Berbeda dengan kegagalan timnas sepak bola di berbagai macam turnamen, timnas futsal Indonesia justru sedang menikmati momentum terbaiknya setelah sukses menjadi finalis Piala Asia dan berhasil memutus dominasi Thailand untuk menjuarai ASEAN Futsal Championship. Di balik kesuksesan besar tersebut, ada peran krusial dari pria asal Galicia, Spanyol, bernama Héctor Souto, yang kini menjabat sebagai pelatih kepala sekaligus Direktur Teknik nasional.
Publik olahraga di tanah air tentu berharap Coach Héctor bisa bertahan dalam jangka waktu lama untuk membangun sistem di sini. Namun, dalam industri olahraga modern, pergerakan karier seorang pelatih berjalan sangat dinamis. Ketika seorang pelatih sukses, tawaran dari klub elite Eropa atau federasi di Spanyol bisa datang kapan saja.
Oleh karena itu, catatan ini dibuat bukan untuk merayakan trofi juara, tetapi sebagai pengingat jangka panjang mengenai fondasi dan pola pikir yang ingin ia bangun di Indonesia. Melalui sebuah diskusi personal via pesan singkat, Coach Héctor membedah beberapa persoalan kultural yang selama ini menghambat bakat-bakat lokal untuk bersaing di level yang lebih tinggi.
Koreksi Atas Kultur "Kaya Motivasi, Miskin Instruksi"
Coach Héctor menyoroti satu kelemahan mendasar dalam kultur kepelatihan di Indonesia, terutama saat memberikan umpan balik (feedback) kepada pemain di tengah latihan atau pertandingan.
"Masalah terbesar yang saya lihat di beberapa latihan atau pertandingan adalah tentang feedback. Sebagian besar hanya bersifat motivasi dan bukan hal teknis atau taktis," ungkap Coach Héctor dengan jujur.
Pernyataan ini menjadi evaluasi penting bagi ekosistem olahraga kita. Di Indonesia, pinggir lapangan atau ruang ganti sering kali didominasi oleh instruksi lisan yang bersifat membakar semangat seperti "Ayo semangat!", "Sikat!", atau "Fokus!". Aspek mentalitas dan kerja keras sering kali diagungkan di atas segalanya. Namun, bagi Coach Héctor, pemain tidak akan bisa berkembang secara cerdas jika hanya terus-menerus didorong aspek emosinya tanpa arah taktis yang jelas.
"Kita perlu memberikan lebih banyak masukan teknis dan taktis untuk membuat pemain kita belajar," tambahnya.
Menurutnya, pelatih harus mampu mendikte ruang secara detail, menjelaskan ke mana jalur operan harus dibuka, bagaimana posisi tubuh yang benar saat menerima bola, hingga cara memanipulasi struktur pertahanan lawan. Pemain membutuhkan pemahaman taktis yang matang, bukan sekadar semangat juang yang tinggi.
Mengubah Profil Pelatih: Menuntut Variasi Taktis
Masalah minimnya instruksi taktis ini berakar dari profil pelatih itu sendiri. Banyak instruktur di Indonesia yang masih terjebak pada satu strategi yang kaku tanpa memiliki rencana cadangan ketika skema utama berhasil diredam oleh lawan.
"Untuk pelatih, mereka harus mendapatkan pengetahuan mendalam tentang semua bidang, tetapi lebih spesifik lagi adalah taktik. Masalah utamanya adalah kita tahu banyak hal, tetapi masalah besarnya adalah kita tidak memiliki variasi atau solusi lengkap untuk semua situasi utama," jelas lulusan sekolah kepelatihan Spanyol tersebut.
Bagi Coach Héctor, kompetensi seorang pelatih di era modern tidak diukur dari seberapa banyak teori yang ia ketahui. "Ini lebih tentang menjadi pelatih yang lengkap dan bisa memiliki solusi untuk sebagian besar kemungkinan, daripada sekadar tentang pengetahuan itu sendiri."
Persiapan pertandingan di level elite saat ini juga wajib didukung oleh pemanfaatan data dan analisis video harian, sebuah aspek yang menurutnya masih harus ditingkatkan oleh para pelatih lokal di Indonesia.
