menjaga fokus dan keterbatasan sumber daya. Namun, performa bagus di lapangan tidak menyelesaikan konflik antara suporter dan manajemen. Ini tetap menjadi pekerjaan rumah klub, terlepas dari seberapa baik Gattuso meramu timnya.
Ada alasan untuk percaya, juga alasan untuk menahan ekspektasi. Mayoritas kemenangan Lazio datang melawan tim menengah. Kemenangan atas Juventus menjadi pernyataan besar, tapi hasil imbang 2–2 lawan Milan memperlihatkan bahwa mereka masih bisa kehilangan kendali setelah unggul. Kemenangan 2–1 atas Parma pun diwarnai gol balasan pada akhir laga.
Usai mengalahkan Parma, Gattuso mengatakan bahwa Lazio belum pantas berada posisi puncak. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan intensitas pressing, menutup ruang di belakang bek sayap, dan mengelola pertandingan saat lawan berhasil melewati tekanan awal. Jika Lazio bisa mengatasi itu, start impresif ini mungkin bukan kejutan sesaat, melainkan lahirnya identitas baru di bawah Gattuso.
