FIFA Uncovered: Menonton Ulang Drama Lama di Tengah Skandal Baru FIFA

FIFA Uncovered: Menonton Ulang Drama Lama di Tengah Skandal Baru FIFA
Font size:

Dua pekan lalu, kotak masuk pemberitaan sepak bola dunia penuh satu drama: tiga konfederasi terbesar (UEFA, AFC, dan Concacaf) kompak melayangkan surat terbuka yang nadanya nggak main-main, menuding kepemimpinan Presiden FIFA, Gianni Infantino, sudah mengkhianati kepercayaan anggotanya. Pemicunya, rencana diam-diam menjual sebagian hak komersial Piala Dunia ke investor swasta lewat FIFA Forward Enterprise, sebuah proposal senilai miliaran dolar yang disusun nyaris tanpa konsultasi berarti, lalu buru-buru dibatalkan sendiri oleh FIFA begitu kena semprot dari segala penjuru. 

Momen itu memantik redaksi Pandit Football untuk menonton ulang FIFA Uncovered, dokumenter Netflix empat episode arahan Daniel Gordon yang tayang 9 November 2022. Hasilnya? Empat tahun lebih setelah rilis, dokumenter ini nggak terasa seperti arsip sejarah. Dia justru terasa seperti pratinjau. Strukturnya rapi jadi empat episode, tapi kalau dirangkum, isinya satu tema besar yang diulang dengan pemeran berbeda: kekuasaan tanpa pengawasan selalu berujung pembusukan. 

Empat Babak, Satu Pola yang Itu-itu Saja

Episode pertama membuka dengan drama penangkapan sejumlah petinggi FIFA pada 2015 di sebuah hotel mewah di Swiss, sambil menelusuri bagaimana federasi ini berubah dari organisasi amatir jadi mesin uang raksasa yang jejak keuangannya susah dilacak. Episode kedua masuk ke era kejayaan Sepp Blatter, lengkap dengan kontroversi terpilihnya Afrika Selatan sebagai tuan rumah 2010 dan bau tak sedap di sekitar nama Jack Warner. 

Episode ketiga, yang paling bikin geregetan, membedah proses pemilihan Rusia dan Qatar sebagai tuan rumah 2018 dan 2022, lengkap dengan testimoni whistleblower Phaedra Al-Majid soal aliran dana besar ke sejumlah anggota komite eksekutif demi memuluskan suara. Episode penutup mengurus sisa reruntuhan: Chuck Blazer yang jadi informan demi lolos dari penjara, sampai upaya FIFA membersihkan citra, yang jujur saja, ibarat menyapu lantai bekas tumpahan oli pakai sapu lidi.

Kalau berharap ada temuan baru yang bikin rahang jatuh, siap-siap kecewa. Sebagian besar materinya sudah jadi rahasia umum buat siapa pun yang mengikuti pemberitaan skandal FIFA sejak 2015. Nilai jual dokumenter ini bukan kebaruan informasi, melainkan cara merangkai testimoni jurnalis investigasi, mantan pejabat, sampai pelaku dan korban jadi satu narasi yang enak diikuti orang awam.

Yang bikin dokumenter ini terasa seperti satir tanpa perlu ditulis satir: FIFA sebagai institusi tidak pernah benar-benar diadili. Yang masuk bui adalah individu-individunya, orang per orang yang ditangkap, dipecat, atau membuat kesepakatan dengan jaksa demi keringanan hukuman. Organisasinya sendiri tetap berdiri, tetap menggelar turnamen, tetap meneken kontrak sponsor bernilai miliaran dolar, dan tetap memakai jargon "transparansi" di setiap laporan tahunan. 

Sepp Blatter sendiri, dalam salah satu momen yang jadi bahan tertawaan luas begitu dokumenter ini tayang, dengan wajah datar menyangkal bahwa FIFA korup. Kalimat pendek itu, diucapkan dengan keyakinan penuh, jadi semacam mahakarya komedi yang sebetulnya tak disengaja. Kalau ada penghargaan untuk kategori "pernyataan publik paling tidak nyambung dengan kenyataan," Blatter pantas jadi nomine abadi (Meski, melihat drama surat terbuka tiga konfederasi minggu ini, sepertinya podium itu sekarang harus berbagi tempat).

Kelemahan yang Perlu Diomongin

Dari sisi eksekusi, dokumenter ini masih terjebak formula standar true-crime Netflix: wawancara talking-head bergantian, cuplikan arsip, musik tegang di momen "dramatis", dan narasi yang kadang lebih sibuk membangun suspense ketimbang membedah struktur sistemik yang membuat korupsi semacam ini bisa lestari puluhan tahun. 

Dokumenter ini piawai menunjukkan siapa melakukan apa, tapi agak malas menjelaskan kenapa tata kelola FIFA (dengan model satu-negara-satu-suara di kongres, kekuasaan eksekutif yang terpusat pada satu kursi presiden, dan lemahnya mekanisme cek dan ricuh dari asosiasi anggota) memang didesain rentan disalahgunakan. Padahal, justru pola itulah yang kembali muncul di permukaan: keputusan besar menyangkut aset milik bersama diambil nyaris sepihak, dan baru dibatalkan setelah tekanan publik, bukan karena sistemnya sejak awal mencegah itu terjadi.

Bagian paling relevan buat dibawa pulang justru di luar layar: skandal FIFA bukan cerita jauh yang tak ada urusannya dengan kita. Polanya sama, kekuasaan terpusat, minim akuntabilitas, kritik yang lebih sering dianggap ancaman ketimbang masukan, juga jadi keluhan lama publik sepak bola nasional terhadap PSSI. FIFA Uncovered idealnya bukan sekadar tontonan buat menghakimi orang-orang jauh di Eropa, tapi cermin untuk bertanya: seberapa berani kita mempertanyakan cara federasi sendiri dikelola, sebelum keburu jadi bahan dokumenter sepuluh tahun lagi?

Rahasia Di Balik Hegemoni Pelatih Spanyol di Dunia
Artikel sebelumnya Rahasia Di Balik Hegemoni Pelatih Spanyol di Dunia
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait