Pada 28 Juli 2026, Brescia Calcio, salah satu klub paling ikonis di wilayah Lombardy, dinyatakan dilikuidasi oleh Pengadilan Italia dan resmi dibubarkan secara hukum. Lembaran sejarah panjang selama ratusan tahun di sepak bola Italia resmi ditutup dengan tragis.
Keputusan ini menjadi akhir definitif dari entitas klub yang telah berusia 115 tahun tersebut. Bagi warga lokal dan suporter layar kaca yang tumbuh dengan menyaksikan seragam biru berlogo huruf "V" putih, hilangnya institusi asli Brescia ini meninggalkan duka yang sangat mendalam di kancah sepak bola nasional.
Sejenak kita mundur untuk mengingat kisah klub yang bermula pada 1911 ketika didirikan dengan nama Brescia Football Club. Mereka dengan cepat mengukuhkan diri sebagai fondasi penting sepak bola Italia dan bahkan menjadi salah satu klub pendiri Serie A ketika format liga disatukan untuk pertama kalinya pada musim 1929/1930.
Dikenal dengan julukan Le Rondinelle (Si Burung Walet Kecil) dan La Leonessa (Singa Betina), klub ini memiliki identitas visual yang kuat. Sepanjang sejarahnya, Brescia selalu dikenal sebagai klub pekerja keras yang mewakili kebanggaan kelas pekerja dan ketahanan masyarakat kotanya.
Meski bukan raksasa pengumpul trofi, Brescia dihormati sebagai persinggahan magi para maestro sepak bola dunia. Bintang-bintang besar seperti Roberto Baggio, Andrea Pirlo, Pep Guardiola, Gheorghe Hagi, Luca Toni, hingga pelatih kawakan, Carlo Mazzone pernah mengukir karya seni mereka di klub ini.
Baggio secara khusus menjadikan Brescia sebagai pelabuhan terakhirnya saat pensiun, menciptakan koneksi batin yang sangat kuat dengan suporter. Bahkan, nomor punggung 10 miliknya pun dipensiunkan. Di era yang lebih modern, nama-nama seperti Mario Balotelli dan Sandro Tonali juga sempat membela panji kebanggaan kota Lombardy ini.
Prestasi terbaik Brescia justru paling banyak terukir melalui konsistensi mereka di kasta kedua sepak bola Italia. Mereka memegang rekor sebagai klub yang paling sering bermain di Serie B, yakni 66 musim, dan berhasil menjuarai kompetisi tersebut sebanyak empat kali, dengan gelar terakhir diraih pada musim 2018/19.
Meski belum pernah mencicipi Scudetto, kualitas mereka tak bisa dipandang sebelah mata. Brescia mencatatkan total 23 musim berlaga di Serie A, bersaing langsung dan sering kali merepotkan klub-klub elite di kasta tertinggi sepak bola Italia. Prestasi terbaik mereka di Serie A adalah peringkat ke-8 pada 2000/01 bersama Baggio hingga berhak lolos ke Intertoto Cup.
Setelahnya, Brescia mengalami pasang-surut. Sampai akhirnya benih keruntuhan mulai mencuat pada musim 2024/25 yang berjalan penuh dengan mimpi buruk. Brescia kesulitan secara performa di atas lapangan, berjuang di papan bawah klasemen Serie B dan akhirnya terkena hukuman pemotongan poin yang memastikan mereka terdegradasi.
Petaka sebenarnya justru berakar di luar lapangan ketika manajemen di bawah presiden Massimo Cellino enggan melunasi berbagai tunggakan wajib. Klub mulai tidak mampu membayar gaji para pemainnya, memicu efek domino kehancuran dari segi operasional dan manajerial.
Masalah tunggakan gaji pemain dan kewajiban pajak ini akhirnya menumpuk menjadi utang raksasa yang tidak tertolong. Menjelang musim panas 2025, total utang klub diperkirakan telah menyentuh angka sekitar €20 juta (lebih dari Rp415 miliar).
Merespons krisis ini, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) bertindak tegas dengan mencabut lisensi Brescia untuk berlaga di Serie C musim 2025/26. Tanpa lampu hijau untuk mendaftar, Brescia secara resmi dicoret dari seluruh kompetisi sepak bola profesional.
Setelah setahun penuh terombang-ambing tanpa aktivitas pertandingan, nasib klub akhirnya ditentukan secara tragis di meja hijau. Pada akhir Juli 2026, pengadilan wilayah utara Italia menjatuhkan vonis likuidasi yudisial, menetapkan Brescia dalam status bangkrut secara absolut.
Berbeda dengan sekadar sanksi turun kasta, vonis ini mengakhiri eksistensi legal dari perusahaan Brescia Calcio S.p.A. Klub bersejarah ini secara resmi dinyatakan mati secara hukum dan status legalnya tidak dapat diselamatkan oleh intervensi pihak mana pun.
Sepak bola Italia memang cukup akrab dengan kebangkrutan. Klub seperti Parma, Napoli, hingga Fiorentina pernah mengalaminya dan segera lahir kembali di kasta bawah melalui perusahaan baru. Parma, misalnya, dinyatakan bangkrut pada Maret 2015 dengan utang €218 juta, kemudian dibentuk klub baru, Parma Calcio 1913, yang memulai lagi dari Serie D.
Namun, dalam kasus Brescia Calcio asli, keruntuhannya bersifat struktural dan total. Entitas legal yang dibangun sejak 1911 itu telah musnah sepenuhnya tanpa ada proses akuisisi langsung terhadap perusahaan lama, memutus garis keturunan hukum historis mereka selamanya.
Meskipun perusahaan Brescia Calcio S.p.A. telah bubar, nyawa sepak bola di kota tersebut menolak untuk padam. Untuk menghidupkan kembali sepak bola di sana, sebuah klub profesional baru akhirnya muncul, berasal dari Feralpisalò yang direlokasi dan kemudian berganti identitas menjadi Union Brescia dan bermarkas di Stadio Mario Rigamonti.
Klub baru ini dibentuk untuk mulai berkompetisi kembali di Serie C, mencoba membawa roh Le Rondinelle dan mewadahi suporter Brescia agar bisa kembali ke lapangan. Secara hukum dan administratif, Union Brescia adalah entitas yang sepenuhnya berbeda dari Brescia Calcio, namun menjadi rumah pelipur lara bagi para suporter setia.
