“I get knocked down, but I get up again. You’re never gonna keep me down.”
Saya pernah menggunakan lirik lagu ini ketika menceritakan bagaimana Indonesia harus bisa bangkit saat dijatuhi sanksi FIFA pada 2015 silam. Hingga kini, pastinya Chumbawamba pun tak pernah membayangkan bahwa penggalan lirik lagu Tubthumping ini suatu hari akan terdengar seperti lagu kebangsaan tidak resmi bagi sepak bola Indonesia.
Sebab selama lebih dari tiga dekade, sepak bola Indonesia memang seperti seseorang yang berkali-kali jatuh di jalan yang sama. Terhuyung, bangkit, berjalan lagi, lalu tersandung lagi. Kadang karena lawan. Kadang karena diri sendiri. Kadang karena keadaan yang terlalu rumit untuk disebut sekadar sepak bola.
Jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi. Lalu berharap lagi, kemudian kecewa lagi. Kemudian mengatakan, “Nggak apa-apa. Tahun depan kita coba lagi.”
Kita mungkin salah satu, atau bahkan satu-satunya, bangsa sepak bola yang bisa mengubah kekalahan menjadi tradisi keluarga. Ada generasi yang kalah di final dan kemudian menua bersama kenangan itu. Ada pemain yang pensiun tanpa pernah merasakan bagaimana mengangkat trofi untuk timnas. Ada suporter yang lahir ketika Indonesia terakhir kali menjadi juara, lalu tumbuh dewasa sambil terus mendengar kalimat yang sama: “semoga tahun ini”.
Ada juga seorang ayah bercerita kepada anaknya tentang final yang gagal dimenangi. Anak itu kemudian tumbuh, menonton final lain, dan menceritakan kekalahan baru kepada anaknya. Begitu seterusnya. Seolah-olah sepak bola Indonesia mempunyai sistem pewarisan budaya yang sangat rapi. Bukan trofi yang diwariskan, melainkan rasa penasaran dan kekecewaan.
Tahun berganti, pelatih berganti, pemain berganti, pengurus federasi berganti. jersei berganti, tapi kegagalannya tetap. Tiga puluh tahun lebih kita menunggu, sampai akhirnya penantian itu selesai: Indonesia juara FIFA ASEAN Cup.
Kita sering mengira bahwa kemenangan adalah kebalikan dari kekalahan. Padahal tak selalu begitu. Kemenangan paling bermakna justru acap kali lahir dari kekalahan yang tidak berhasil membunuh harapan. Seperti seorang manusia yang berkali-kali gagal mendapatkan pekerjaan, tapi tetap mengirim lamaran. Seperti seseorang yang patah hati, tapi suatu hari berani lagi untuk mencintai. Seperti anak yang jatuh ketika belajar bersepeda, menangis sebentar, lalu meminta ayahnya untuk tak perlu memeganginya lagi.
Terdengar sederhana. Tapi bagi mereka yang mengikuti timnas selama bertahun-tahun, ada beban berat yang tak sederhana. Sebab untuk sampai ke sana, kita harus melewati jalan yang kadang terasa seperti dibuat-buat. Kita pernah terjebak dalam dualisme. Pernah disanksi FIFA. Kita juga pernah terseok ketika Covid-19 menghentikan seluruh denyut kompetisi. Lalu ada Tragedi Kanjuruhan, ketika sepak bola yang seharusnya menjadi tempat manusia berkumpul justru meninggalkan luka begitu dalam, membuat sepak bola Indonesia kembali terbenam.
Ada pula kekacauan kompetisi, persoalan tata kelola, pergantian arah, pergantian pelatih, pergantian pemain, pergantian strategi, pergantian harapan, dan segala macam drama di federasi, membuat sepak bola negeri ini kadang terasa seperti terus mendesain dan merancang sebuah rumah, tapi tak kunjung selesai membangunnya.
Ada kalanya membicarakan masa depan sepak bola Indonesia terdengar seperti membicarakan renovasi rumah yang atapnya bocor, lantainya ambles, tapi pemiliknya masih sibuk memilih warna cat.
Namun anehnya, di tengah semua itu, kita tetap datang. Tetap menonton, tetap membeli jersei, tetap memenuhi stadion, tetap berdebat di media sosial, tetap marah kepada pelatih, tetap menyalahkan wasit, tetap mengkritik federasi, kadang-kadang bahkan mengambinghitakan cuaca. Lalu beberapa hari kemudian kita kembali percaya.
Inilah mungkin bentuk paling absurd dari cinta. Sudah tahu berkali-kali dikecewakan, tetap saja membeli tiket untuk pertandingan berikutnya. Sepak bola memang punya hubungan yang aneh dengan manusia.
Sepak bola bisa membuat orang dewasa menangis karena sebelas orang yang bahkan tidak kita kenal secara pribadi. Bisa membuat orang yang sehari-hari tidak pernah berbicara dengan tetangganya, tapi bersorak bersama di depan televisi. Dan juga bisa membuat jutaan orang yang tidak saling mengenal merasa memiliki sesuatu yang sama.