"Saya berharap ketika saya pergi nanti, profil pelatih di Indonesia telah berubah menjadi seseorang yang memiliki variasi taktis dan mempersiapkan pertandingan secara mendalam. Teknologi harus digunakan every single day demi keuntungan kita. Kebanyakan pelatih saat ini tidak bagus dalam hal itu. Kita perlu mengubahnya," tegas Coach Héctor.
Visi besar untuk keluar dari zona nyaman dan mengikis kultur lama ini tidak berhenti di atas kertas. Implementasi nyata dari cetak biru tersebut langsung dibuktikan lewat agenda besar Federasi Futsal Indonesia (FFI) yang memberangkatkan Skuad Garuda ke Spanyol untuk menjalani pemusatan latihan (training centre).
Sebanyak 16 pemain pilihan diboyong langsung oleh Coach Héctor untuk merasakan intensitas futsal modern Eropa. Selama berada di Negeri Matador, Timnas Futsal Indonesia tidak hanya berlatih, tetapi juga dijadwalkan melakoni laga uji coba tingkat tinggi melawan klub-klub elite divisi utama Spanyol, termasuk sang raksasa Eropa, Palma Futsal. Agenda luar negeri ini menjadi simulasi konkret bagaimana taktik ilmiah, kedisiplinan fisik, dan analisis video harian yang sering digaungkan Coach Héctor diterapkan langsung di habitat futsal terbaik dunia.
Kompas Masa Depan: Tiru, Adaptasi, Inovasi
Selain dari sisi kepelatihan, Coach Héctor juga menekankan pentingnya profesionalisme mandiri bagi para pemain profesional di luar lapangan, terutama menyangkut aspek fisik yang sering menjadi kendala atlet lokal.
"Untuk pemain, mereka harus menjaga diri mereka sendiri di semua aspek: kondisi fisik, istirahat, nutrisi, dan lain-lain, bersamaan dengan kemampuan untuk mengembangkan diri mereka sendiri di atas lapangan. Selalu ada ruang untuk berkembang," tuturnya.
Sebagai penutup, Coach Héctor membagikan sebuah prinsip yang bisa menjadi kompas utama bagi masa depan futsal Indonesia: Copy, Adapt, and Innovate. Ekosistem futsal Indonesia perlu meniru sistem dari negara-negara yang sudah maju, mengadaptasinya dengan karakter serta kultur lokal, lalu melahirkan inovasi taktis baru yang organik. Futsal adalah olahraga yang dinamis dan tidak bisa hanya dipelajari lewat buku teks yang kaku. Guru terbaik adalah evaluasi konkret dari setiap pertandingan dan sesi latihan harian.
Ketika ditanya mengenai motivasinya untuk terus membenahi fondasi ini meskipun posisinya sudah aman setelah mempersembahkan trofi juara, Coach Héctor memberikan jawaban yang menunjukkan standar profesionalismenya yang tinggi.
"Saya hanya menjalankan tanggung jawab saya hingga batas maksimal. Saya jujur, setelah apa yang saya capai sejauh ini, saya bisa saja tinggal menikmati hidup yang nyaman, tetapi itu bukan gaya saya. Saya ingin meninggalkan warisan (legacy) dan mengubah pola pikir (mindset) dari seluruh futsal Indonesia."
Catatan ini ditulis saat Coach Héctor masih bertugas memimpin proyek jangka panjang futsal Indonesia menuju target besar Piala Dunia Futsal FIFA 2028. Namun, suatu saat nanti, ketika takdir membawanya pergi untuk tantangan karier yang lebih besar, poin-poin yang ia sampaikan di atas akan tetap relevan sebagai bahan evaluasi yang jujur.
Héctor Souto telah memberikan trofi juara untuk Indonesia. Namun, proyek atau warisan utama yang sebenarnya sedang ia kerjakan saat ini bukanlah deretan piala, melainkan perbaikan pola pikir menyeluruh dari ekosistem futsal kita. Tugas ekosistem futsal Indonesia sekarang adalah membuktikan bahwa kita mampu menjadi murid yang baik. Murid yang mau belajar untuk berhenti sekadar mengandalkan motivasi dan teriakan semangat di pinggir lapangan, serta mulai bertransformasi menuju penerapan taktik yang ilmiah, terukur, dan visioner.
