Font size:
Berbagai macam cara bisa dilakukan mengungkapkan perlawanan atas penindasan. Di sepak bola hal itu tentunya tak terjadi di lapangan hijau semata, banyak jalur yang bisa dijadikan sebagai alat perlawanan. Dalam konteks klub sepak bola, salah satu bentuk resistansi itu biasanya tersirat dari identitas visual alias logo. Baik itu logo klub, maupun identitas klub yang diadopsi kultur supporter.
Di Spanyol, cukup mudah membedakan latar belakang sejarah klub-klub yang nasionalis dan separatis di sana. Dari sisi nama, klub-klub yang dekat dengan kerajaan selalu memakai kata “Real” atau “Royal”sebuah patron isyarat bahwa kerajaan melindungi klub tersebut. Patut diketahui penamaan itu bermula di tahun 1920, kala Raja Alfonso XIII menggelar turnamen Copa Del Rey. Dari tujuh klub peserta turnamen, empat diantaranya diberi penghargaan menyisipkan identitas “Real” dalam nama klub : Real Madrid, Real Union, Real Vigo Sporting (cikal bakal Celta Vigo) dan Real Sporting Gidjon. Sikap pilih kasih castilia di Madrid terhadap klub-klub pembangkang kentara terlihat. Dari sisi visual, disisipilah lambang mahkota terhadap logo sebagian klub-klub di Spanyol sebagai bentuk penghargaan keloyalan mereka terhadap kerajaan. Di Spanyol saat ini dari 625 klub amatir dan professional, 125 diantaranya menyisipi mahkota di dalam logo klub, termasuk 25 klub yang diberi title “Real”. Politik memang kentara terasa pada kehidupan sepak bola Spanyol di awal abad 20. Gelar “Real” dan “mahkota” terlalu berbahaya jika diberikan kepada klub-klub separatis macam Barcelona dan Atletic Bilbao. Klub rewel yang selalu menuntut regional mereka memisahkan diri dari kerajaan. Udara perlawanan kian berhembus di Catalan dan Basque sejak Jenderal Franco duduk di tampuk kekuasaan. Dia seorang politisi cerdas, oportunis dan kejam. Keberpihakan bangsa Catalan dan Basque kepada kaum republik dalam perang saudara tahun 1936-1939 melawan kaum Nasionalis yang Franco pimpin, berbuah pahit. Dia larang penggunaan bahasa serta simbol-simbol bangsa Catalan dan Euskara (Basque). Tetapi Franco tau potensi sepak bola di Spanyol sebagai budaya massa. Ia tak melarang pertandingan sepak bola di sana. Stadion digunakan semacam katup melarikan diri di mana gairah perlawanan bisa dibiarkan bebas daripada pembencinya melakukan kerusuhan di jalan-jalan.