Pada Januari 2025 lalu, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di bawah Erick Thohir melakukan perombakan besar dalam struktur kepelatihan dan pelaksana teknis di tim nasional Indonesia. Sejumlah pria Belanda yang memiliki kedekatan kultural dengan pemain-pemain didatangkan dengan harapan adanya perbaikan hingga peningkatan prestasi. Dimulai dari Patrick Kluivert sebagai kepala pelatih kepala timnas senior, hingga jajaran staf kepelatihan “terbaik”. Tak ketinggalan, nama lain yang muncul dalam gerbong Belanda ini adalah Jordi Cruyff, putra mendiang Johan Cruyff, salah satu legenda besar di sepak bola Belanda.
Pertanyaan yang muncul: Apa tugas Jordi Cruyff di PSSI? Bagaimana rekam jejaknya?
Mundur jauh, sewaktu berkarir sebagai pemain, Cruyff bisa dibilang cukup sukses walaupun tidak sementereng ayahnya. Ia menghabiskan kariernya dengan malang-melintang di klub-klub Spanyol seperti Barcelona, Deportivo Alaves, dan Espanyol, serta sempat mencicipi Liga Primer Inggris bersama Manchester United pada ]akhir 1990-an.
Kendati tumbuh besar di Spanyol, Cruyff memutuskan untuk membela timnas Belanda dan sempat dipanggil pelatih Guus Hiddink pada Euro 1996. Di turnamen tersebut, Cruyff bermain di seluruh pertandingan Belanda dari fase grup sampai akhirnya gugur di babak perempat final melawan Prancis. Ia juga mencetak skor pada pertandingan melawan Swiss, yang akhirnya menjadi gol semata wayang sepanjang kariernya di timnas Belanda.
Kenyang Pengalaman di Level Klub dan Timnas
Setelah pensiun sebagai pemain, Cruyff mencoba peruntungannya sebagai direktur teknik dan pelatih klub. Jabatan pertama yang ia duduki adalah direktur teknik AEK Larnaca, di mana klub tersebut berhasil lolos ke Liga Europa selama dua musim berturut-turut pada 2010-11 dan 2011-12. Setelah kesuksesannya bersama AEK Larnaca, Cruyff diangkat menjadi direktur teknik klub Maccabi Tel Aviv. Bersama Cruyff dan komando pelatih Oscar Garcia (sebelumnya pelatih tim muda Barcelona), Maccabi Tel Aviv berhasil bangkit dari keterpurukan dengan menjuarai liga untuk pertama kali dalam sepuluh tahun terakhir pada musim 2012-13.
Kesuksesan itu diikuti pada musim-musim berikutnya dengan hasil-hasil yang positif baik di kancah domestik atau di Eropa. Sampai pengunduran diri pada akhir musim 2017-18, dapat dikatakan bahwa periode Cruyff selama enam tahun di Maccabi Tel Aviv, baik sebagai direktur teknik maupun sebagai manajer, menuai kesuksesan besar walau kerap diselingi pergantian pelatih.
Setelah meninggalkan Maccabi Tel Aviv, Cruyff menukangi klub Chongqing Lifan di Liga Cina sebagai pelatih kepala pada musim 2018-19. Di bawah pimpinannya, Chongqing mendapat posisi terbaiknya di liga dengan menduduki peringkat kesepuluh setelah semusim sebelumnya hampir terdegradasi. Kendati demikian, pada akhir 2019, Cruyff memutuskan untuk tidak memperpanjang kerjasamanya dengan klub setelah 16 bulan berada di sana.
Pada tahun berikutnya, Jordi Cruyff menandatangani kontrak tiga tahun dengan Federasi Sepak Bola Ekuador (FEF) untuk membantu meloloskan Timnas Ekuador ke Piala Dunia 2022 di Qatar. Belum sempat menjalani satupun pertandingan, dunia dihantam pandemi COVID-19 dan memaksa seluruh aktivitas luar ruangan dilarang di ruang publik, tak terkecuali pertandingan sepak bola. Selain itu, pergantian kepemimpinan FEF yang tidak menentu membuat Cruyff mengundurkan diri pada Juli 2020.
Keputusan tersebut dikritik oleh sejumlah media lokal Ekuador yang melabeli Cruyff sebagai pelatih pemalas karena tidak menggelar satupun sesi latihan bersama pemain Ekuador. Dia pun diketahui hanya tinggal di Ekuador selama dua bulan saja. Bayarannya yang mencapai angka 1.175.000 dolar AS (sekitar Rp19,2 miliar), dan alasan pengunduran diri yang terkesan dibuat-buat, pun membuat publik Ekuador murka.
Selepas cabut dari Ekuador, Cruyff sempat menjadi pelatih klub Shenzhen FC hingga 2021, sebelum akhirnya kembali pulang ke FC Barcelona sebagai penasihat teknis dalam masa transisi klub. Setahun kemudian, pada 1 September 2022, Cruyff resmi diangkat sebagai direktur olahraga Barcelona. Bersama dengan direktur sepakbola, Mateu Alemany, Cruyff dianggap instrumental dalam pembangunan kembali skuad Barcelona di tengah masalah finansial, serta berjasa dalam merekrut pemain-pemain penting seperti Robert Lewandowski, Jules Kounde, dan Andreas Christensen.
