Superclasico, Memaknai Sepak Bola dalam Pertentangan Sosial

Superclasico, Memaknai Sepak Bola dalam Pertentangan Sosial
Font size:

Buenos Aires bukan sekadar kota dengan dua klub sepak bola terkenal di Argentina. Ia adalah satu kota dengan dua cara memandang hidup yang kontras. Di utara, River Plate tumbuh dalam kemapanan distrik Nuñez. Di selatan, Boca Juniors bernapas dalam kerasnya pelabuhan La Boca. Ketika keduanya bertemu dalam Superclásico, yang dipertaruhkan bukan hanya kemenangan, melainkan identitas dan pertentangan kelas sosial.

River Plate, Los Millonarios, sejak lama merepresentasikan citra elite. Sepak bola bagi River adalah estetika dan kontrol. Menang harus dilakukan dengan cara yang elegan, menyerang, dan dominan. Gaya bermain ini mencerminkan nilai borjuis: keteraturan, keindahan, dan keyakinan bahwa sepak bola punya standar ideal tentang bagaimana ia seharusnya dimainkan.

Sebaliknya, Boca Juniors lahir dari denyut kehidupan kelas pekerja. Stadion Alberto J. Armando berdiri di kawasan padat industri dengan bau khas yang kerap dijadikan ejekan melalui julukan Los Bosteros. Namun justru dari situlah kebanggaan Boca tumbuh. Sepak bola dimaknai sebagai perjuangan. Keindahan bukan prioritas utama; yang lebih penting adalah intensitas, keberanian, dan daya tahan untuk terus bertahan.

Sepak Bola sebagai Makna yang Dihidupi

Superclasico suporter

Meminjam pemikiran filsuf asal Jerman, Martin Heidegger, dalam bukunya Being and Time, manusia dipahami melalui konsep Dasein. Penjelasan Dasein merujuk pada manusia sebagai makhluk yang hidup, mengalami, dan memberi arti pada keberadaannya sendiri.

Karena itu, Dasein selalu hadir bersama konsep being in the world. Secara singkat bagi Heidegger, manusia tidak pernah berdiri terpisah dari dunia untuk menilainya secara netral.

Heidegger menolak keberadaan makna yang absolut, sebab menurutnya melalui kedua konsep tadi, makna merupakan hal yang telah ditemui manusia melalui sebuah pengalaman praktis, dipengaruhi oleh keadaan keberadaan, bukan teori saklek, begitu pula dengan sepak bola.

Maka, superclásico merupakan dua cara memahami sepak bola yang berbeda bagi kedua penggemar. Sepak bola tak bisa didefinisikan melalui penjelasan kaku wikipedia atau statuta FIFA. Bagi pendukung Boca, lingkungan industri serta pelabuhan kumuh bukanlah kekurangan, melainkan ruang identitas yang membentuk jati diri sebagai barra brava de boca juniors. Begitu pula dengan pendukung River Plate dengan lingkungan elite memandang sepak bola yang haus akan dominasi dan keindahan.

Tak mengherankan jika Superclásico kerap disebut sebagai salah satu derby paling intens di dunia. Media Inggris The Observer bahkan menempatkannya sebagai rivalitas olahraga nomor satu yang wajib disaksikan. Intensitas itu bukan lahir dari kualitas permainan semata, melainkan dari muatan sosial yang dibawanya.

Sejarah mencatat bagaimana rivalitas ini berulang kali melampaui batas lapangan. Tragedi Puerta 12 pada 1968 merenggut puluhan nyawa dan melukai ratusan lainnya. Lima dekade kemudian, Final Copa Libertadores 2018 kembali memperlihatkan sisi gelap Superclásico, ketika laga puncak antara River dan Boca harus diasingkan ke Santiago Bernabéu, Spanyol, demi alasan keamanan.

Superclásico dalam Kacamata Karl Marx

Superclasico 1

Rivalitas ini juga dapat dibaca melalui lensa Karl Marx tentang class struggle. Dalam bukunya The Communist Manifesto, Marx menjelaskan bahwa sejarah masyarakat pada hakikatnya adalah sejarah pertentangan antara kelas pekerja dan pemilik modal, singkatnya antar kelas ekonomi yang timpang disebabkan permasalahan yang struktural.

Pola ini menyebabkan akumulasi kekayaan pada satu kelas dan ketergantungan ekonomi pada kelas lainnya.  Dalam konteks ini, class struggle tidak dipahami sebagai konflik individu, melainkan sebagai pertentangan kepentingan yang bersifat sistemik dan berakar pada struktur ekonomi. Konflik dan kepentingan ini tidak hanya terjadi di ruang-ruang formal, namun melebar ke berbagai ruang lain juga, termasuk di stadion sepak bola di Argentina.

Sejak awal, perbedaan kelas telah melekat pada kedua klub dari wilayah, sejarah, hingga basis pendukungnya. Sepak bola tidak sekadar merepresentasikan konflik tersebut, melainkan menjadi medium tempat pertentangan kelas diartikulasikan secara terbuka. Stadion berubah menjadi arena simbolik untuk memperebutkan ruang, identitas, dan martabat sosial.

Dalam konteks ini, fanatisme ekstrem, konflik antarsuporter, hingga kekerasan bukanlah anomali. Ia adalah gejala dari ketegangan sosial yang tak selalu menemukan salurannya di ranah politik atau ekonomi formal. Sepak bola menjadi bahasa alternatif bagi ekspresi yang terpendam.

Di ibu kota Argentina ini, kita memahami bagaimana sepak bola diberikan makna dari perbedaan kelas sosial yang tumbuh di kota yang sama. Semua yang terjadi di lapangan maupun di luar lapangan menjadikan sepak bola lebih dari sekadar permainan. Inilah yang oleh Jose Mourinho disebut sebagai Football Heritage. Namun bukan dalam makna taktik atau prestasi, melainkan warisan yang menghiasi sepak bola dan diturunkan melalui sejarah serta memori kolektif para pendukungnya.

---------------------------------------

Penulis: Riro Adnan Saputro

Dari Nonton Sendiri ke Nonton Bareng: Cerita Fans Liga Champions di Indonesia
Artikel sebelumnya Dari Nonton Sendiri ke Nonton Bareng: Cerita Fans Liga Champions di Indonesia
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait