Barangkali, telinga kita terlalu asing dengan turnamen bernama Street Child World Cup (Piala Dunia Anak Jalanan). Gaung Piala Dunia milik FIFA jelas jauh lebih memekakkan telinga. Namun, ketika sebuah nama menjadi begitu megah dan mengilap, sinarnya sering kali membutakan kita dari sisi gelap di baliknya. Setiap gelaran Piala Dunia selalu menyisakan residu cerita yang sama yaitu tersisihnya anak-anak jalanan demi mempercantik lanskap kota tempat turnamen digelar.
Street Child World Cup lahir sebagai antitesis dari kemapanan itu. Spiritnya adalah memberi ruang bagi mereka yang terpinggirkan. Turnamen ini bermula pada 2010 silam, ketika banyak anak-anak termarginalkan di Afrika Selatan dipaksa menyingkir dari ruang publik demi bersoleknya citra Piala Dunia di sana. Sejak saat itu, koalisi institusi, lembaga swadaya, hingga individu sepakat untuk melawan lewat sepak bola.
Pesannya sederhana yaitu siapa pun, tanpa terkecuali, berhak menikmati sepak bola dan setiap anak tanpa terkecuali seharusnya mendapatkan hak-haknya dan tidak hidup di jalan. Aspek kemanusiaan inilah yang menjadi semangat utama Street Child World Cup. Berbeda dengan Piala Dunia modern yang ruangnya makin eksklusif untuk korporasi dan pejabat, turnamen ini justru jauh lebih inklusif. Formatnya dinamis, terus dievaluasi setiap empat tahun sekali demi satu tujuan: membahagiakan dan memberikan kesempatan bersuara bagi anak-anak yang termarjinalkan.
Cerita ini datang dari Jessica Hutting, seorang pegiat hak anak dari Yayasan Kampus Diakonia Modern (KDM). Ia menuturkan bahwa sejak 2014, Indonesia tak pernah absen berpartisipasi. Ada andil besar dari Yayasan KDM dan Yayasan Sahabat Anak yang konsisten berjuang agar anak-anak Indonesia bisa tampil di panggung dunia. Langkah ambisius ini juga tak lepas dari sokongan berbagai pihak. Mulai dari Transmuda Energi Nusantara yang membuka jalan pada 2014, Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta yang memfasilitasi infrastruktur, hingga dukungan penuh dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.
Menembus skuad ini bukan cuma soal lihai menggocek bola atau punya fisik prima. Jessica menjelaskan bahwa proses observasi dilakukan menyeluruh, termasuk perilaku anak di luar lapangan hingga tes wawancara terstruktur. Proses kurasinya pun tergolong masif dan panjang. Sepuluh anak yang berangkat pada edisi 2026 harus melewati tahapan ketat. Langkah awal dimulai dari pemantauan (scouting) pada turnamen Jambore Futsal Anak 2024 yang diikuti 170 anak. Dari sana, tersaring 60 anak untuk mengikuti seleksi tahap pertama pada Januari 2025. Sebulan berselang, angka itu menyusut menjadi 30 anak, hingga akhirnya menyisakan 17 nama.
Dalam proses ini, anak-anak juga mengalami penyesuaian taktik. Mengingat Street Child World Cup menggunakan format mini soccer, ada adaptasi bermain yang harus dilewati.
"Template untuk Street Child World Cup ini menggunakan mini soccer, sementara basic anak-anak kita adalah futsal. Jadi, ada peningkatan beberapa keterampilan (upgrade skills) yang memang tidak ditemukan di futsal," ungkap Jessica.
Pada fase akhir, terpilihlah sepuluh anak terbaik yang kemudian ditempa lewat pemusatan latihan rutin bersama pelatih profesional bentukan Yayasan KDM. Sepuluh anak itu adalah Samuel Steven Siagian sebagai penjaga gawang, Izul Hamid (sayap), Rizki Firmansyah (sayap), Danar Saputra (sayap), Javasha (sayap), Mohamad Azriel Aliansyah (gelandang), Dino Siswanto (gelandang), Raehan Alfarezi (penyerang), Deno Mazra Rasyid (pemain bertahan), dan sang kapten, Aryo Topan Artha Gading. Paulus Lodwyk Jacobz juga dipilih untuk menjadi pelatih untuk sepuluh anak tersebut.
Menariknya, mereka tidak hanya diajari cara mencetak gol. Sepanjang proses pembinaan, anak-anak ini juga dibekali literasi digital, literasi keuangan, edukasi kesehatan reproduksi, hingga kemampuan berbicara di depan umum (public speaking). Tujuannya mulia yaitu menyiapkan mereka menjadi pendidik sebaya (peer educator) saat kembali ke komunitasnya. Sebuah investasi karakter yang berharga, bukan cuma untuk turnamen, tapi untuk masa depan mereka.
Gemblengan di luar lapangan itu langsung diuji saat mereka menginjakkan kaki di Street Child World Cup 2026. Langkah awal Indonesia tidak mulus. Menurut Jessica, fase kualifikasi menjadi momen paling mendebarkan sepanjang turnamen. Indonesia dipaksa menyerah 2-0 dari Pakistan yang merupakan runner-up edisi 2022 di Qatar. Tren negatif sempat berlanjut saat performa anak-anak belum maksimal kala bersua India.