Selain itu, Cruyff dianggap sebagai pihak yang mampu menjembatani direksi klub di bawah Joan Laporta dan staf kepelatihan yang dipimpin Xavi Hernandez. Alhasil, Barcelona berhasil menjuarai La Liga dan Copa del Rey pada musim 2022-23. Terlepas kesuksesan Barca pada musim tersebut, Cruyff tidak memperpanjang kontraknya dengan alasan ingin mencari tantangan baru.
Satu setengah tahun semenjak meninggalkan Barcelona, Jordi Cruyff ditunjuk menjadi penasihat teknis PSSI pada 24 Februari 2025, menyusul gerbong kepelatihan asal Belanda sudah didatangkan untuk menukangi timnas Indonesia. Menurut Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, Cruyff dipilih karena pengalamannya sebagai direktur olahraga Barcelona yang terkenal menghasilkan talenta muda berbakat seperti Lamine Yamal. Mengenai perannya, Erick menugaskan Cruyff untuk memberi masukan teknis dan perbaikan dalam pengembangan filosofi sepak bola Indonesia, serta membantu mencari direktur teknik PSSI yang pada saat itu masih lowong (sebelum diisi Alexander Zwiers).
Jordi Cruyff Juga Punya Kerjaan di Ajax
Sekilas, jabatan penasihat teknis PSSI yang diemban Jordi Cruyff tidak jauh berbeda dengan yang duduki di Barcelona periode 2021-2022. Hanya saja, kebutuhan untuk memberikan masukan teknis dan perbaikan serta pengembangan filosofi sepak bola Indonesia sejatinya merupakan proses yang lama dan berjenjang, sehingga dibutuhkan kerja keras dan kesabaran luar biasa untuk melakukannya.
Lebih jauh, ekosistem sepak bola Indonesia saat ini masih belum terstruktur dengan baik, bahkan bisa dibilang amburadul. Berbeda dengan Barcelona yang merupakan sebuah klub dengan nilai-nilai tradisinya sendiri, tugas yang dibebankan kepada Cruyff mencakup satu negara dengan latar belakang masyarakat yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, tugas ini dibebankan bukan sekadar untuk memberikan kritik dan saran kepada PSSI, melainkan untuk mencari diagnosis dan perawatan yang tepat untuk mengobati masalah yang mengakar dalam ekosistem persepakbolaan di Indonesia.
Masalahnya, Cruyff ditengarai menjalankan posisi ini hanya sebagai pekerjaan sampingan lantaran tidak menetap di Indonesia. Ia disebut-sebut hanya datang ke Indonesia pada saat Timnas Indonesia senior bertanding. Hal ini tentu tidak cukup untuk mengambil gambaran teknis dan perbaikan yang mesti dilakukan terhadap pengembangan sepakbola Indonesia. Selain itu, kedatangan Alexander Zwiers sebagai direktur teknik baru PSSI pada 25 Agustus 2025 sedikit banyaknya mengambil alih tugas yang sebelumnya dibebankan kepada Cruyff, seperti pembentukan ekosistem sepak bola berjenjang, rencana berkelanjutan, serta proyeksi kurikulum dasar dalam pengembangan sepakbola usia dini di bawah PSSI.
Meski namanya tidak setenar Cruyff, Zwiers memiliki pengalaman lebih panjang dalam pengembangan sepakbola usia dini dan menjadi direktur teknik dalam skala nasional bersama Federasi Sepak Bola Yordania dalam kurun waktu 2019-2025. Sehingga, ia dapat dikatakan lebih sesuai dengan kualifikasi PSSI serta kebutuhan masyarakat sepak bola Indonesia akan penataan dan pengembangan ekosistem sepakbola yang berjenjang dan dimulai dari usia dini.
Setelah kegagalan timnas Indonesia untuk lolos dari ronde keempat kualifikasi Piala Dunia 2026, PSSI dan gerbong kepelatihan Belanda, sepakat untuk menyudahi kerja sama terhitung sejak 16 Oktober 2025. Kendati demikian, nasib Jordi Cruyff di PSSI cenderung kurang jelas, tidak seperti Alexander Zwiers yang disebut tetap menduduki jabatannya seperti diumumkan Erick Thohir dalam konferensi pers PSSI.
Walaupun sempat diberitakan terlibat dalam proses pencarian pelatih baru timnas Indonesia, teranyar Cruyff resmi terpilih sebagai Direktur Teknik klub Ajax, klub yang dahulu membesarkan ayahnya. Cruyff ditugaskan untuk mengawasi kebijakan teknis jangka panjang klub, dengan mandat khusus untuk menyelaraskan kembali strategi perekrutan tim utama dengan filosofi tradisional Ajax dan integrasi bakat muda dari akademi.
Pekerjaan ini dapat membuat waktu Cruyff semakin sedikit untuk mengerjakan tugasnya di Indonesia. Rutinitas kerja Cruyff yang sejak awal terhitung “hanya beberapa hari tertentu” di Indonesia jelas tidak sebanding dengan uang yang dikeluarkan untuk membayarnya, apalagi federasi masih belum selesai membayar pesangon Shin Tae Yong dan Patrick Kluivert beserta timnya masing-masing. Oleh karena itu, sepatutnya PSSI mengevaluasi kembali posisi dan peran Jordi Cruyff sebagai penasihat teknis federasi saat ini.
Penulis: Gilang Herswanda (Instagram: @m.gumilng)
