Saat pelatih Ricardo Salampessy memanggil putranya, Reno Salampessy, bergabung dengan skuad Persipura Jayapura, tak sedikit yang meragukannya. Sebab, masih banyak anak muda seperti dia yang justru main lebih bersinar. Bahkan, dengan merekrut anaknya, banyak orang mengkritik dan mengatakan bahwa Persipura bukan tim keluarga. Bukan hanya saya yang meragukan, tapi juga mungkin sebagian besar rakyat Papua.
Selama Ricardo Salampessy masih menakhodai tim berbintang empat itu, Reno tidak main lepas. Dia seperti memikul beban di pikirannya, tidak bermain ngotot, tak buka ruang, lama berdiri di satu tempat, dan kalah saat duel udara atau darat. Melihat permainan itu, rasanya tidak ingin melihatnya selama Persipura melakoni setiap laga. Semakin yakin, kalau memang tidak layak pakai jersei merah hitam.
Jika ada alasan bahwa dia masih usia muda dan perlu penyesuaian, maka lihat Lamine Yamal. Reno dan Yamal sama-sama berusia 18 tahun, kelahiran 2007. Bila ada alasan lain lagi soal lengkapnya infrastruktur dan perbandingan pembinaan di luar negeri, maka sejak awal tidak seharusnya ada perekrutan bagi Reno. Akan tetapi, karena dia punya kelebihan lain, yang tak dimiliki anak seusianya, sehingga layak menjadi amunisi di lini serang bersama Boaz Solossa.
Ganti Pelatih dapat Pengetahuan Baru
Di putaran kedua, manajemen Persipura melakukan perombakan pelatih dan menggantikan Ricardo Salampessy dengan Rahmad Darmawan (RD). Keputusan manajemen itu dinilai cukup adil sebagai langkah memperbaiki hasil di pertandingan sisa dengan kemenangan atau imbang. Apalagi, Persipura sebelumnya mengalami rentetan kekalahan beruntun.
Di sisi lain, kedatangan pelatih senior yang pernah membawa Mutiara Hitam berjaya, diyakini memberikan pengetahuan. Terlebih bagi Reno, pemain belia di iklim sepak bola nasional yang kompetitif. Tidak hanya bagi Reno, tapi juga pemain lain, seperti Gunansar Mandowen, Jeam Kelly Sroyer, atau Markus Madjar.
Kepelatihan RD di Persipura tidak hanya membawa kemenangan, tapi juga sumbangsih pengetahuan bagi setiap pemain. Salah satunya kepada Reno Salampessy yang mengalami perubahan cara bermain. Dari yang tadinya lambat dan lemah, kini lebih agresif, berani duel dan tidak terpental-pental lagi, hingga penempatan posisinya yang akurat.
Saat Persipura berhadapan dengan Persiku Kudus dan Barito Putera, Reno Salampessy main dengan gaya baru dan lebih ganas dan beri assist ke Gunansar Mandowen hingga berbuah gol.
Berkat perkembangan individu dan kontribusi terhadap tim, Reno Salampessy dinobatkan Young Player of the Week atau pemain muda terbaik. Anak dari legenda Persipura itu bersaing dengan 20 pemain muda dengan tim peserta Championship, yang setiap tim memainkan pemain muda di setiap laga berdasarkan regulasi PSSI.
Total sudah 3 gol dan 1 assist disumbangkan Reno dari 17 penampilannya (13 sebagai starter) berseragam Persipura musim ini. Potensinya mulai terlihat jelas. Reno menjadi mutiara baru yang siap dipoles Persipura menjadi pemain hebat layaknya Boaz Solossa.