Namun, titik balik itu akhirnya datang. Indonesia menemukan momentum untuk bangkit justru saat menumbangkan sang tuan rumah, Meksiko. Kemenangan itu menjadi katalis penting yang mendongkrak mentalitas bertarung anak-anak hingga sukses menembus partai puncak dan menantang Argentina. Di laga final, mental baja mereka benar-benar diuji. Meski sempat unggul lebih dulu, tim Argentina kemudian menyamakan kedudukan. Namun, anak-anak yang tergabung dalam tim Garuda Baru ini menolak menyerah dalam laga babak adu penalti, dan akhirnya mengunci gelar juara.
Di balik trofi yang berhasil dibawa pulang, ada satu catatan emas yang luput dari sorotan yaitu tingginya tingkat sportivitas anak-anak Indonesia. Jessica menceritakan betapa skuadnya panen Green Card (Kartu Hijau) dari pengadil lapangan. Sebagai informasi, regulasi Green Card ini baru pertama kali diuji coba pada edisi 2026 sebagai bentuk apresiasi wasit terhadap perilaku positif dan aksi fair play pemain di lapangan. Total, lima kartu hijau berhasil dikoleksi anak-anak Indonesia sepanjang turnamen. Sebuah bukti sahih bahwa mereka tidak hanya pulang membawa piala, tetapi juga kehormatan dan respek dari dunia.
Sepak bola, pada akhirnya, hanyalah sebuah jembatan. Bagi anak-anak ini, trofi juara dunia di Meksiko bukanlah garis finis, melainkan sebuah kick-off bagi pertandingan yang sesungguhnya yaitu masa depan mereka sendiri.
Langkah pascaturnamen telah dirancang. Juni besok, tujuh anak yang sempat tercecer di fase seleksi final akan terbang ke Malaysia untuk misi persahabatan dengan sebuah yayasan sosial perlindungan anak di Malaysia. Tak hanya itu, mereka juga akan menyapa anak-anak buruh migran Indonesia di sana. Sebuah perjalanan untuk membuka mata bahwa problem kemanusiaan dan identitas itu nyata, sekaligus pembuktian bahwa peran mereka tak kalah penting di luar lapangan. Setelah itu, rangkaian mentoring pengembangan diri (self-development) menanti hingga akhir tahun.
Anak-anak ini didorong untuk menyadari bahwa hidup tidak melulu soal menjadi atlet profesional di atas rumput hijau. Beberapa anak ada yang tetap ingin menembus PPOP (Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar) meski secara fisik mereka sempat kalah jauh saat laga uji coba. Ada pula Samuel, sang penjaga gawang yang kini sudah mulai magang menjadi asisten pelatih kiper di sebuah akademi, serta termotivasi untuk menjemput lisensi kepelatihannya sendiri. Namun, tidak sedikit dari mereka yang memilih jalan sunyi lainnya yaitu mengejar mimpi di bangku kuliah, membidik jurusan-jurusan umum yang jauh dari aroma lapangan hijau.
Semua pilihan itu divalidasi dengan adil. Yayasan KDM bahkan telah menyiapkan tabungan khusus yang bisa mereka cairkan untuk biaya pendidikan atau modal pengembangan diri. Tahun depan, ketika usia mereka menyentuh 18 tahun, anak-anak ini akan dilepas ke masyarakat sebagai individu yang matang. Mereka dipersiapkan untuk pulang ke komunitas masing-masing, menjadi pengurus forum anak, dan bertransformasi menjadi panutan serta pendidik sebaya bagi lingkungan tempat mereka tumbuh.
Tentu, jalan menuju ke sana tidak pernah linier. Selama setahun terakhir, dinamika tim begitu menguras emosi. Pelatih berlisensi AFC, Coach Lodi, harus memeras otak menghadapi anak-anak yang terbiasa hidup bebas di komunitas asal mereka dan bermain di turnamen antarkampung (tarkam). Ada momen di mana mereka berkonflik di sesi latihan, ada fase di mana bongkar pasang skuad terjadi karena beberapa anak terbaik tiba-tiba menghilang karena memilih mundur akibat enggan terikat aturan, atau terpaksa berhenti karena realitas hidup memaksa mereka kembali bekerja untuk membantu kondisi ekonomi keluarga.
Anak-anak ini memang belum sepenuhnya merdeka dari himpitan ekonomi. Namun, mereka yang bertahan hingga mengangkat piala di Meksiko adalah mereka yang beruntung memiliki satu hal yaitu restu penuh dan keikhlasan orang tua yang berdiri di belakang mereka.
Pada akhirnya, Street Child World Cup berhasil menunaikan tugas terbesarnya, yaitu membangun karakter manusia sebelum mereka bicara soal prestasi. Prestasi hanyalah bonus, tetapi pembentukan sebagai manusia adalah keabadian. Seperti sebuah pesan mendalam yang selalu ditanamkan kepada mereka sepanjang proses ini bahwa hidup, sama seperti grafik performa di lapangan, harus selalu bergerak nanjak. Ia tidak boleh turun, bahkan tidak boleh sekadar datar.
Trofi di lemari pajangan mungkin suatu saat akan berdebu, namun manusia-manusia baru yang lahir dari rahim jalanan ini akan terus berjalan, menantang kerasnya dunia dengan kepala tegak.