Tim nasional, pada akhirnya, bukan cuma sebelas pemain. Ia adalah layar tempat sebuah bangsa memproyeksikan harapannya. Karena itu, ketika Indonesia kalah di final-final sebelumnya, yang hancur bukan hanya strategi atau reputasi pemain. Ada sedikit bagian dari harapan jutaan orang yang ikut jatuh.
Tapi seperti lirik Chumbawamba, ada satu hal yang tidak pernah berhasil dilakukan kekalahan: membuat kita berhenti bangun. Mungkin ini yang tidak pernah kita sadari. Kita terlalu sibuk menghitung berapa kali Indonesia gagal menjadi juara sampai lupa menghitung berapa kali Indonesia berjuang lagi.
Kita mengingat skor final, mengingat jumlah kebobolan, dan mengingat pemain yang gagal mengeksekusi peluang. Tapi kita sering lupa bahwa di balik setiap kegagalan selalu ada generasi baru yang berkata: “Kalau bukan kalian, mungkin kami”. Dan generasi itu akhirnya mendapatkan giliran.
FIFA ASEAN Cup 2026 bukan sekadar akhir dari penantian, melainkan semacam tanda terima dari seluruh rasa sakit yang pernah kita kumpulkan. Seperti kuitansi panjang yang akhirnya lunas. Tentu saja, jangan terlalu cepat mabuk kemenangan. Ini Indonesia, negeri yang bahkan setelah memenangkan sesuatu masih bisa berdebat tentang siapa yang paling berjasa.
Besok mungkin sudah ada yang mengatakan kemenangan ini berkat pelatih. Yang lain menyebut pemain. Yang lain mengatakan naturalisasi. Yang lain menganggap federasi paling berjasa. Yang lain lagi membuat utas 23 cuitan untuk menjelaskan bahwa sebenarnya mereka sudah memprediksi semuanya sejak tiga tahun lalu.
Begitulah kita, yang bahkan bisa saling serang setelah menang. Tetapi mungkin tidak saat ini. Sekarang, biarkan semua teori berhenti sebentar. Biarkan statistik istirahat. Biarkan debat tentang siapa pemain terbaik ditunda. Biarkan taktik, xG, possession, build-up, rest defence, dan segala macam istilah yang membuat sepak bola terdengar seperti ilmu roket, mengambil cuti satu malam.
Saat ini kita hanya perlu mengingat satu hal: Indonesia akhirnya juara. Setelah lebih dari tiga puluh tahun, setelah berkali-kali jatuh, berkali-kali pulang dengan kepala tertunduk, kita akhirnya benar-benar terbangun. Setelah pernah berada di titik ketika sepak bola Indonesia terasa seperti kapal yang kehilangan kompas, kita akhirnya sampai.
Mungkin kemenangan ini tak akan menyelesaikan semua masalah sepak bola Indonesia. Trofi tidak otomatis membuat kompetisi menjadi jauh lebih sehat. Medali juara tidak serta-merta memperbaiki masalah pembinaan usia muda. Satu malam kemenangan tidak menghapus luka Tragedi Kanjuruhan. Dan juara tidak berarti kita tiba-tiba menjadi bangsa sepak bola yang sudah selesai dengan segala persoalannya.
Justru sebaliknya. Trofi ini seharusnya menjadi alasan untuk bekerja lebih keras. Sebab setelah seseorang akhirnya berhasil mencapai puncak gunung, pekerjaan berikutnya bukan cuma berfoto di sana, melainkan memastikan ia tahu bagaimana cara kembali ke sana, atau bahkan menaklukkan puncak yang lebih tinggi.
Namun saat ini, mari kita menikmati sedikit kebodohan yang indah itu. Menangis, berteriak, memeluk orang tak dikenal, menyanyikan lagu yang sama berulang-ulang sampai suara habis. Sebab selama bertahun-tahun kita telah terlalu sering diminta menerima kekalahan dengan dewasa. Sekali-sekali, biarkan kita menjadi anak-anak, yang akhirnya mendapatkan mainan impian setelah menunggu bertahun-tahun.
“I get knocked down, but I get up again. You’re never gonna keep me down.”
Mungkin itulah warisan paling penting dari generasi ini. Bukan sekadar bahwa mereka memenangkan sebuah trofi, tapi menunjukkan kepada generasi setelahnya bahwa jatuh itu hal biasa. Apa yang tidak boleh menjadi kebiasaan adalah memilih pasrah untuk tetap tergeletak di tanah.
Indonesia pernah jatuh, bahkan berkali-kali. Tetapi pada saat ini, untuk pertama kalinya setelah lebih dari tiga dekade, kita bisa mengatakan sesuatu yang selama ini hanya hidup dalam doa, meme, nyanyian tribune, dan angan-angan anak-anak, bahwa kita akhirnya bangkit dan juara.
Setelah semua itu, mungkin kita memang pantas menyanyikannya sekali lagi, lebih keras, lebih bangga, lebih lepas. “I get knocked down. But I get up again. You’re never gonna keep me down”.
Sebab, ternyata kita memang tidak pernah benar-benar menyerah. Setelah lebih dari tiga puluh tahun, untuk pertama kalinya, kalimat itu bukan lagi sekadar lirik lagu, melainkan cerita tentang perjuangan kita.
